Diet Sampah Makanan di Bulan Ramadan
GH News March 10, 2026 09:10 PM
Jakarta -

Sejatinya puasa di bulan Ramadan bukan hanya untuk menahan lapar, haus dan nafsu saja. Namun lebih jauh umat muslim diajarkan banyak hal seperti meningkatkan empati dan solidaritas terhadap saudara-saudara kita yang tidak mampu, melatih kedisiplinan serta meningkatkan ketaatan terhadap segala yang diwajibkan serta dilarang oleh Allah SWT. Harapannya, selepas Ramadan, umat muslim dapat menjadi pribadi yang lebih baik, termasuk dalam perilaku menghasilkan sampah.

Manfaat Ramadan bukan hanya dirasakan secara spiritual saja, namun juga membawa manfaat secara ekonomi bagi masyarakat. Berdasarkan data BPS, pertumbuhan belanja masyarakat pada Ramadan 2024 meningkat 20%-30% dibandingkan bulan biasa dengan pertumbuhan utama pada sektor konsumsi (makanan dan minuman).

Secara kuantitatif nilai belanja masyarakat, berdasarkan data Kementerian Koordinator Perekonomian, belanja masyarakat di Ramadan 2025 meningkat dari tahun sebelumnya dengan total nilai belanja mencapai Rp 248,1 Triliun. Dampak positifnya, peningkatan perekonomian juga dirasakan langsung oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Sejalan dengan aktifitas ekonomi yang meningkat selama bulan Ramadan, terdapat trade off berupa peningkatan jumlah sampah. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2025, volume sampah makanan mengalami peningkatan antara 10% hingga 20% selama bulan Ramadan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Peningkatan tersebut karena terjadi peningkatan aktifitas masyarakat ketika berbuka puasa, sahur serta hari raya Idulfitri.

Peningkatan sampah sebesar 10%-20% merupakan peningkatan yang signifikan karena jumlah sampah yang dihasilkan sangat besar. Berdasarkan data yang dikeluarkan Bappenas (2025) di dalam Kajian Lingkungan Hidup Strategis Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025-2045, jumlah sampah di Indonesia pada tahun 2025 mencapai 63 juta ton/tahun.

Secara komposisi dan sumber sampah, berdasarkan Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), jenis sampah terbesar adalah sampah makanan sebesar 39,75% dan sumber sampah terbesar adalah rumah tangga 54,69%. Artinya dari 63 juta ton sampah, sekitar 25 juta ton sampah atau 2 jutaan sampah per bulan merupakan sampah makanan dan 34,4 juta sampah bersumber dari rumah tangga.

Jika melihat data volume, komposisi dan sumber sampah sangat berkaitan dengan aktifitas di bulan Ramadan, yaitu makanan yang berkaitan dengan aktivitas larangan makan dan minum sejak subuh hingga magrib serta aktifitas masyarakat yang lebih banyak di rumah. Jika merujuk periode makan, seharusnya volume sampah makanan dapat berkurang karena semakin terbatasnya waktu makan dan minum umat muslim. Namun demikian berdasarkan data sampah tersebut justru berbanding terbalik yaitu volume sampah makanan naik, dengan perkiraan sampah makanan di bulan Ramadan dapat mencapai 2,2 juta sampai 2,4 juta sampah makanan. Jika premis tersebut, maka bulan Ramadan dapat menjadi ajang latihan untuk dapat menahan hawa nafsu dalam menyiapkan makanan dan minuman sehingga dapat mengurangi sampah makanan.

Suatu keadaan yang ironis ketika melihat volume sampah makanan yang besar namun di sisi lain banyak saudara kita yang berada pada kondisi kurang mampu. Selain itu, apabila kita dapat mengurangi sampah makanan dengan membagikan makanan ketika masih sangat layak santap maka kita dapat membantu saudara-saudara kita yang kesulitan memperoleh makanan. Lebih jauh, kita juga dapat membantu Pemerintah untuk mengurangi stunting.

Manusia pada umumnya membutuhkan makanan sebesar 1.900-2.700 Kalori per hari, tergantung dari jenis kelamin, berat badan dan aktifitas. Kebutuhan makanan tersebut, jika dikonversi ke berat makanan berkisar antara 1,2 Kg-1,8 Kg per hari. Apabila diasumsikan rata-rata berat makanan yang dibutuhkan manusia sebesar 1,5 Kg, maka apabila kita menyalurkan makanan layak dan tidak membiarkan menjadi sampah ketika makanan masih layak santap maka dapat memberi makan dua kali sehari selama satu bulan untuk sekitar 24 ribu sampai 26 ribu orang.

Filosofi puasa di bulan Ramadan yang mendorong kita untuk menjaga hawa nafsu dan saling berbagi akan menjadi momentum bagi umat muslim untuk mulai mengurangi sampah makanan dan menumbuhkan kepedulian kepada sesama. Pengendalian hawa nafsu juga akan mendorong kita tidak lapar mata terhadap makanan sehingga dapat membuat atau membeli makan secukupnya. Harapannya, pengendalian hawa nafsu selama satu bulan penuh dapat melatih kita untuk mengurangi sampah makanan melalui diet sampah makanan.

Apabila hal tersebut dapat dilakukan maka bulan Ramadan dapat menjadi arena latihan yang efektif untuk diet sampah makanan atau mengurangi sampah makanan. Diet sampah makanan dan program berbagi akan membawa banyak manfaat, bukan hanya membantu mencegah tekanan terhadap lingkungan melalui sampah makanan yang meningkat namun juga mendapatkan pahala yang besar. Menurut HR Tirmizi "Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga".

Beberapa langkah dapat dilakukan untuk melakukan diet sampah makanan. Pertama, mempersiapkan masakan dan minuman secukupnya sehingga tidak menyisakan makanan yang berpotensi menjadi sampah. Apabila terdapat sisa makanan yang masih layak santap, segera berbagi dengan tetangga atau masyarakat yang membutuhkan.

Kedua, sampah makanan juga berpotensi dihasilkan dari retail makanan, hotel dan warung makanan. Potensi sampah dari pihak-pihak tersebut berjumlah besar sehingga untuk menyalurkan makanan kepada yang membutuhkan menjadi tantangan tersendiri. Perlu dibangun jejaring komunitas untuk menyalurkan makanan layak santap. Contohnya retail makanan, hotel dan warung makanan bekerja sama untuk menyalurkan makanan layak santap ke pihak yang membutuhkan dengan target penerima yang terorganisir sehingga pembagian merata dan ongkos kirim akan lebih ringan.

Semoga Ramadan tahun ini membawa perubahan perilaku yang lebih bijak dalam memasak, mengkonsumsi dan membeli makanan serta dapat membantu saudara-saudara kita untuk mendapatkan akses makanan yang sehat dan bergizi. Selain itu, diet sampah makanan juga dapat mengurangi jumlah sampah di TPA dan pada akhirnya dapat mengurangi pengeluaran Pemerintah untuk pengelolaan sampah. Akhirnya, bulan Ramadan akan membawa manfaat, baik secara spiritual dan lingkungan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.