Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Jenderal Louis
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Kongres ke-40 Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) akan berlangsung di Kota Ambon pada tahun 2027 mendatang.
Ketua Umum GMKI, Prima Surbakti, menegaskan komitmennya untuk menghadirkan kongres yang transparan, akuntabel, serta bebas dari praktik-praktik tidak sehat.
Kepada TribunAmbon.com, Prima menyatakan usulan penggunaan auditor independen guna melakukan audit eksternal terhadap seluruh pengelolaan keuangan kongres.
Baca juga: H-1 Lebaran 2026, Pengamanan Mudik di Pelabuhan Hunimua Diperketat, Arus Penumpang Mulai Melandai
Baca juga: Proses Rukyatul Hilal, Kemenag Maluku Umumkan Hilal Tak Terlihat di Maluku
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga transparansi dan kepercayaan publik terhadap pelaksanaan agenda organisasi tersebut.
“Kami mendorong audit eksternal oleh auditor independen agar seluruh penggunaan dana dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka,” ujarnya, Kamis (19/3/2026).
Tak hanya itu, GMKI juga akan membentuk Satuan Tugas (Satgas) Anti Money Politik sebagai upaya konkret mencegah praktik politik uang yang kerap mencederai proses demokrasi internal organisasi.
Di sisi pembiayaan, Prima menegaskan bahwa pelaksanaan kongres tak hanya bergantung pada dana pemerintah, baik dari APBN maupun APBD.
Sebaliknya, pembiayaan juga akan dilakukan melalui skema gotong royong secara swadaya.
“Pendanaan kongres bersumber dari gotong royong. Namun tetap harus diaudit secara transparan agar akuntabilitasnya terjaga,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan inovatif dan kreatif dalam menyukseskan kongres, baik dari sisi penyelenggaraan maupun partisipasi kader.
Tekankan Transparansi dan Ruang Intelektual
Lebih lanjut, Prima memaparkan sejumlah prinsip yang menjadi dasar pelaksanaan Kongres GMKI ke-40.
Ia memastikan seluruh unsur pimpinan organisasi telah dipersiapkan secara matang agar kongres ini dapat menjadi model bagi pelaksanaan kongres berikutnya.
Salah satu poin utama adalah pentingnya laporan pertanggungjawaban yang transparan, akuntabel, dan kredibel.
Menurutnya, kongres harus menjadi ruang evaluasi yang jujur dan terbuka demi mendorong pertumbuhan organisasi yang sehat.
Selain itu, kongres juga ditegaskan sebagai ruang intelektual. Prima menyebut bahwa forum tersebut bukan sekadar ajang perebutan kepentingan, melainkan tempat bertarungnya gagasan, visi, dan arah gerakan organisasi ke depan.
“Kongres harus menjadi arena adu ide, bukan sekadar kontestasi kepentingan,” katanya.
Fokus Regenerasi dan Perubahan Kultur
Aspek regenerasi kepemimpinan juga menjadi perhatian utama. Kongres diharapkan mampu melahirkan pemimpin baru yang berkualitas dan siap melanjutkan estafet organisasi secara lebih baik.
Di sisi lain, Prima juga menyoroti pentingnya menghapus berbagai kultur negatif yang selama ini kerap muncul dalam dinamika organisasi, seperti praktik money politics, pemborosan waktu dan energi, hingga konflik yang tidak produktif.
Ia berharap Kongres GMKI ke-40 di Ambon dapat menjadi tonggak perubahan besar bagi organisasi.
“Kita ingin kongres ini tidak hanya berjalan sukses, tetapi juga meninggalkan legacy positif bagi GMKI ke depan,” pungkasnya.(*)