Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA- Satu per satu peserta Gema Takbir Jogja 2026 memasuki halaman Masjid Gedhe Kauman, Kamis (19/3/2026) malam.
Masing-masing peserta datang membawa semangat yang sama, untuk menggemakan takbir dengan kreativitasnya. Salah satunya dihadirkan oleh kontingen Masjid Jami Pertiwi Gendingan, Notoprajan, Ngampilan.
Kontingan dari Kampung Gendingan ini membawa tema The Spirit of Sumatra. Tema ini diangkat untuk memberikan semangat bagi kebangkitan Sumatra pasca bencana banjir dan tanah longsor akhir tahun 2025 lalu.
Ketua Kontingen Masjid Jami Pertiwi Gendingan, Dio Rachmaputra Syafei menerangkan dukungan ini diperlukan agar masyarakat di Sumatra tetap tabah dan tidak menyerah.
Kontingen ini juga membawa maskot yang menggambarkan Sumatra yang luluh lantak akibat terjangan banjir bandang.
Maskot tersebut juga menampilkan sebuah pohon besar yang sudah terpotong, di atas pohon tersebut ada sebuah masjid. Masjid yang berada di atas pohon besar tersebut digambarkan sebagai Masjid Darul Mukhlisin Tamiang.
Maskot ini melambangkan akar keajaiban kebangkitan Sumatra.
“Jadi pada tahun ini kami membawakan tema yaitu Spirit of Sumatra, yang menggambarkan semangat kebangkitan untuk Sumatra. Harapannya masyarakat di Sumatra sabar dan tidak menyerah,” katanya, Kamis (19/3/2026).
Selain itu, kontingen ini juga mendaur ulang galon untuk dijadikan lampion. Galon bekas tersebut dikumpulkan dari rumah ke rumah. Galon bekas tersebut kemudian dibentuk menyerupai bunga Raflesia Arnoldi, bunga khas Sumatra.
Ini menjadi upaya untuk menumbuhkan kepedulian untuk mengelola sampah.
“Untuk properti kami menggunakan barang bekas, menggunakan galon air mineral yang tidak terpakai. Jadi kami muter satu kampung. Ini menjadi upaya agar sampah di lingkungan berkurang dan menjadi motivasi bagi seluruh warga agar dapat mengubah sampah menjadi sebuah kreativitas,” terangnya.
Ketua Gema Takbir Jogja 2026, Muhammad Faisal Rahagi mengungkapkan tahun ini ada 10 peserta yang terlibat. Masing-masing kelompok Takbir terdiri dari 50 hingga 100 perserta.
“Yang dinilai paling utama adalah semangat takbirnya. Kemudian kreativitas, kekompakan barisan, lalu lampion, dan leader atau pemimpin,” imbuhnya. (maw)