Alat dari batu menjadi salah satu tonggak pertama teknologi pada kehidupan manusia purba. Alat batu banyak digunakan untuk berburu, memotong daging, hingga digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, bagaimana dengan manusia purba yang tersebar di Asia?
Menurut catatan sejarah, perkakas batu pertama yang dibuat manusia purba datang dari 3 jutaan tahun lalu di wilayah Afrika. Namun, di wilayah Asia, tepatnya Asia Timur, penggunaan alat diperkirakan baru ada pada masa 160 ribuan tahun lalu.
Berdasarkan studi yang terbit di jurnal Nature Communications pada 27 Januari 2026, terdapat sejumlah bukti arkeologi di situs Xigou, China, berupa perkakas batu yang tidak sederhana dan berusia 160.000-72.000 tahun. Penemuan ini dilakukan oleh tim peneliti internasional yang dipimpin oleh Akademi Ilmu Pengetahuan China.
Bukti Arkeologi yang Menentang Asumsi Lama
Hasil studi ini menentang asumsi lama terkait hominin awal di Asia Timur. Studi baru mengungkap bahwa manusia purba di sana, lebih cepat beradaptasi dan inovatif dari yang diperkirakan sebelumnya.
Pada masa yang sama di wilayah tersebut juga ditemukan hominin berotak besar seperti Homo longi, Homo juluensis, dan kemungkinan hadir juga Homo sapiens.
"Para peneliti telah berpendapat selama beberapa dekade bahwa sementara hominin di Afrika dan Eropa barat menunjukkan kemajuan teknologi yang signifikan, hominin di Asia Timur mengandalkan tradisi perkakas batu yang lebih sederhana dan konservatif," ujar Dr Shixia Yang, pemimpin ekspedisi dari Institut Paleontologi Vertebrata dan Paleoantropologi (IVPP), dikutip dari Phys.org.
Temuan ini merupakan bantahan atas klaim manusia purba di Tiongkok yang konvensional dari waktu ke waktu. Hal ini disampaikan oleh salah satu penulis studi dan Direktur Pusat Penelitian Evolusi Manusia Australia di Universitas Griffith, Profesor Michael Petraglia.
"Analisis terperinci dari situs tersebut menunjukkan bahwa penghuni hominin menggunakan metode pembuatan alat batu yang canggih untuk menghasilkan serpihan kecil dan alat-alat yang kemudian digunakan dalam berbagai aktivitas," ucapnya.
Adapun bukti arkeologi yang paling menonjol dalam temuan ini adalah perkakas batu yang memiliki tangkai, yakni jejak awal yang mengungkap perkakas komposit di Asia Timur. Peralatan tersebut adalah rangkaian elemen batu yang diberi gagang atau poros.
Penciptaan alat tersebut melibatkan perencanaan yang cukup rumit, keterampilan, serta cara untuk mengoptimalkan kinerja alat.
"Keberadaan mereka menunjukkan bahwa hominin Xigou memiliki tingkat fleksibilitas dan kecerdasan perilaku yang tinggi," ujar Dr Jian-Ping Yue dari Institut Paleontologi Vertebrata dan Paleoantropologi (IVPP).
Evolusi Manusia di Asia Timur
Situs Xigou memiliki lapisan yang berasal dari 90.000 tahun lalu, temuan ini menambah daftar keanekaragaman hominin yang menjelajah Tiongkok di masa lalu. Penemuan fosil manusia purba beserta perkakasnya di situs tersebut membuktikan bahwa hominin di masa itu memiliki pemikiran yang kompleks dan maju.
Hal ini sejalan dengan keberadaan Homo juluensis, manusia purba berotak besar yang juga ditemukan pada situs Xujiayao dan Lingjing oleh peneliti lain.
Tim peneliti menyimpulkan bahwa temuan fosil perkakas komposit di situs Xigou merupakan bentuk evolusi manusia purba di Asia Timur. Hasil ini membuktikan bahwa kemampuan berpikir dan keterampilan teknologi hominin di kawasan Asia, tidak kalah dengan mereka yang berada di Eropa dan Afrika
"Strategi teknologi yang terlihat pada perkakas batu kemungkinan memainkan peran penting dalam membantu populasi hominin beradaptasi dengan lingkungan yang berfluktuasi yang menjadi ciri periode 90.000 tahun di Asia Timur," ujar Profesor Petraglia.
"Bukti yang muncul dari Xigou dan situs-situs lain menunjukkan bahwa teknologi awal di Tiongkok mencakup metode inti yang telah dipersiapkan, alat-alat yang diolah ulang secara inovatif, dan bahkan alat-alat pemotong besar, yang menunjukkan lanskap teknologi yang lebih kaya dan kompleks daripada yang sebelumnya diakui," timpal Dr Yang.







