WARTAKOTALIVE.COM – Di tengah eskalasi militer yang kian memanas, Republik Islam Iran melancarkan serangan balik di lini intelijen.
Kementerian Intelijen Iran dilaporkan CNN, berhasil meringkus 30 individu, termasuk seorang warga negara asing, yang dituduh menjalankan jaringan spionase masif untuk Amerika Serikat dan Israel.
Penangkapan dramatis yang berlangsung di Provinsi Khorasan Razavi ini menjadi bukti nyata bahwa Teheran memperketat pengamanan di seluruh lapisan.
Baca juga: Iran Ancam Bunuh Trump, Larijani: Hati-Hati Agar Anda Tidak Dieliminasi!
Para tersangka, yang digambarkan sebagai 'operator dan tentara bayaran media', diduga kuat menyuplai data sensitif terkait posisi militer, pergerakan pasukan, hingga detail fasilitas pertahanan Iran kepada pihak asing melalui negara perantara di kawasan Teluk.
Seorang warga negara asing yang tertangkap di wilayah timur laut Iran menjadi perhatian khusus.
Ia dituduh menjadi penghubung vital yang menyalurkan informasi rahasia kepada intelijen Barat.
Penangkapan ini mempertegas narasi bahwa Iran kini sedang dalam posisi siaga satu untuk membasmi elemen-elemen sabotase yang dinilai menjadi perpanjangan tangan 'musuh Zionis dan Amerika'.
Seorang pejabatmenyebutkan bahwa salah satu dari mereka yang ditangkap merupakan warga negara asing, namun kewarganegaraannya tidak diungkapkan.
Ia dituduh melakukan kegiatan spionase untuk dua negara Teluk atas nama Amerika Serikat dan Israel.
Menurut IRNA, tersangka tersebut ditangkap di Provinsi Khorasan Razavi, wilayah timur laut Iran.
Otoritas setempat menuduhnya mengumpulkan informasi militer dan keamanan yang kemudian disalurkan kepada dua negara Teluk tersebut, yang selanjutnya membagikannya kepada Washington dan Israel.
Selain itu, pejabat Iran juga menuduh salah satu tersangka lain memiliki hubungan dengan kelompok militan yang beroperasi di wilayah perbatasan tenggara Iran.
Orang tersebut diduga mengumpulkan informasi intelijen mengenai posisi dan pergerakan pasukan militer serta aparat keamanan, termasuk data tentang fasilitas pertahanan Iran.
IRGC: Trump di Ambang Frustrasi
Sejalan dengan penangkapan tersebut, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kembali menegaskan dominasi mereka di kawasan.
Juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Mohammad Ali Naeini, menyatakan bahwa Presiden AS, Donald Trump, kini berada dalam kondisi frustrasi berat.
Baca juga: Kilang Minyak Bahrain Terbakar Usai Serangan Iran, Konflik Timur Tengah Memanas
Menurut IRGC, retorika Trump yang mengeklaim kemenangan hanyalah manipulasi untuk menutupi kenyataan pahit di lapangan.
"Setelah menderita kekalahan memalukan, Trump mencoba melarikan diri dari tekanan psikologis dengan kebohongan," ujar Naeini, Selasa (10/3/2026).
IRGC mengeklaim pasukan AS dan Israel telah mundur lebih dari 1.000 kilometer dari zona konflik karena takut akan gempuran rudal dan drone presisi Iran.
Kendali Penuh di Selat Hormuz
IRGC juga memperingatkan bahwa mereka kini memegang kendali penuh atas dinamika kawasan Timur Tengah.
Dengan kemampuan memblokade total ekspor minyak ke kapal-kapal AS maupun Israel, Iran memastikan bahwa merekalah yang akan memegang pena penentu kapan perang ini berakhir.
"Angkatan bersenjata kami kini memegang kendali penuh. Iran-lah yang akan menentukan akhir dari agresi ini," pungkas Naeini.
Di tengah situasi yang semakin mencekam, Iran menunjukkan ketegasan bahwa mereka tidak hanya mampu bertahan secara militer, tetapi juga sangat waspada terhadap ancaman internal spionase yang mencoba melumpuhkan mereka dari dalam.