Tren Kasus Campak Naik, Waspada Risiko Komplikasi pada Anak
Willem Jonata March 19, 2026 07:35 PM

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kasus campak di Indonesia menunjukkan tren peningkatan sepanjang 2025 hingga awal 2026. 

Data Kementerian Kesehatan mencatat puluhan ribu kasus suspek dengan ribuan di antaranya terkonfirmasi laboratorium.

Sepanjang 2025, terdapat 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 kasus terkonfirmasi dan 69 kematian. Sementara hingga minggu ketujuh 2026, tercatat 8.224 kasus suspek, 572 kasus terkonfirmasi, serta 4 kematian.

Selain itu, terjadi 21 kejadian luar biasa (KLB) yang tersebar di 17 kabupaten/kota di 11 provinsi.

Baca juga: Lonjakan Aktivitas Lebaran Tingkatkan Risiko Campak, Ini Cara Cegahnya

Peningkatan ini menegaskan bahwa campak masih menjadi ancaman serius, terutama bagi anak yang belum mendapatkan imunisasi.

Dokter spesialis anak, dr. Venty, Sp.A, CIMI, mengatakan, campak merupakan penyakit infeksi virus yang sangat menular melalui droplet saat penderita batuk atau bersin. 

Virus dapat bertahan di udara maupun permukaan benda dalam waktu tertentu, sehingga memperbesar risiko penularan.

"Setelah masa inkubasi 10–12 hari, gejala awal biasanya menyerupai flu, seperti demam tinggi, batuk, pilek, dan mata merah," katanya, Rabu (18/3/2026).

Dikatakannya, ciri khas penyakit ini adalah munculnya bercak Koplik di dalam mulut, diikuti ruam yang menyebar dari wajah ke seluruh tubuh.

Dokter spesialis anak, dr. Venty, Sp.A, CIMI, mengatakan campak tidak boleh dianggap remeh karena berpotensi menimbulkan komplikasi serius.

“Komplikasi dapat berupa pneumonia, diare berat, hingga peradangan otak (ensefalitis),” ujarnya.

Hingga kini belum tersedia terapi antivirus spesifik untuk campak.

Penanganan dilakukan secara suportif, seperti memastikan istirahat cukup, asupan nutrisi, cairan, serta pemberian vitamin A untuk menurunkan risiko komplikasi.

Kasus dengan komplikasi berat memerlukan perawatan di fasilitas kesehatan, terutama pada bayi, anak dengan gizi buruk, atau dengan daya tahan tubuh rendah.

"Upaya pencegahan paling efektif dilakukan melalui imunisasi. Vaksin campak diberikan sejak usia 9 bulan, dilanjutkan booster pada usia 15–18 bulan dan 5–7 tahun," katanya dokter yang praktek di Bethsaida Hospital Gading Serpong ini.

Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, MARS mengimbau masyarakat untuk tidak ragu memeriksakan anak sejak dini apabila muncul gejala mencurigakan.

"Dengan kombinasi kesadaran masyarakat, imunisasi yang optimal, dan dukungan layanan medis, penyebaran campak diharapkan dapat ditekan sehingga kesehatan anak tetap terjaga," katanya.

(Tribunnews.com/ Eko Sutriyanto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.