Pengantin Al'Quran di Bulan Ramadan
Sudirman March 10, 2026 02:22 PM

Oleh : A. RAHMAN

Ketua PKC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia PMII Sulawesi Selatan  Periode 2005-2007

Surah Ar Rahman berisi penjelasan tentang keindahan nikmat Allah kepada hambanya yang melimpah.

Surah ini dijuluki sebagai pengantin Al Qur’an karena begitu indahnya kedalaman makna yang ada di dalamnya.

Ar Rahman salah satu sifat Allah yang maha pengasih dengan Rahmatnya yang luas meliputi seluruh mahluk tanpa terkecuali.

Keindahan ayat-ayat di dalam Surah Ar-Rahman dalam mengungkap nikmat pemberian Allah kepada hamba-Nya semakin terasa di dalam bulan Ramadan, bulan di mana Al-Qur’an diturunkan.

Di saat orang-orang beriman mengamalkan ibadah puasa yang diperintahkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, nikmat yang diungkap di dalam Surah Ar-Rahman semakin terasa adanya.

Diawali dengan nama Allah, yakni Ar-Rahman, yang merupakan sifat Allah Yang Maha Pengasih sebagai pertanda bahwa perjalanan hidup manusia akan dipenuhi dengan keindahan dari limpahan nikmat yang kemudian dimanfaatkan untuk diri manusia, dan selanjutnya dihidupkan dalam dinamika hidup yang diliputi suasana penuh rasa kasih sayang.

Suasana kasih sayang semakin terasa di bulan Ramadan, di mana dinamika hidup, baik di dalam keluarga, lingkungan, maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, diliputi dengan semangat persaudaraan dan kerinduan untuk menjalankan ibadah bersama, baik keluarga maupun lingkungan keluarga.

Keluarga saling merindukan untuk sahur dan buka puasa bersama, beribadah, dan menjalankan rutinitas dalam suasana penuh kekhusyukan, karena betapa indahnya nikmat rahmat Allah.

Saling membantu, menyantuni, dan mengasihi sesama akan semakin menguatkan keyakinan satu dengan yang lainnya bahwa betapa Allah Maha Pengasih.

Selanjutnya, Allah mengajarkan Al-Qur’an sebagai nikmat yang paling terasa indahnya bagi hamba yang berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Keindahan nikmat tuntunan Allah di dalam Al-Qur’an semakin terasa indahnya di bulan di mana Al-Qur’an diturunkan, dalam suasana kekhusyukan beribadah, kemudian dipenuhi dengan bacaan Al-Qur’an, baik di dalam salat maupun dalam tadarus dan tadabbur Al-Qur’an.

Allah memudahkan setiap hamba yang ingin mendapatkan pelajaran dari Al-Qur’an berupa kemudahan membaca, menghafal, mempelajari, memahami, dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an.

Dalam setiap ikhtiar mempelajari Al-Qur’an, seorang hamba akan merasakan keindahan nikmat Allah ketika lisan, hati, pikiran, pendengaran, dan penglihatan dituntun oleh Allah untuk menemukan hidayah dari Al-Qur’an.

Nikmat itu akan meninggalkan bekas berupa ilmu pengetahuan, hikmah, dan cinta yang akan menggerakkan hati untuk selalu cenderung mengingat Allah dan memandang kehidupan ini dari perspektif Al-Qur’an.

Nikmat yang paling indah bagi seorang hamba adalah ketika ia memastikan bahwa kehidupannya tidak lepas dari tuntunan Allah yang ada di dalam Al-Qur’an, kapan dan di mana pun berada.

Al-Qur’an yang terjaga dalam hafalan akan senantiasa menjaga kehidupan agar selalu dalam tuntunan Allah.

Selanjutnya, keindahan nikmat Allah digambarkan melalui penciptaan manusia dengan segenap proses yang menggambarkan betapa manusia yang menikmati pemberian Allah hanya bisa merasakan keindahan itu manakala ia sadar akan rahmat Allah dalam penciptaan manusia itu sendiri.

Ibadah puasa mengurai kehidupan manusia dengan menghentikan arus sumber penciptaan manusia dari unsur materi sejak imsak hingga waktu berbuka. Itu adalah ruang dan waktu yang sangat indah untuk merasakan unsur ruhaniyah di dalam diri manusia.

Ibadah puasa menggambarkan betapa indahnya penyatuan jiwa dan raga manusia ketika tiba saat berbuka, di mana unsur materi yang disediakan oleh Allah berupa hidangan buka puasa menjadi gambaran bahwa manusia hanya akan menemukan keindahan hidup dalam setiap makanan dan minuman yang dihidangkan oleh Allah.

Keindahan penciptaan manusia juga terasa ketika manusia hanya memberi ruang materi di dalam dirinya sebagai bekal dan kekuatan untuk menjalankan perintah Allah, layaknya ketika sahur.

Di situlah manusia terbiasa menahan diri dari unsur materi karena menjalankan perintah Allah, sehingga pada saat jiwa dan raga terpisah, sungguh itu adalah jalan menuju kepada rahmat Allah.

Selanjutnya, Allah mengajarkan kepada manusia bagaimana mengekspresikan kebenaran yang ada di dalam dirinya sehingga dari ungkapan-ungkapan itu manusia dapat mengetahui sejauh mana rasa yang ada di dalam dirinya tentang pengalaman-pengalaman hidup yang menjadi daya tarik.

Dari ungkapan-ungkapan ini, manusia saling menguatkan satu dengan yang lainnya dalam kebenaran.

Keindahan nikmat Allah juga diungkap dalam penciptaan matahari dan bulan, berikut alam raya beserta isinya.

Di mana Allah melanggengkannya dengan keseimbangan dan peringatan untuk tidak merusak keseimbangan itu sebagai petunjuk untuk melestarikan tatanan kehidupan sehingga seluruh makhluk hidup yang saling menguatkan dan mengokohkan satu dengan yang lainnya akan senantiasa menjadi panorama yang indah.

Ibadah siang dan malam di bulan Ramadan akan meningkatkan kemampuan akal sehat manusia untuk mengolah dan menata kehidupan di alam raya ini sebagai pemberian dari Allah untuk dijaga dan dilestarikan, sehingga keindahannya akan semakin terasa bagi kehidupan manusia.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Sebuah pertanyaan yang berulang sebanyak 31 kali merupakan pembuka interaksi manusia dengan Al-Qur’an untuk menemukan titik keindahan dalam setiap nikmat pemberian Allah.

Ibadah puasa mengajarkan manusia untuk menemukan fenomena di dalam kehidupan ini, di mana Allah yang mengatur kehidupan ini menjadi sangat indah dan nikmat bagi manusia sehingga tindakan dan perilaku merusak adalah bentuk pengingkaran akan nikmat Allah.

Salah satu nikmat yang Allah tunjukkan dalam surah yang sangat indah ini adalah peringatan Allah kepada manusia untuk tidak terjerumus ke neraka jahannam karena mengabaikan nikmat dan tuntunan Allah.

Hal ini sangat nyata adanya di bulan Ramadan, di mana pintu neraka ditutup karena tidak adanya ruang bagi siapa pun yang menjalankan ibadah di bulan Ramadan untuk melakukan kesalahan dan bahkan mengingkari nikmat Allah.

Keindahan “pengantin Al-Qur’an” semakin memuncak pada penjelasan tentang surga yang menjadi ganjaran bagi hamba yang taat menjalankan perintah Allah.

Di mana di bulan Ramadan pintu surga dibuka sehingga suasana surga sangat terasa di bulan di mana orang-orang beriman berpuasa menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan puasa. Semestinya mereka merasakan lapar dan haus, akan tetapi yang terasa justru kebahagiaan dan ketenangan dalam menjalankan perintah Allah.

Suasana surga di bulan Ramadan terasa saat menjelang berbuka puasa. Semua makanan dan minuman tersedia di mana-mana sebagai hidangan langsung dari Allah untuk hamba-Nya yang dilayani dengan rahmat-Nya yang luas, meliputi segala sesuatu.

Hati seseorang yang sedang berpuasa tidak henti-hentinya mengingat Allah sehingga melihat dan mendengar keindahan jagad raya sebagai rahmat Allah yang terhampar menebar keindahan tiada tara.

Seorang hamba yang sadar sedang menjalani hidup dalam rahmat Allah akan menemukan keindahan dalam setiap momentum perjalanan hidupnya, di mana manusia selalu merasa diperhatikan dan dijaga oleh Allah sehingga apa pun yang terjadi ia selalu merefleksikan dirinya pada sebuah pertanyaan indah yang ada di dalam surah ini.

Pertanyaan yang membawa hati dan pikiran pada kesadaran penuh bahwa manusia adalah keindahan dalam keindahan yang sedang berjalan menuju kepada Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

 

 

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.