Pelanggan Patahkan Tusuk Sate, Pedagang Usul Denda Rp86 Ribu per Tusuk!
GH News March 11, 2026 08:11 PM
Jakarta -

Kontroversi terjadi setelah seorang pedagang makanan bertanya pada netizen via Facebook. Ia yang ingin menagih biaya tambahan justru menuai kritik.

Harga bahan baku yang kerap naik membuat banyak penjual makanan harus memutar otak menyesuaikan harga. Berbagai alasan berusaha ditemukan agar kenaikan harga masuk akal dan tidak memberatkan pelanggan.

Namun ada kebijakan dari penjual makanan yang justru menuai kontroversi. Dilansir dari Weird Kaya, (10/3/2026), seorang pedagang lok lok di Malaysia memicu perdebatan di media sosial.

Ia mengeluhkan kebiasaan pelanggan yang mematahkan tusuk bambu usai makan. Lok lok sendiri merupakan salah satu jajanan kaki lima populer di Asia Tenggara, terutama di Malaysia.

Pelanggan Patahkan Tusuk Sate, Pedagang Usul Denda Rp86 Ribu per Tusuk!Pedagang lok lok di Malaysia meminta saran netizen apakah ia layak menaikkan harga khusus untuk tusuk sate atau tidak. Foto: Weird Kaya

Makanan ini terdiri dari berbagai bahan seperti bakso ikan, sosis, sayuran, atau tahu yang ditusuk menggunakan bambu. Kemudian makanan yang dipilih pelanggan akan dimasak dengan cara dicelupkan ke dalam kuah panas seperti konsep steamboat.

Penggunaan tusuk sate atau bambu yang digunakan itu yang kemudian dikeluhkan oleh pedagang lok lok. Ia merasa kesal dengan kebiasaan pelanggan yang merusak bambu, padahal tusuk bambu tersebut juga ada harganya.

"Banyak pelanggan merusak tusuk lok lok setelah makan. Jika kami meminta mereka untuk membayar biaya kerusakan 20 Ringgit Malaysia (Rp 86.000) per tusuk apakah masuk akal?" tulis penjual lok lok dalam unggahannya di akun Facebook pribadi.

Alih-alih mendapat simpati, unggahan tersebut justru memicu kritik dari netizen. Banyak yang mengaku mematahkan tusuk bambu dilakukan untuk mencegah tusuk tersebut dipakai ulang oleh pedagang.

Pelanggan Patahkan Tusuk Sate, Pedagang Usul Denda Rp86 Ribu per Tusuk!Tak disangka pertanyannya justru menuai kritik dari netizen. Foto: Weird Kaya

"Apakah tusuk ini bisa digunakan kembali?" tanya salah satu netizen yang tak merasa bingung dengan keluhan pedagang tersebut.

Beberapa pengguna media sosial mengungkapkan mereka khawatir soal kebersihan tusuk bambu yang sudah dipakai pelanggan lain digunakan kembali. Sebab tusuk bambu yang berpori dapat menyerap kotoran atau mikroorganisme jika dipakai berulang kali.

Di satu sisi, pedagang menganggap tusuk bambu sebagai perlengkapan usaha yang bernilai. Jika pelanggan mematahkannya, maka mereka harus mengeluarkan uang lebih untuk membeli yang baru.

Namun di sisi lain, konsumen menilai bahwa harga makanan yang mereka bayar seharusnya sudah termasuk biaya tusuk bambu yang digunakan. Sehingga, mereka merasa tidak nyaman jika tusuk bekas pelanggan lain dipakai kembali.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.