Minyak Mentah Dunia Melonjak, Ekonom Sarankan Pangkas Dana MBG: Kenaikan Harga BBM Opsi Akhir
Wahyu Gilang Putranto March 10, 2026 12:33 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Ekonom Abra Talattov dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), menilai pemangkasan dana program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat ini yang paling mungkin dilakukan di tengah melonjaknya harga minyak mentah dunia, daripada menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Adapun, sejak serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu di Iran, yang disusul dengan ditutupnya Selat Hormuz, harga minyak mentah Brent terus naik.

Saat ini, harga minyak dunia disebutkan tembus hingga US$ 100/barel. Namun, Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan belum ada gangguan dari aktivitas ekonomi dalam negeri imbas kenaikan harga minyak yang terjadi itu dan masih akan dipantau dalam satu bulan ke depan.

Purbaya juga menegaskan belum ada rencana menaikkan harga BBM subsidi. Evaluasi menyeluruh terhadap harga BBM baru akan dilakukan setelah sebulan ini berlalu.

Namun, jika Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sudah tidak sanggup lagi menanggung, Purbaya membuka kemungkinan adanya kenaikan harga BBM.

Sementara untuk MBG, Purbaya memastikan pemerintah tidak akan memangkas anggaran program MBG. Namun, efisiensi akan dilakukan pada pengeluaran yang dinilai tidak produktif. 

Menurut Purbaya, evaluasi akan difokuskan pada belanja yang tidak berkaitan langsung dengan kebutuhan utama program, seperti pengadaan perlengkapan tambahan yang tidak mendukung penyediaan makanan.

Namun, menurut Abra, pemangkasan dana MBG yang paling mungkin dilakukan daripada menaikkan harga BBM.

"Pemerintah tentu perlu melihat dari sisi pos belanja yang lain ya, termasuk dalam hal ini adalah MBG untuk dilakukan realokasi tambahan subsidi dan kompensasi energi," katanya, dikutip dari YouTube Kompas TV, Selasa (10/3/2026).

"Karena memang dari pos belanja-belanja yang lain yang paling memungkinkan dipangkas ataupun direlokasi adalah dari belanja MBG dan juga termasuk belanja barang dari kementerian lembaga yang lain. 

Lebih lanjut, kata Abra, anggaran MBG sebanyak Rp335 triliun tahun 2026 itu bisa direalokasi 10 persen-20 persen secara bertahap untuk menambah alokasi subsidi energi. 

Baca juga: Harga Minyak Dunia Meroket, Purbaya: Saya Lihat Belum Ganggu Aktivitas Ekonomi

Jika memang pada akhirnya hanya minyak mentah dunia itu masih terus melonjak, Abra mengatakan, baru opsi terakhir adalah menaikkan harga BBM.

"Harga minyak mentah masih akan terus meningkat di atas 120 dolar misalnya, itu nanti baru opsi yang kedua yaitu dengan melakukan penyesuaian harga (BBM). Jadi saya melihat penyesuaian harga BBM itu menjadi langkah terakhir," ucapnya.

"Langkah yang paling awal itu dilakukan efisiensi dan realokasi tadi, yang kedua juga tidak kalah penting adalah melakukan pengendalian distribusi BBM subsidi," tambah Abra.

Abra pun menjelaskan, tahun 2026 ini kuota BBM subsidi jenis Pertalite ada sekitar 29 juta kL. Kemudian untuk solar 18,6 juta kL.

"Itu kalau misalnya nanti distribusinya tidak mampu dikendalikan dan terjadi pertama shifting dari konsumen BBM non subsidi ke subsidi, kemudian terjadi kebocoran ataupun penimbunan. Nah, itu juga bisa memunculkan rIsiko lain."

"Jadi, artinya juga yang hal kedua yang penting adalah pengendalian dan mempercepat yang mekanisme distribusi BBM itu menjadi tertutup ataupun targeted, tidak terbuka lagi seperti sekarang agar betul-betul masyarakat bawah dan kelas menengah bawah itu yang berhak mengakses BBM subsidi," jelas Abra.

Setelah semua itu dilakukan, kata Abra, baru pemerintah punya opsi untuk melakukan penyesuaian harga BBM subsidi.

"Jadi betul-betul jangan sampai masyarakat bawah ini terkena pukulan yang berat dari adanya gejolak kenaikan harga BBM global," tegasnya.
    
Purbaya sebelumnya mengatakan, meski ada opsi kenaikan BBM, dia meminta masyarakat untuk tidak panik berlebihan. 

Ia berkaca pada pengalaman sejarah di mana Indonesia pernah melewati masa-masa yang lebih sulit.

"Kalau harga minyak 90-92 dolar, apakah itu kiamat buat kita? Enggak juga. Kita dulu pernah melewati keadaan di mana harga minyak sampai 150 dollar per barel," ungkapnya.

Purbaya pun menambahkan, meski pertumbuhan ekonomi mungkin akan sedikit melambat akibat guncangan harga energi, namun fondasi ekonomi Indonesia dinilai cukup kuat untuk tidak jatuh ke jurang krisis.

"Jadi kita punya pengalaman-pengalaman mengatasi hal itu," tandas dia.

Berikut daftar harga BBM Pertamina per tanggal 1 Maret 2026 berdasarkan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022 sebagai perubahan atas Kepmen No. 62 K/12/MEM/2020 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum yang masih eksistensi hingga hari ini, sebagai berikut: 

  • Pertalite: Rp10.000 di semua daerah di Indonesia.
  • Pertamax: Rp11.550-Rp12.900 tergantung pada kondisi di wilayah.
  • Pertamax Turbo: Rp13.100-Rp13.650 tergantung pada kondisi wilayah.
  • Pertamax Green 95: Rp12.900 di beberapa daerah di Indonesia.
  • Bio Solar: Rp6.800 di semua daerah di Indonesia.
  • Dexlite: Rp13.250-14.800 tergantung pada kondisi wilayah.
  • Pertamina DEX: Rp13.800-Rp15.100 tergantung pada kondisi wilayah.
  • Pertamax di Pertashop: Rp11.450-Rp12.800 tergantung pada kondisi wilayah.

(Tribunnews.com/Rifqah/Rizki)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.