Hikmah Ramadan: Menggapai Spirit Zakat
Tita Rumondor March 11, 2026 04:47 AM

Oleh Menteri Agama  Prof Dr H Nasaruddin Umar, MA

 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Salah satu keutamaan bulan Ramadan di dalamnya disyariatkan zakat, terutama zakat fitrah.

Zakat fitrah diwajibkan kepada semua orang, termasuk bayi yang baru lahir sebelum dibaca khutbah Idul Fitri 1 Syawal.

Zakat secara litral berarti membersihkan, mensucikan.

Secara popular diartikan sebagai bagian dari harta yang wajib dikeluarkan untuk diadreskan kepada golongan-golongan (ashnaf) tertentu, seperti fakir miskin, yatim piatu, keperluan di jalan Allah, orang terlilit utang, muallaf, dan pemerdekaan budak.

Baca juga: Hikmah Ramadan: Kembali ke Fitrah Oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar

Zakat bagian dari lima Rukun Islam selain ikrar syahadat, shalat, puasa, dan haji.

Spirit zakat ialah semangat untuk berebagi kepada mereka yang berhak (mustahiq). 

Secara ril zakat mengurangi harta kita tetapi secara spiritual justru menjadikan keseluruhan milik dan proverti kita menjadi milik utama.

Sepanjang harta dan proverti yang kita miliki belum dibayarkan zakatnya dengan benar maka sepanjang itu kita mengadupsi milik orang lain menumpang di dalam harta kita dan itu berpotensi menimbulkan masalah dunia-akhirat.

Baca juga: Hikmah Ramadan: Silaturahim oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar

Karena itu, zakat harus dipandang sebagai kewajiban rutin kita, seperti halnya shalat dan puasa.

Zakat tidak diragukan lagi akan mendatangkan keuntungan dan kejutan luar biasa bagi yang bersangkutan. 

Tidak ada orang yang jatuh miskin karena bayar zakat.

Jangankan zakat yang merupakan kewajiban, shadaqah, infaq, jariyah, waqaf, hibah, dan berbagai jenis pengeluaran lainnya, akan mendatangkan keajaiban luar biasa.

Baca juga: Hikmah Ramadan: I’tikaf oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar

Allah menjanjikan orang yang rajin mengeluarkan infaq, shadaqah, waqaf, jariyah, dan zakat sebagai orang yang beruntung (al-faizun/al-muflihun). 

Sebaliknya orang-rang yang tidak membayat zakat diancam hukuman di dunia dan di akhirat.

Zakat mendatangkan keajaiban. Orang-orang yang rajin membayar zakat Allah akan memurahkan rezkinya, berkah pendapatannya, bersih hatinya, tenang jiwanya, lurus pikirannya, mulia akhlaknya, skinah rumah tangganya, shaleh/shalehah anak-anaknya, enteng jodoh keluarganya, terjaga dari mushibah.

Baca juga: Hikmah Ramadan: Menangis

Kalaupun ada masalah atau mushiba yang menimpanya akan dipilihkan yang paling minim dampaknya.

Demikianlah janji-janji Tuhan yang dihimpaun dari beberapa ayat dan hadis.

Kita perlu berhati-hati dengan zakat ini. 

Banyak di antara kita terlalu fikih oriented di dalam memahami zakat.

Sesungguhnya zakat itu bukan hanya untuk membebaskan kemiskinan tetapi yang paling penting membersihkan jiwa kita yang selama ini kotor, meluruskan jalan pikiran kita yang selama ini bengkok, melunakkan jiwa kita yang selama ini keras, meneguhkan langkah kita yang selama tidak tegar, dan memotifasi kita untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.

Baca juga: Hikmah Ramadan: Menggapai Pribadi Qana’ah

Zakat tidak dirancang untuk menjadi sokoguru perekonomian dan selanjutnya membebaskan masyarakat dari kemiskinan.

Apa arti 2,5 persen dari total pendapatan kita.

Alangkah miskin dan pelitnya kita kalau pengeluaran kita kepada agama kita hanya berupa zakat.

Itulah sebabnya di samping zakat juga dikenal ada pranata lain seperti shadaqah, jariyah, infaq, waqaf, hadiyah, hibah, ’usyr, khumus, qurban, walimah, luqathah, dan bentuk-bentuk transaksi lain yang dibenarkan di dalam syari’ah Islam.

Kalukita tidak bisa melakukan itu semua, minimal zakat harta dan penghasilan kita yang kita perbaiki. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.