Program MBG dengan Pemberian Menu Kering Ternyata Masih Picu Siswa Mokel saat Puasa
Ignatia Andra March 10, 2026 05:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Siswa di Kabupaten Pati ternyata masih kerap mokel meskipun sudah dihimbau berpuasa saat bulan ramadan.

Ternyata, salah satu penyebab atau pemicu batal puasa itu karena menerima paket makanan Program MBG.

Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah di Kabupaten Pati selama bulan Ramadhan memicu persoalan baru.

Persoalan inipun ditanggapi oleh NU cabang Kabupaten Pati belakangan.

Siswa mokel

Program yang bertujuan memenuhi gizi siswa tersebut dilaporkan membuat sejumlah siswa membatalkan puasa atau "mokel" setelah menerima paket makanan di sekolah.

“Walaupun sudah diupayakan menu kering, ternyata anak-anak masih terpengaruh untuk mokel,” ujar Ketua PCNU Pati, Yusuf Hasyim, Sabtu (7/3/2026), dikutip TribunJatim.com via Kompas.com, Selasa (10/3/2026).

Yusuf menjelaskan, fenomena siswa membatalkan puasa ini ditemukan di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, hingga SMA.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pihak sekolah dan orangtua terhadap kedisiplinan ibadah anak-anak selama bulan suci.

Sebagai dampaknya, sejumlah yayasan dan lembaga pendidikan di Pati memutuskan untuk tidak menerima distribusi MBG selama Ramadan demi menjaga kelancaran ibadah siswa.

Baca juga: Viral Terpopuler: Sosok Bupati Rejang Lebong Kena OTT KPK Hingga Jadwal THR ASN, TNI dan Polri

Usul Dialihkan Jadi Paket Sembako Mentah

Menyikapi fenomena tersebut, PCNU Pati mengusulkan agar skema program MBG selama Ramadhan dievaluasi.

Yusuf menyarankan agar bantuan makanan siap saji dialihkan menjadi paket bahan pokok mentah atau sembako, seperti beras, telur, dan bahan makanan lainnya yang bisa diolah oleh orangtua di rumah masing-masing.

“Kalau makanan cepat saji khawatirnya langsung dimakan. Kalau sembako bisa dimasak di rumah,” jelas Yusuf.

Ia juga mengusulkan agar frekuensi pembagian paket mentah tersebut bisa dilakukan dua hingga tiga hari sekali atau seminggu sekali dengan menyesuaikan pagu anggaran yang tersedia.

Pihak BGN serahkan ke sekolah

Namun, usulan ini masih menunggu keputusan lebih lanjut dari Badan Gizi Nasional (BGN).

Sementara itu, Koordinator MBG wilayah Pati, Ahmad Khoirul Basar, menegaskan bahwa pihak sekolah memang memiliki kewenangan untuk menolak program tersebut selama bulan puasa.

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tetap menjalankan distribusi seperti biasa bagi sekolah yang bersedia, namun bagi yang keberatan cukup melampirkan surat pernyataan resmi.

Baca juga: Pernah Dipenjara, Residivis Kasus Narkoba Jombang Tak Kapok, Masih Geluti Kejahatan yang Sama

Marwah program MBG

Program ini dirancang untuk menyediakan makanan bergizi secara gratis terutama bagi anak-anak sekolah, balita, serta kelompok rentan.

Ide utamanya adalah bahwa kualitas pendidikan dan kemampuan belajar anak tidak hanya ditentukan oleh kurikulum atau fasilitas sekolah, tetapi juga oleh kondisi gizi mereka.

Dengan memastikan anak mendapatkan asupan nutrisi yang cukup setiap hari, pemerintah berharap dapat meningkatkan konsentrasi belajar, kesehatan, serta perkembangan fisik dan kognitif generasi muda.

Selain aspek kesehatan, marwah MBG juga berkaitan dengan strategi pembangunan jangka panjang di Indonesia.

Pemerintah memandang masalah gizi seperti stunting, kekurangan protein, dan ketimpangan akses makanan sehat sebagai hambatan besar bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Melalui program ini, negara berupaya melakukan intervensi langsung pada tahap paling awal kehidupan manusia, sehingga di masa depan Indonesia memiliki generasi yang lebih sehat, produktif, dan kompetitif secara global.

Dengan kata lain, MBG bukan hanya program bantuan makanan, tetapi juga investasi sosial dan ekonomi untuk memperkuat fondasi pembangunan nasional.

Di sisi lain, program ini juga memiliki dimensi ekonomi kerakyatan.

Konsep pelaksanaannya sering dikaitkan dengan pelibatan petani, peternak, nelayan, dan usaha kecil sebagai pemasok bahan pangan untuk kebutuhan dapur program tersebut.

Dengan demikian, selain meningkatkan gizi anak-anak, MBG juga diharapkan dapat menggerakkan ekonomi lokal, menciptakan rantai pasok pangan domestik yang lebih kuat, serta memperluas pasar bagi produk pertanian dan peternakan dalam negeri.

Kombinasi antara peningkatan gizi, pembangunan manusia, dan penguatan ekonomi lokal inilah yang sering dipandang sebagai “marwah” atau ruh utama dari program MBG.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.