TRIBUN-PAPUA.COm, JAYAPURA — Anggota Komite III DPD RI Arianto Kogoya mendesak pemerintah pusat maupun daerah untuk memberikan perhatian serius terhadap pengembangan perguruan tinggi swasta di wilayah Papua Pegunungan.
Hal ini ditegaskan Arianto usai melakukan kunjungan kerja dalam rangka reses dan serap aspirasi di Kabupaten Jayawijaya pada 4–5 Maret 2026.
Senator dari Papua Pegunungan itu menilai keberadaan institusi pendidikan tinggi di wilayah tersebut sangat krusial dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) bagi generasi muda Orang Asli Papua (OAP).
Dalam kunjungannya ke Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Abdi Wacana Wamena dan Kampus Arastamar Wamena, Arianto menerima berbagai masukan mengenai keterbatasan fasilitas dan operasional kampus.
Baca juga: Kesehatan Mental Orang Papua Menjadi Masalah Serius, Arianto Kogoya: Seribu Warga Berobat di RSJ
Ia menyoroti banyaknya perguruan tinggi di Papua Pegunungan masih sangat bergantung pada dana Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa.
Mengingat kondisi ekonomi mayoritas orang tua mahasiswa di wilayah pegunungan yang terbatas, ketergantungan ini dinilai menghambat upaya percepatan pengembangan institusi pendidikan.
“Kondisi ini tentu cukup berat, karena sebagian besar orang tua mahasiswa di Papua memiliki keterbatasan ekonomi. Jika hanya mengandalkan UKT, maka pengembangan kampus akan berjalan sangat lambat,” ujarnya secara tertulis kepada Tribun-Papua.com, Rabu (11/3/2026).
Arianto menegaskan kampus-kampus di wilayah tersebut, seperti STKIP Abdi Wacana yang berada di bawah naungan YPPGI, memiliki sejarah panjang dan telah melahirkan banyak tenaga pendidik serta aparatur pemerintahan di Tanah Papua.
Demikian pula dengan Kampus Arastamar yang telah memperluas jangkauan pendidikan bagi anak-anak Papua melalui program studi umum, seperti Pendidikan Guru PAUD dan Sosiologi, di samping pendidikan teologi.
Keberagaman program studi ini dipandang sebagai langkah positif yang harus didukung penuh.
“Indonesia Emas 2045 akan dijawab oleh generasi emas Papua yang kita didik hari ini. Jika kita benar-benar bagian dari bangsa Indonesia, maka sudah semestinya pendidikan di Tanah Papua mendapat perhatian serius,” ujar senator peraih suara terbanyak Papua Pegunungan pada Pemilu 2024 itu.
Lebih lanjut, Arianto Kogoya menyoroti peran perguruan tinggi swasta di Papua Pegunungan menjadi tumpuan utama bagi mahasiswa dari berbagai kabupaten di wilayah tersebut.
Namun, ia menyayangkan perhatian pemerintah yang dirasa masih sangat terbatas bagi pengembangan kualitas institusi, baik dari sisi sarana prasarana maupun peningkatan kualitas dosen.
Padahal, kualitas tenaga pengajar dan fasilitas pendukung adalah kunci utama untuk meningkatkan mutu lulusan agar memiliki daya saing.
"Kami mengawal dan mengingatkan pemerintah agar terus memberikan perhatian bagi dunia pendidikan di Tanah Papua, khususnya di wilayah Papua Pegunungan,” ujarnya.
Dana Otsus harus tepat sasaran
Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, Arianto mengusulkan agar dana Otonomi Khusus (Otsus) yang dialokasikan untuk Papua dapat menyasar secara lebih luas ke pengembangan lembaga pendidikan tinggi, tidak terbatas pada pendidikan dasar dan menengah.
Ia menilai dorongan sumber daya dan anggaran bagi pendidikan tinggi merupakan investasi strategis yang menentukan keberhasilan pembangunan daerah di masa depan.
Arianto menekankan pembangunan SDM melalui pendidikan yang berkualitas harus menjadi prioritas nasional guna menjawab tantangan Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, kualitas generasi muda Papua hari ini adalah cerminan dari keseriusan negara dalam memberikan akses pendidikan yang layak bagi daerah-daerah terpencil.
Tanpa intervensi kebijakan dan dukungan pendanaan yang memadai, potensi generasi muda di wilayah pegunungan akan sulit teroptimalkan.
“Kami menerima berbagai masukan dan aspirasi dari pihak kampus yang tentunya akan kami bawa dan tindak lanjuti di tingkat pusat agar mendapat perhatian pemerintah,” ungkapnya.
Arianto mengajak seluruh elemen, baik pemerintah, gereja, maupun masyarakat, untuk bersinergi dalam memperkuat institusi pendidikan tinggi.
Ia berharap, ke depannya perguruan tinggi di Wamena dapat bertransformasi menjadi pusat pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan berkualitas demi kemajuan Tanah Papua.
Baca juga: Senator Arianto Kogoya Ajak Mahasiswa Papua Tinggalkan Pola Pikir PNS: Berani Jadi Pengusaha
"Tinggal bagaimana ke depan terus dikembangkan, baik dari segi kualitas dosen maupun sarana dan prasarana pendidikan,” pungkasnya.
Sekadar diketahui, Papua Pegunungan berada di wilayah adat La Pago yang terdiri dari kabupaten-kabupaten di wilayah pegunungan tengah Papua sisi timur.
Ada delapan kabupaten yang masuk dalam wilayah DOB Papua Pegunungan.
Kedelapan kabupaten itu adalah; Tolikara, Lanny Jaya, Jayawijaya, Mamberamo Tengah, Yalimo, Nduga, Yahukimo, dan Pegunungan Bintang.
Adapun Arianto Kogoya pada pemilihan umum legislatif 2024, meraih 341.084 suara dan diangkat menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia 2024–2029.
Sementara itu, Dana Otonomi Khusus (Otsus) Papua, berdasarkan UU No. 2/2021, memprioritaskan pendidikan dan kesehatan untuk meningkatkan kesejahteraan Orang Asli Papua (OAP).
Sebanyak 30 persen dana dialokasikan untuk pendidikan (beasiswa, sarana sekolah), dan 20 persen untuk kesehatan (puskesmas, layanan gratis), dengan fokus pada percepatan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. (*)