Diskes Kaltim Catat 126 Kasus Campak, Balita Tak Divaksin Jadi Kelompok Paling Rentan
Samir Paturusi March 10, 2026 05:09 PM

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur mencatat ratusan kasus campak terjadi di Benua Etam sejak awal tahun ini. 

Ratusan kasus tersebut tersebar di sepuluh kabupaten dan kota, dengan sebagian besar pasien telah mendapatkan penanganan medis dan dinyatakan sembuh.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kaltim, Fitnawati, menjelaskan bahwa laporan kasus tersebut berasal dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan di daerah.

“Dari Januari sampai saat ini tercatat ada 126 kasus campak di Kalimantan Timur yang tersebar di 10 kabupaten dan kota,” ujarnya, Selasa (10/3/2026).

Meski data sebaran secara umum sudah terhimpun, Fitnawati menyebutkan bahwa pihaknya masih perlu melakukan verifikasi mendalam untuk memetakan jumlah kasus di setiap kabupaten dan kota.

Baca juga: 62 Kasus Suspek Campak di Samarinda, Dinkes: Belum Ada yang Positif

Namun, dia bilang, meskipun terdapat sedikit peningkatan tren kasus dibandingkan tahun lalu, angka tersebut masih mengikuti pola peningkatan secara nasional.

Berbagai langkah antisipasi sudah dijalankan, mulai dari menyebarkan surat edaran, memperkuat edukasi melalui kader kesehatan, hingga menggiatkan promosi kesehatan dari tingkat puskesmas hingga rumah sakit. 

Upaya ini dilakukan agar masyarakat lebih peka dan deteksi dini bisa segera dilakukan. Fitnawati juga menekanakan pentingnya kewaspadaan orang tua.

"Kasus campak ini kebanyakan terjadi pada balita, terutama yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Gejala yang biasanya muncul adalah demam tinggi yang kemudian diikuti bercak merah pada kulit," ungkapnya.

Selain mengajak orang tua untuk lebih aktif mengenali gejala demam dan bercak merah, Fitnawati juga menegaskan pentingnya menjaga daya tahan tubuh anak dengan gizi seimbang dan pemberian vitamin A. 

Sebab, kata dia, jika disepelekan campak bisa memicu risiko kesehatan lain yang lebih berat.

"Jika campak tidak ditangani dengan baik, penyakit ini bisa menimbulkan komplikasi, misalnya infeksi saluran pernapasan (ISPA) atau penyakit lain," tambahnya.

Lebih lanjut, Fitnawati menjelaskan daerah dengan mobilitas tinggi seperti Balikpapan dan Samarinda memang mencatat kasus lebih banyak. Namun, hal ini dipengaruhi oleh kepadatan penduduk yang signifikan. 

Untuk memutus rantai penularan, pihaknya terus mengimbau orang tua agar disiplin mengikuti jadwal imunisasi wajib, yaitu saat anak berusia 9 bulan, 18 bulan, dan ketika duduk di bangku kelas 1 SD.

​Pihaknya pun memastikan bahwa akses vaksinasi di seluruh wilayah Kaltim sudah terjamin ketersediaannya.

"Program vaksinasi ini gratis karena merupakan program nasional dari pemerintah pusat yang dilaksanakan hingga ke daerah," tegasnya.

Baca juga: POPULER KALTIM: Campak Terdeteksi di Balikpapan dan Samarinda dan Desakan Pembangunan Flyover Rapak

Sayangnya, lanjut Fitnawati, capaian imunisasi dasar lengkap di Kaltim saat ini masih berada di kisaran 70 persen, atau masih cukup jauh dari target ideal nasional sebesar 95 persen. 

Rendahnya kesadaran orang tua untuk datang ke posyandu menjadi tantangan utama yang harus dihadapi di lapangan.

​"Sering kali tenaga kesehatan sudah siap diposyandu, tetapi masyarakat yang datang untuk memantau pertumbuhan anak dan melakukan imunisasi masih belum maksimal," pungkasnya. (*)

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.