TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA – Kawasan Timur Tengah kini benar-benar berada di ambang kiamat regional.
Di tengah saling balas serangan rudal antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat dan Israel, nasib menegangkan kini tengah dialami oleh armada kapal laut Indonesia.
Hingga Rabu (11/3/2026), dua kapal tanker raksasa kebanggaan milik PT Pertamina dilaporkan masih terjebak di tengah pusaran zona perang Selat Hormuz.
Baca juga: Timur Tengah Membara! Iran Tolak Mentah-mentah Gencatan Senjata AS, Putin Mendadak Turun Tangan
Jalur pelayaran energi paling vital di dunia itu kini diblokade, menyusul hancurnya kilang minyak Bahrain dan ultimatum mengejutkan dari Garda Revolusi Iran bagi siapa saja yang ingin melintas.
Pertamina International Shipping (PIS) mengonfirmasi bahwa armada mereka sempat berada tepat di tengah area konflik. Beruntung, dua dari empat kapal tanker Pertamina berhasil meloloskan diri dari blokade maut Selat Hormuz.
"Dua kapal tercatat telah beranjak dari area konflik, yaitu PIS Rinjani dan kapal PIS Paragon," kata Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, Selasa (10/3/2026).
Namun, dua kapal lainnya, yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, saat ini masih tertahan. Terkait kondisi anak buah kapal (ABK) yang terjebak di zona merah tersebut, Pertamina memastikan bahwa semuanya terpantau selamat dan terus diawasi.
"Kapal-kapal ini sedang menunggu situasi aman untuk dapat keluar melalui Selat Hormuz," kata Vega.
Lebih lanjut ia menegaskan, "Keduanya dalam kondisi aman. PIS terus melakukan pemantauan intensif 24/7 secara real-time terhadap seluruh posisi armada, kru dan pekerja. Ketiganya dalam kondisi aman."
Untuk menjamin keselamatan mereka dari ancaman rudal yang melintas di udara, langkah mitigasi ketat terus dilakukan.
"Kami juga menjalin koordinasi erat dengan otoritas maritim dan pihak berwenang setempat guna memastikan keamanan serta keselamatan seluruh kru kapal dan muatan yang dibawa," kata Vega.
Mengenai muatan yang dibawa, Vega menjelaskan bahwa, "Kapal Gamsunoro melayani kargo milik pihak ketiga (third party). Sementara, VLCC Pertamina Pride sedang dalam misi mengangkut pasokan minyak mentah (light crude oil) untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri."
Mengenal 2 Kapal Tangguh Kebanggaan Indonesia yang Terjebak
Dua kapal yang saat ini sedang menunggu lampu hijau di Selat Hormuz bukanlah kapal sembarangan. Keduanya adalah aset strategis penyokong energi nasional.
Kapal pertama, Very Large Crude Carrier (VLCC) Pertamina Pride, adalah raksasa lautan yang pertama kali berlayar dari Jepang pada 9 Februari 2021.
Kapal ini diresmikan langsung oleh Menteri BUMN Erick Thohir pada April 2021 sebagai tonggak kemandirian energi Indonesia.
Sementara kapal kedua, MT Gamsunoro, memiliki rekam jejak yang tak kalah heroik. Bukan kali ini saja Gamsunoro menghadapi maut di Timur Tengah.
Pada Januari 2024 lalu, kapal ini sempat menjadi sorotan media asing karena nyalinya yang berhasil melintasi Laut Merah—yang saat itu tengah memanas dihujani serangan kelompok Houthi—hingga akhirnya selamat memuat kargo di Arab Saudi dan lolos ke Terusan Suez.
2. Situasi Makin Panas: Kilang Minyak Bahrain Terbakar Dihantam Iran
Tertahannya armada Pertamina ini tak lepas dari memburuknya situasi di kawasan Teluk Persia. Pada Senin (9/3/2026), Iran melancarkan serangan dahsyat ke Bahrain yang memicu kebakaran hebat di kawasan Kilang Minyak Sitra.
Asap hitam tebal membumbung tinggi menutupi langit industri Sitra, melumpuhkan operasi kilang yang menjadi pusat bahan bakar negara tersebut.
Serangan ini diyakini sebagai aksi balas dendam Teheran atas serangan udara AS dan Israel yang sebelumnya menghantam kilang minyak di ibu kota Iran pada 7 Maret lalu.
Posisi Bahrain yang merupakan sekutu dekat AS dan menjadi pangkalan Armada Kelima Angkatan Laut AS membuat negara itu menjadi sasaran empuk pembalasan.
Analis keamanan memperingatkan bahwa saling serang fasilitas energi ini bisa memicu gejolak pasar minyak dunia yang tak terkendali.
3. Ultimatum Mengejutkan Iran: Usir Dubes AS & Israel Jika Ingin Lewat Selat Hormuz
Di tengah lumpuhnya lalu lintas Selat Hormuz sejak akhir Februari lalu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) tiba-tiba muncul di televisi pemerintah pada Selasa (10/3/2026) dengan membawa tawaran yang menggemparkan dunia.
Iran menyatakan bahwa mereka bersedia membuka kembali Selat Hormuz—yang merupakan urat nadi sepertiga perdagangan minyak laut dunia—namun dengan satu syarat mutlak: negara-negara yang kapalnya ingin melintas dengan aman harus segera mengusir duta besar Amerika Serikat dan Israel dari wilayah mereka.
Ultimatum ini menjadi buah simalakama bagi banyak negara importir energi, tak terkecuali bagi kapal-kapal yang kini masih menanti jalan keluar.
Keputusan ini dinilai analis bukan sekadar strategi militer, melainkan manuver diplomatik tingkat tinggi dari Teheran untuk memaksa dunia mengisolasi Washington dan Tel Aviv di panggung internasional.
Kini, dunia menahan napas, menanti bagaimana nasib rantai pasok energi global di tengah pusaran ego para adidaya.