Usai Dikritik Rocky Gerung Gegara Tukar Rupiah Ambrol, Menkeu Purbaya Juga 'Dirujak' Netizen TikTok
Putra Dewangga Candra Seta March 11, 2026 09:32 PM

 

SURYA.co.id – Melemahnya nilai tukar rupiah di tengah gejolak global kembali memicu perdebatan.

Ketika pemerintah masih menunjukkan optimisme terhadap kondisi ekonomi nasional, pengamat politik Rocky Gerung justru mengingatkan publik agar bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Peringatan itu muncul di saat rupiah sempat menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS, sementara konflik geopolitik di Timur Tengah turut menekan pasar global.

Rupiah Sempat Tembus Rp17.019 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sempat mengalami tekanan signifikan pada awal pekan ini.

Pada pembukaan perdagangan Senin, 9 Maret 2026, rupiah tercatat sempat berada di level Rp17.019 per dolar AS.

Angka tersebut menjadi salah satu titik terlemah rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

Meski demikian, pada perdagangan hari berikutnya rupiah terlihat mulai menunjukkan penguatan.

ANGGARAN AMAN - Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui wartawan beberapa waktu lalu. Menkeu Purbaya sudah mengantisipasi dampak perang AS-Israel Vs Iran terhadap anggaran RI.
ANGGARAN AMAN - Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui wartawan beberapa waktu lalu. Menkeu Purbaya sudah mengantisipasi dampak perang AS-Israel Vs Iran terhadap anggaran RI. (Tribunnews.com)

Tekanan terhadap mata uang nasional terjadi di tengah ketidakpastian global, terutama akibat konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memicu kenaikan harga minyak dunia.

Di saat yang sama, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya mengungkapkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Februari 2026 mengalami defisit sebesar Rp135,7 triliun.

Meski begitu, pemerintah tetap menilai perekonomian Indonesia masih bergerak dalam tren akselerasi.

Rocky Gerung: Indonesia Hadapi Dampak Berbahaya Konflik Global

Menanggapi situasi tersebut, Rocky Gerung menilai Indonesia perlu lebih waspada terhadap dampak konflik internasional yang sedang berlangsung.

Menurutnya, perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran merupakan faktor global yang penuh ketidakpastian dan dapat berdampak serius pada perekonomian.

“Semua hal yang akhirnya ada di depan mata kita menunjukkan bahwa kita harus bersiap untuk yang terburuk. Bersiap yang terburuk artinya memanfaatkan apa yang tersisa untuk dimaksimalkan,” ujar Rocky, dikutip SURYA.co.id dari kanal YouTube miliknya, Senin.

Kritik terhadap Optimisme Pemerintah

SINDIRAN NYELEKIT - Rocky Gerung meberikan Respon Nyelekit ke Raja Juli dan Zulkifli Hasan Soal Banjir Sumatera.
SINDIRAN NYELEKIT - Rocky Gerung meberikan Respon Nyelekit ke Raja Juli dan Zulkifli Hasan Soal Banjir Sumatera. (Tribunnews.com)

Dalam pernyataannya, mantan dosen Universitas Indonesia tersebut juga mengkritik optimisme yang sebelumnya disampaikan Menteri Keuangan Purbaya.

Menurut Rocky, optimisme tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata di lapangan.

“Sampai kemarin, seolah-olah ada optimisme pada Purbaya. Tapi itu optimisme yang palsu. Kalau dikatakan data-data makronya baik, iya,” ujar Rocky.

Ia menegaskan bahwa indikator makroekonomi tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi masyarakat secara langsung.

Rocky menjelaskan bahwa data makro merupakan kumpulan dari berbagai data mikro yang bersifat agregatif. Karena itu, kondisi makro yang terlihat baik belum tentu menunjukkan bahwa kondisi ekonomi masyarakat juga baik.

“Begitu cara membaca statistik kaitan makro dengan mikro dalam upaya melihat daya tahan ekonomi kita. Terlepas dari itu, ini adalah persoalan trust (kepercayaan). Percaya enggak publik terhadap yang diucapkan oleh menteri siapa pun dari dalam istana?” kata dia.

Rocky juga menyoroti pentingnya kejujuran para pejabat negara dalam menyampaikan kondisi ekonomi kepada publik.

Menurutnya, masyarakat sulit membangun kepercayaan jika informasi yang disampaikan pemerintah dianggap tidak transparan.

Purbaya Akui Dapat Cibiran di TikTok

Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku mendapat kritik keras dari warganet di media sosial, terutama di platform TikTok.

Kritik tersebut muncul setelah nilai tukar rupiah melemah hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS.

"Dari situ sih kita masih lumayan, walaupun di TikTok saya dimaki-maki orang katanya, 'hey Pak Purbaya, menteri keuangan, kerjanya apa aja lu, tuh rupiah lihatin,' tapi kita menilai harus dengan fair, apa yang terjadi dibandingkan juga dengan seluruh negara di dunia seperti apa," kata Purbaya saat jumpa pers APBN KiTa di Kantor Kementerian Keuangan RI, Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Pemerintah Klaim Rupiah Masih Lebih Stabil

Meski mendapat kritik, Purbaya menegaskan bahwa pelemahan rupiah masih relatif lebih baik dibandingkan mata uang beberapa negara lain di kawasan.

Berdasarkan data pemerintah, depresiasi rupiah sejak konflik Amerika Serikat–Israel melawan Iran hanya mencapai sekitar 0,3 persen.

Angka tersebut dinilai lebih kecil dibandingkan pelemahan mata uang di sejumlah negara Asia Tenggara, seperti Malaysia yang tercatat sekitar 0,5 persen dan Thailand sekitar 1,6 persen.

"Kalau Anda lihat itu, nilai tukar [rupiah terhadap] dolar AS, depresiasinya sejak perang [Israel-AS vs Iran], kita lihat terdepresi sebesar 0,3 persen. Jauh lebih baik dari mata uang negara-negara di sekeliling kita. Malaysia -0,5 persen, Thailand -1,6 persen, dan lain-lain. Jadi kita masih lumayan," ucap Purbaya.

Ia menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia tetap terjaga berkat kebijakan fiskal dan moneter yang dinilai masih stabil di tengah tekanan global.

"Jadi bukan lihat levelnya aja, tapi kita lihat berapa dampak ke pelemahannya. Kita masih oke, artinya kita masih dianggap menjaga kebijakan fiskal dan moneter yang baik dan fondasi ekonomi kita yang baik," tandas dia.

Optimisme Purbaya: Ekonomi RI Berakselerasi

Kemarin Purbaya buka suara perihal anjloknya nilai tukar rupiah dan turunnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Purbaya menyebut pelemahan nilai tukar rupiah dan IHSG berdasarkan pandangan negatif dari ekonom mengenai ekonomi Indonesia tak sesuai kondisi yang ada.

"Rupiah 17.000, IHSG anjlok karena sebagian teman-teman ekonom bilang katanya kita sudah mulai resesi, seperti 1998 lagi ya gitulah daya beli sudah hancur. Tidak seperti itu," ucap Purbaya setelah meninjau pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin, (9/3/2026).

Dia menegaskan bahwa ekonomi Indonesia tidak mengalami resesi. Justru sebaliknya, ekonomi Indonesia sedang berekspansi dan berakselerasi.

"Ekonomi sedang ekspansi, daya beli kita jaga mati-matian dan boro-boro krisis. Jangankan krisis, resesi saja belum, melambatnya saja belum, kita masih ekspansi, masih akselerasi," tuturnya. 

Oleh karena itu, Purbaya menyatakan bahwa investor tak perlu khawatir karena pemerintah menjaga fondasi ekonomi Indonesia dengan baik. Menurutnya, pemerintah sudah berpengalaman menangani sejumlah krisis ekonomi yang pernah terjadi.

"Kita sudah tahu krisis 1998 apa penyebabnya. Kita terapkan di 2008-2009 ketika global jatuh kita tumbuh bagus kan. 2020 kita jaga juga ekonominya dengan kebijakan yang pas. Jadi teman-teman enggak usah takut," ungkapnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.