Hari Raya Idulfitri Kembali ke Fitrah, Apa Maksudnya?
Dwi Prastika March 10, 2026 02:22 PM

Kembali ke Fitrah

Oleh: Menteri Agama Prof Dr H Nasaruddin Umar.

TRIBUNMADURA.COM - Kenapa sering disebut Hari Raya Idulfitri Kembali ke fitrah? Sebetulnya tidak salah juga karena setelah Ramadan seusai melakukan berbagai amaliah Ramadan, Tuhan akan membersihkan diri seseorang dari berbagai dosa yang telah dilakukan di masa lampau, sehingga pada saatnya Dia mengembalikannya ke sebuah dunia baru, yang tak lain Adalah dunia fitri, yang pernah dilewati manusia di masa kecilnya.

Dalam kamus Lisan Arab, kamus Bahasa Arab terlengkap (15 jilid), fitrah (fithrah) berasal dari akar kata "fathara-fathran," berarti "membelah," "merobek," "tumbuh," dan "berbuka."

Dari akar kata yang sama, lahir kata "fithrah" berarti sifat pembawaan sejak lahir, seperti dalam ayat: Fithrah Allah al-ladzi fathara al-nasa ‘alaiha (Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, sebagaimana dijelaskan dalam ayat: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS al-Rum/30:30). 

Kata Idul Fitri (‘id al-fithr) berarti kembali berbuka setelah sebulan penuh berpuasa di siang hari Bulan Ramadan.

Bisa juga berarti ‘id al-fthrah, kembali ke sifat bawaan kita sejak lahir, yaitu bersih dan suci, setelah sebulan penuh ditempa berbagai amalan Ramadan.

Dari pengertian ini difahami bahwa yang bisa kembali ke fitrah ialah mereka yang telah melakukan berbagai macam upaya pembersihan dan penyucian diri melalui amaliah Ramadan, seperti puasa, zakat, qiyamullail, iktikaf, dan berbagai amal sosial seperti sedekah, silaturahmi, memberi buka puasa, dan lain sebagainya.

Idulfitri bisa dimaknai kita mudik ke kampung halaman biologis kita.

Baca juga: Niat Iktikaf Ramadan 2026, Simak Syarat serta Tata Cara Pelaksanaannya

Kita kembali makan dan minum serta berhubungan suami istri. Kita juga mudik ke kampung halaman tempat kelahiran kita, tempat di mana orang tua kita dimakamkan, tempat di mana kita pernah belajar pertama kali mengaji dan mengenal huruf, lalu kita merantau ke kota.

Sedangkan Idul Fitrah bisa dimaknai kita kembali ke jati diri kita yang paling orisinal dan genuine.

Kita kembali kepada keluhuran hati nurani, kembali ke dalam suasana batin paling luhur dan lurus. Setelah sebulan penuh kita ditraining secara spiritual maka sekarang kita memiliki energi spiritual baru.

Semoga energi baru ini mampu memproteksi kita terhadap berbagai godaan iblis, seperti kembali mengoleksi dosa-dosa langganan, kembali ringan tangan dan bermulut tajam. 

Kita berharap selama sebulan penuh kita melakukan amaliah Ramadan menimbulkan dampak positif pada orang-orang terdekat kita.

Bagaimana pembantu, sopir, tukang kebun, satpam, dan karyawan kita merasakan perubahan di dalam diri kita, misalanya mereka merasakan tuan dan nyonyanya tidak lagi gampang marah, tidak lagi pelit, tidak lagi ringan tangan, tidak lagi kasar, dan tidak lagi sombong dan angkuh.

Tetangga juga merasakan adanya perubahan drastis seusai Ramadan. Demikian pula suasana batin di kantornya muncul perubahan drastis pasca Ramadan.

Inilah sesungguhnya yang dinamakan Ramadan Mubarak dan Ramadan Mabrur.

Dalam pandangan tasawuf, fitrah berarti kembali ke jati diri yang paling asli. Jika seseorang betul-betul bersih dan pensucian dirinya diterima Allah Swt, maka yang bersangkutan bisa membuka berbagai tabir yang selama ini menghijab dirinya berupa dosa dan maksiat.

Ia akan mengalami penyingkapan (mukasyafah). Dengan demikian ia mempunyai kemampuan untuk mengakses alam gaib, minimal alam barzah, yaitu perbatasan antara alam syahadah dan alam gaib. 

Orang yang diberi kesadaran mukasyafah bisa merasakan kedekatan diri dengan Tuhan dan para sahabat Tuhan seperti Nabi Muhammad dan shalihin lainnya.

Ia akan memiliki sahabat-sahabat spiritual sejati, sehingga ia tidak pernah merasa kesepian. Ia selalu hangat dengan cinta Tuhan. Semoga tahun ini kita betul-betul diberi kesadaran dan keinsafan penuh sehingga kita bisa mencicipi mukasyafah. Semoga kita tidak jatuh lagi di lumpur dosa dan maksiat. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.