Idul Fitri Saatnya Kita Semua Kembali Ke Fitrah
Januar March 10, 2026 12:30 PM

 

Oleh Menteri Agama, Nasaruddin Umar

TRIBUNJATIM.COM- Kenapa sering disebut Hari Raya Idul Fitri Kembali ke fitrah? Sebetulnya tidak salah juga karena pasca Ramadan seusai melakukan berbagai amaliah Ramadan, Tuhan akan membersihkan diri seseorang dari berbagai dosa yang telah dilakukan di masa lampau, sehingga pada saatnya. Dia mengembalikannya ke sebuah dunia baru, yang tak lain adalah dunia fithri, yang pernah dilewati manusia di masa kecilnya.

Dalam kamus Lisan ‘Arab, kamus bahasa Arab terlengkap (15 jilid), fitrah (fithrah) berasal dari akar kata fathara-fathran, berarti membelah, merobek, tumbuh, dan berbuka. Dari akar kata yang sama lahir kata fithrah berarti sifat pembawaan sejak lahir, seperti dalam ayat: Fithrah Allah al-ladzi fathara al-nasa ‘alaiha (Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, sebagaimana dijelaskan dalam ayat: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S. al-Rum/30:30).

Baca juga: Apa itu Lailatul Qadar? Ini Sejarah, Keutamaan dan Hikmah di Balik Malam Seribu Bulan

Kata Idul Fitri (‘id al-fithr) berarti kembali berbuka setelah sebulan penuh berpuas di siang hari bulan Ramadlan. Bisa juga berarti ‘id al-fthrah, kembali ke sifat bawaan kita sejak lahir, yaitu bersih dan suci, setelah sebulan penuh ditempa berbagai alamalan Ramadhan. Dari pengertian ini difahami bahwa yang bisa kembali ke fitrah ialah mereka yang telah melakukan berbagai macam upaya pembersihan dan penyucian diri melalui amaliah Ramdhan, seperti puasa, zakat, qiyamullail, i’tikaf, dan berbagai amal social seperti shadaqah, silaturrahim, memberi buka puasa, dan lain sebagainya.

Idul Fitri bisa dimaknai kita mudik ke kampung halaman biologis kita. Kita kembali makan dan minum serta berhubungan suami isteri. Kita juga mudik ke kampung halaman tempat kelahiran kita, tempat di mana orang tua kita di makamkan, tempat di mana kita pernah belajar pertama kali mengaji dan mengenal huruf, lalu kita merantau ke kota.

Sedangkan Idul Fitrah bisa dimaknai kita kembali ke jati diri kita yang paling orisinal dan genuine. Kita kembali kepada keluhuran hati nurani, kembali ke dalam suasana batin paling luhur dan lurus. Setelah sebulan penuh kita detraining secara spiritual maka sekarang kita memiliki energy spiritual baru. Semoga energy baru ini mampu memproteksi kita terhadap berbagai godaan Iblis, seperti kembali mengoleksi dosa-dosa langganan, kembali ringan tangan dan bermulut tajam.

Kita berharap selama sebulan penuh kita melakukan amaliah Ramadhan menimbulkan dampak positif pada oaring-orang terdekat kita. Bagaimana pembantu, supir, tukang kebun, satpan, dan karyawan kita merasakan perubahan di dalam diri kita, misalanya mereka merasakan tuan dan nyonyanya tidak lagi gampang marah, tidak lagi pelit, tidak lagi ringan tangan, tidak lagi kasar, dan tidak lagi sombong dan angkuh.
 
Tetangga juga merasakan adanya perubahan drastic seusai Ramadhan. Demikian pula suasana batin di kantornya muncul perubahan drastic pasca Ramadhan. Inilah sesungguhnya yang dinamakan Ramadhan Mubarak dan ramadhan mabrur.

Dalam pandangan tasawuf, fitrah berarti kembali ke jati diri yang paling asli. Jika seseorang betul-betul bersih dan pensucian dirinya diterima Allah Swt, maka yang bersangkutan bisa membuka berbagai tabir yang selama ini menghijab dirinya berupa dosa dan maksiyat. Ia akan mengalami penyingkapan (mukasyafah). Dengan demikian ia mempunyai kemampuan untuk mengakses alam gaib, minimal alam barzah, yaitu perbatasan antara alam syahadah dan alam gaib.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.