Dua siswi SMA Kharisma Bangsa ini menemukan potensi tempe dari biji trembesi untuk mengatasi diabetes. Tempe biji trembesi ternyata mengandung zat antihiperglikemik dibandingkan tempe kedelai.
Berawal dari rasa gusar bahwa neneknya yang penderita diabetes yang tak diizinkan dokter makan tempe kedelai biasa, Wini Naura Inarsih terpantik melakukan riset tempe dari bahan lain.
"Jadi sedikit cerita, nenek saya penderita diabetes dan kemarin sempat saya pulang ke kampung. Terus kata dokternya nggak dibolehin untuk makan tempe biasa. Terus kebetulan juga nenek saya penyuka tempe banget, sampai tante saya yang merawat nenek itu bilang 'nenek harus makannya dengan tempe, nasinya harus perfect serving," kata Wini saat menceritakan risetnya di SMA Kharisma Bangsa, Pondok Cabe, Tangerang Selatan pada Minggu (8/3/2026) lalu, ditulis Rabu (11/3/2026).
Bersama temannya Queena Belva Ayra Maulana, Wini akhirnya memutuskan untuk riset tempe dari bahan lain selain kedelai. Pilihannya jatuh pada biji trembesi (Samanea saman). Kenapa biji trembesi yang dipilih kedua siswi kelas 11 ini, apakah terinspirasi dari alam atau dari jurnal?
"Pohonnya sendiri itu sangat familiar, waktu itu ada di dekat rumah Wini. Dan buahnya itu dia kayak kacang polong, terus di atasnya ada bijinya, terus ini bijinya aku sama bunda sendiri di rumah bikin tempe seperti itu. Kita baca-baca jurnal, dan belum ada yang membuat (tempe) biji trembesi ini, dan menggabungkan teknologi fermentasi, sehingga teknologi fermentasi itu bisa membangunkan senyawa bioaktif," demikian jawab Queena.
Mereka lalu membuat tempe dengan ragi tempe yang dibeli dari toko online. Mereka mendapati senyawa bioaktif yang bisa 'dibangkitkan' dengan fermentasi trembesi adalah: flavonoid, tanin dan saponin.
Setelah berhasil menjadikan fermentasi biji trembesi menjadi tempe, mereka kemudian memberikan dan mengujinya kepada mencit alias tikus putih yang biasanya jadi hewan uji laboratorium (Mus musculus). Mencit itu sudah diinduksi diabetes.
"Saat itu kami beli 30 mencit putih, lalu kami ujikan di laboratorium FK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta," ujar Queena.
Selama beberapa bulan, mereka menengok mencit di laboratorium hewan dipandu para dokter hewan, juga pakar peternakan. Uji labnya untuk phytochemical alias fitokimia, menurut mereka, hanya satu hari. Sedangkan pembacaannya dilakukan mereka sendiri selama beberapa hari.
Hasilnya Berpotensi Mengatasi Diabetes
Setelah melalui serangkaian pengujian, didapati diabetes pada mencit menurun. Hasil uji dibandingkan dengan mencit yang diberikan obat-obat diabetes yang bisa dibeli di situs online.
"Untuk hasilnya kita bandingkan dengan obat standar, yang bisa dibeli di e-commerce. Jadi kita bandingkan itu, standar medikasinya, dengan tempe trembesi milik kami, itu hasilnya lebih tinggi tempe biji trembesi daripada obat standar," jelas Wini.
Namun, Wini dan Queena menegaskan hasil ini baru berhasil saat diujikan ke mencit. Untuk ke manusia, butuh uji klinis dulu yang prosesnya mungkin masih panjang.
Setelah mendapati hasil ini, proyek ilmiah mereka kemudian didaftarkan dalam ajang Indonesia Science Project Olympiad (ISPO) 2025 yang sudah terkurasi Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Hasilnya, proyek Wini dan Queena memenangkan medali Emas dalam ISPO 2025 yang baru diumumkan Februari 2026 lalu.
Wini dan Queena mengungkapkan hasil ini mereka dapatkan setelah ikut beberapa lomba serupa sebelumnya dan gagal.
"Alhamdulillah, perasaan kami sebenarnya tidak terlalu expect, karena kita sempat mendaftar ke beberapa lomba sebelumnya dan fail, sebelum ini sempat lolos, sampai akhirnya di sekolah ini, Alhamdulillah tidak disangka bahwa kami lolos dan mendapatkan medal, itu yang senang sekali dan kebetulan kami memiliki one same passion," tutur Wini.
Riset Lanjutan
Untuk riset lanjutan, baik Wini dan Queena akan melakukan uji perbandingan antara mencit yang diberikan tempe biji trembesi dan tempe kedelai biasa.
"Jadi, untuk selanjutnya, kami berharap untuk membuat uji perbandingan dengan tempe kedelai lalu kami bandingkan, seberapa efektifnya, daripada uji tempe trembesi itu. Jadi, agar lebih meyakinkan, bahwa uji tempe trembesi lebih efektif, daripada uji tempe kedelai," jelas mereka yang berancang-ancang mengikutkan risetnya pada ISPO 2026 ini dengan uji terbaru.
Selanjutnya, menyadari bakat dan passion mereka, baik Wini dan Queena akan melanjutkan studi di bidang biologi, kedokteran hingga biomedis.
Bentuk Bimbingan Sekolah
Kepala Sekolah SMA Kharisma Bangsa Muhammad Budiawan SSi, MPd, Gr, menjelaskan bagaimana bimbingan yang diterapkan kepada siswa-siswi yang mengikuti ISPO dan lomba-lomba lainnya.
"Dan prosesnya tentu saja hal pertama yang kita lakukan adalah memilih kira-kira permasalahan apa yang paling urgent untuk diselesaikan. Kemudian siswa yang datang untuk bisa mengurai permasalahan tersebut. Sebutkan tiga yang paling urgent untuk diselesaikan, dan kemudian mengurai tiga solusinya yang paling mungkin untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Yang feasible dan juga secara biaya itu bisa diproduksi dengan benar," demikian urai Pak Awan, demikian panggilan Muhammad Budiawan di sekolah.
Setelah itu kemudian masuk ke tahap preliminary research. Siswa dibantu guru pembimbing melakukan penelitian sebentar, plus studi literatur hingga menuliskan proposal proyek sains.
"Dan kemudian menyimpulkan kira-kira apa saja yang diperlukan, baik alat untuk penelitian, termasuknya antara instrumen yang dikasih untuk pekerjaan pengujian. Setelah itu pelaksanaan penelitian dengan pembimbingan," urai Pak Awan.
Tentu, tidak hanya siswa yang berbakat sains saja yang difasilitasi ikut lomba ISPO dan Olimpiade Sains Nasional (OSN). Bagi siswa yang berbakat di bidang bahasa, seni hingga olahraga juga difasilitasi.
"Bagi siswa yang suka menulis puisi, desain-desain seperti ini dan juga seni, bahkan olahraga juga kami fasilitasi," ujar Pak Awan.
Mereka yang berbakat seni dan sastra difasilitasi ikut lomba Olimpiade Seni dan Bahasa Indonesia (Osebi) 2026.







