BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Suara mesin jahit sederhana itu terus beradu dengan bunyi kendaraan yang lalu lalang di kawasan jalan Kenanga Atas, Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah, Selasa (10/3/2026).
Tepat di depan salah satu ruko kawasan perniagaan Kota Koba tersebut, terlihat seorang wanita duduk dengan posisi sedikit membungkuk.
Sebuah meteran baju berwarna kuning turut di kalungkannya, menjuntai di bagian leher hingga bagian bawah tubuhnya.
Kedua tangannya nampak sibuk mengatur irama jarum dan benang ke sebuah pakaian yang berada pada atas mesin jahit.
Sesekali kedua kakinya mengayun pelan, namun justru membuat jarum-jarum itu bergerak lebih cepat.
Momen menjelang perayaan Hari Raya Idulfitri seperti sekarang ini memang membuat Biya atau akrab disapa Mak Aini lebih sibuk dari hari-hari biasanya.
Di sela pekerjaannya, Mak Aini mengisahkan telah menekuni jasa permak jahit segala jenis pakaian sejak tahun 2019 lalu.
Menurutnya, momentum sebelum Lebaran memang membuatnya kebanjiran orderan, karena banyaknya permintaan untuk mengecilkan atau memotong baju dan celana baru.
"Pasti naik jumlah, kalau untuk pelanggan menjelang lebaran seperti ini. Sehari rata-rata bisa di atas 10 sampai 25 buah, baju mugkin," kata Biya.
Biya menyebutkan, dengan upah antara Rp 15 ribu sampai Rp 25 ribu per pakaian yang dikerjakan, ia bisa meraup untung hingga Rp 200 ribu setiap harinya.
"Kalau untuk memotong bagian bawah, seperti celana itu cuma Rp 15 ribu. Tapi kadang ada bawahan rok wanita yang lebar, terus pakai renda-renda itu Rp 25 ribu ongkosnya," ujarnya.
Dirinya mengaku, keahliannya menjahit memang didapatkan secara turun menurun dari sang nenek serta ayahnya, yang dulu juga merupakan seorang penjahit.
"Nenek dan bapak itu penjahit juga. Bapak itu memang hanya penjahit rumahan, jadi sejak kecil saya sering mainan mesin jahit," tuturnya.
Meski begitu Biya mengaku tidak menyangka jika justru bisa ikut terjun sebagai seorang penjahit sederhana.
Padahal awalnya, ia hanya ingin mengisi waktu luang usai menyelesaikan pekerjaan rumah.
"Awalnya kan hanya mau bantu-bantu suami cari pendapatan, ikut orang waktu itu. Lama-lama kemudian jalanin sendiri, buka sendiri," terangnya.
Dikatakan Biya, profesi permak jahit ini terus bertahan di tengah pesatnya perkembangan zaman, karena masih banyaknya pelanggan yang membutuhkan jasanya.
"Kan walaupun orang beli online, terus dikirim, biasanya kan tetap butuh permak agar baju atau celana yang dibeli pas atau sesuai saat dipakai," kata dia.
Terakhir, ia merasa sudah sangat bersyukur bisa menjalankan bisnis jasa kecil-kecilan ini untuk memperoleh penghasilan tambahan bagi keluarga.
"Alhamdulillah lah pokoknya, bisa jadi sumber kita mencari rezeki untuk anak kita juga kan," pungkasnya.
(Bangkapos.com/Rifqi Nugroho)