Rukyatul Hilal di Lamongan: Hilal Masih Rendah, Idul Fitri 1447 H Diperkirakan 21 Maret 2026
Samsul Arifin March 19, 2026 07:32 PM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Hanif Manshuri

TRIBUNJATIM.COM, LAMONGAN – Menjelang penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah, posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia diperkirakan masih di bawah ambang batas kriteria imkanur rukyat (visibilitas hilal) MABIMS Baru.

Itu berarti ada potensi berbeda pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri 1447 H Tahun 2026 di kalangan umat Islam. Seperti pada awal Ramadan tahun ini.

Ketua Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Lamongan Khoirul Anam mengungkapkan, tinggi hilal di Tanjung Kodok sekitar 1 derajat 32 menit demgan elongsi sekitar 5 derajat 31 menit.

"Memang sudah terlihat tapi sangat kecil sekali. Dan itu  belum memenuhi kriteria yang disepakati oleh MABIMS, Menteri  Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura, " katanya.

Baca juga: Lebaran atau Awal Syawal 1447 H Diperkirakan Sabtu 21 Maret 2026, Hilal Belum Terlihat

Perhitungan Hilal di Berbagai Wilayah

Kriteria yang diputuskan dalam kesepakatan MABIMS dengan standar tinggi hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Jadi, katanya, berdasarkan perhitungan, kriteria MABIMS Baru mensyaratkan ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

"Tapi, hasil pengamatan menunjukkan bahwa posisi hilal di Indonesia belum memenuhi syarat tersebut, " katanya.

Baca juga: Tertutup Awan Mendung, Hilal Tak Terlihat di Bondowoso

Anam juga mengungkapkan, di wilayah timur Indonesia, tepatnya di Merauke, Papua, ketinggian hilal tercatat 0 derajat 25 menit dengan elongasi 4 derajat 33 menit. 

Sementara di wilayah barat, yakni Lhoknga, Aceh, tinggi hilal mencapai 2 derajat 52 menit dengan elongasi sebesar 6 derajat 06 menit.

Meski di Tanjung Kodok tingga hilal sekitar 1 derajat 32 menit, pihaknya sebagai  Ketua Badan Hisab dan Rukyat Kabupaten tetap harus melakukan rukyatul hilal di Tanjung Kodok dengan  melibatkan berbagai elemen Ormas Islam, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, LDII, akademi dari kalangan perguruan tinggi dan sejumlah pondok pesantren.

Rukyatul Hilal Tetap Dilakukan

Rukyatul hilal yang dilaksanakan Kamis (19/3/2026) hasilnya tidak beda jauh dengan perhitungan yang dihasilkan oleh Lingkaran Studi Ilmu Hisab Rukyat Al-Kaukaba Lamongan, dimana ia sebagai direktur.

Karena posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia belum memenuhi kriteria tersebut, termasuk di Tanjung Kodok,  maka pemerintah akan menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Seperti diketahui, Kementerian Agama telah menetapkan penggunaan kriteria imkanur rukyat MABIMS Baru sejak 2022. 

Kesepakatan ini melibatkan negara-negara anggota MABIMS, yakni Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura, dengan standar tinggi hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

“Namun demikian,  tetap menunggu keputusan sidang isbat Menteri Agama yang akan digelar pada  Kamis (19/3/2026) petang ini, " ungkapnya.

Pihaknya mengajak seluruh umat Islam untuk menghormati jika ada perbedaan penetapan Idul Fitri di tengah - tengah masyarakat.

" Kita harus tetap saling menghormati karena ini merupakan ranah ijtihadiyah. Dan jadikan perbedaan itu sebagai rahmah,"  ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat menjadikan Idul Fitri sebagai momentum mempererat persatuan dan kesatuan, tanpa mengedepankan perbedaan yang sama-sama mempunyai pedoman.

“Mari kita rayakan momen Idul Fitri sebagai hari kemenangan bagi seluruh umat Muslim,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.