Harga Minyak Berpotensi Tembus 200 Dolar per Barel, Analis: Bukan Lagi Skenario Mustahil
SERAMBINEWS.COM – Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel kini semakin mengkhawatirkan.
Para analis energi global mulai mempertimbangkan kemungkinan harga minyak menembus hingga 200 dolar AS per barel, terutama jika Selat Hormuz tetap tertutup dalam waktu lama.
Mengutip laporan BBC News (19/3/2026), sebelumnya para pengamat telah memperingatkan bahwa perang yang dimulai sejak 28 Februari dapat mendorong harga minyak melampaui 100 dolar per barel.
Kini, kurang dari tiga minggu sejak konflik berlangsung, proyeksi tersebut terus meningkat tajam.
Harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan global sempat menyentuh hampir 120 dolar per barel pada 9 Maret dan tetap bertahan di atas 100 dolar sejak 13 Maret.
Baca juga: AS Jatuhkan Bom Penghancur Bunker 2,5 Ton ke Fasilitas Rudal Iran di Selat Hormuz
Serangan terbaru terhadap ladang gas South Pars di Iran pada 18 Maret, serta aksi balasan Iran ke fasilitas energi di Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, kembali mendorong harga minyak ke level di atas 108 dolar per barel.
Para analis menilai, kenaikan harga ini sangat bergantung pada kondisi Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Jika jalur tersebut tetap tertutup atau terganggu dalam beberapa minggu ke depan, harga minyak diperkirakan bisa melonjak hingga 150 dolar, bahkan mendekati 200 dolar per barel.
Sejumlah lembaga riset energi memperkirakan pasar global saat ini menghadapi potensi kekurangan pasokan hingga 10 juta barel per hari, meskipun berbagai negara telah berupaya mengeluarkan cadangan minyak darurat.
Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup untuk menggantikan pasokan yang biasanya melewati Selat Hormuz.
Baca juga: Iran Serang Ladang Gas Cair Terbesar di Dunia di Qatar yang Terkait dengan AS
Dampak kenaikan harga minyak ini tidak hanya dirasakan di sektor energi, tetapi juga berpotensi memicu inflasi global.
Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan setiap kenaikan harga minyak sebesar 10 persen dapat meningkatkan inflasi global sebesar 0,4 persen serta menekan pertumbuhan ekonomi.
Para ahli juga mengingatkan bahwa harga minyak di atas 150 dolar akan menjadi beban besar bagi perekonomian dunia.
Selain memicu kenaikan harga bahan bakar, kondisi ini juga dapat berdampak pada sektor lain seperti pangan, pupuk, hingga industri manufaktur.
Meski demikian, tidak semua analis sepakat dengan skenario terburuk tersebut.
Sebagian pihak menilai peningkatan produksi dari negara-negara seperti AS, Kanada, dan Brasil, serta keberadaan jalur alternatif distribusi energi, dapat membantu menahan lonjakan harga.
Namun, ketidakpastian tetap tinggi. Arah harga minyak ke depan akan sangat ditentukan oleh keseimbangan antara pasokan yang terbatas dan permintaan global.
Jika konflik terus berlanjut dan distribusi energi terganggu, harga minyak berpotensi mencetak rekor baru yang dapat mengguncang ekonomi dunia.
Baca juga: Lagi, Tiga Kapal Tanker Dihantam Droen di Selat Hormuz, Jalur Minyak Dunia Makin Berbahaya
(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)