Muhasabah Kedua Puluh Dua: Laylatul Qadr, Adalah Malam yang Sempit
Ansar March 12, 2026 03:22 AM

Oleh: Salman Ahmad

TULISAN kali ini, ingin menyinggung sedikit tentang malam laylatul Qadr.

Sebagian besar dari isi tulisan ini, merupakan resume dari tafsir surah al qadr yang bersumber dari tafsir, Imam Ibn Katsir. 

Di penghujung bulan Ramadhan, ada satu malam yang misterius namun sarat janji, yaitu Lailatul Qadar.

Malam-malam ini merupakan puncak dari seluruh perjalanan spiritual seorang Muslim selama sebulan penuh.

Al-Qur’an menggambarkan kemuliaannya dengan kalimat yang sangat tajam; “malam itu lebih baik daripada seribu bulan.”

Jika dihitung, seribu bulan setara dengan sekitar delapan puluh tiga tahun empat bulan.

Sebuah rentang waktu yang bahkan mungkin lebih panjang daripada sisa usia kita di dunia.

Disini kita dihadiahi, sebuah kesempatan yang luar biasa.

Satu malam nilainya dapat melampaui hampir seluruh umur manusia.

Kata Al-Qadr memiliki beberapa makna.

Salah satunya adalah kesempitan.

Makna ini mungkin terasa aneh. Bagaimana mungkin malam yang begitu agung justru dikaitkan dengan kesempitan?.

Akan tetapi, makna ini menjadi jelas ketika kita melihat penjelasan yang datang dari hadis-hadis Nabi saw.

Dalam tafsirnya terhadap surah Al-Qadr, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa, Rasulullah saw., menggambarkan bahwa pada malam itu para malaikat turun ke bumi dalam jumlah yang sangat besar.

Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa jumlah mereka bahkan lebih banyak daripada kerikil yang menutupi permukaan bumi.

Gambaran ini mengajak kita membayangkan.

Bumi yang luas, dengan langit yang terbentang tanpa batas, dipenuhi oleh para malaikat yang turun membawa rahmat, keberkahan, dan kedamaian.

Karena begitu banyaknya makhluk langit yang turun, bumi seolah menjadi “sempit” oleh kehadiran mereka.

Turunnya para malaikat itu dipimpin oleh Ar-Ruh, yaitu Malaikat Jibril.

Kehadiran Jibril menunjukkan bahwa malam ini memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam tatanan alam semesta.

Para malaikat itu, menyebar ke berbagai penjuru bumi, mendatangi tempat-tempat di mana manusia mengingat Tuhannya.

Mereka menghampiri hamba-hamba yang masih terjaga dalam ibadah: yang berdiri dalam salat, yang duduk dalam zikir, atau yang menengadahkan tangan dalam doa.

Masih oleh tafsir Ibn Katsir disebutkan bahwa, salah satu tanda seorang hamba disentuh oleh kehadiran malaikat adalah ketika hatinya tiba-tiba terasa sangat lembut.

Air mata mengalir tanpa sebab yang diketahui, dan jiwa merasakan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Al-Qur’an menggambarkan keadaan ini dengan satu kata yang sangat indah: salaam.

Malam itu adalah malam kedamaian.

Kedamaian yang menyelimuti bumi hingga terbit fajar.

Lailatul Qadar juga memiliki dimensi takdir.

Para ulama menjelaskan bahwa pada malam ini berbagai ketetapan Allah untuk satu tahun ke depan ditetapkan dengan penuh hikmah: ajal, rezeki, serta berbagai peristiwa yang akan dilalui manusia.

Kesadaran ini membuat kita semakin menyadari betapa berharganya malam tersebut.

Tidak ada waktu yang lebih tepat untuk mengetuk pintu langit selain ketika bumi sedang dipenuhi oleh para malaikat yang membawa doa.

Nabi saw bersabda: “siapa pun yang menghidupkan Lailatul Qadar dengan iman dan penuh harapan kepada Allah, maka dosa-dosa masa lalunya akan diampuni.

Janji ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah yang dibuka pada malam tersebut.

Maka, sangat disayangkan jika malam yang begitu agung berlalu tanpa makna. 

Di malam yang penuh kemuliaan itu, Rasulullah saw, mengajarkan sebuah doa yang sangat sederhana kepada Aisyah ra: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.” Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.

Pada akhirnya, malam Lailatul Qadar adalah undangan yang sangat personal dari Allah kepada hamba-Nya.

Ia mengajak manusia untuk sejenak melepaskan diri dari kesibukan dunia, berdiri di hadapan Tuhannya, dan memohon ampunan dengan hati yang tulus. 

Rasulullah saw., mengingatkan: siapa yang terhalang dari kebaikan Lailatul Qadar, sungguh ia telah kehilangan kebaikan yang sangat besar.

Karena itu, di penghujung Ramadhan ini, hidupkanlah malam-malamnya dengan kesungguhan.

Bisa jadi, pada salah satu malam yang sunyi itu, Allah sedang menuliskan takdir terbaik bagi hidup kita. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.