Prediksi Harga Emas H-1 Lebaran Idul Fitri, Antam Terjun Bebas, Kata Pengamat
Desi Triana Aswan March 20, 2026 01:50 AM

TRIBUNEWSSULTRA.COM -  Berikut ini prediksi harga emas H-1 lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 Masehi, Jumat (20/10/20026).

Dari pantauan di situs Kontan.co.id pada 19 Maret itu, koriab, emas sepertinya diprediksi ke level terbawahnya lagi. 

Padahal sebelumnya, investor dibuat geger dengan level emas mencapai lebih dari Rp3 jutaan pada periode 2009 Hijrian,.

Tepatnya pada pertengahan Ramadan lalu. Kondisi emas mencapai angka Rp3 juta atau lebih. 

Baca juga: Pemotor Wanita Ditabrak Pengendara Lain di Konawe Sultra saat Hendak Isi Bensin, Alami Patah Tulang

Sejauh ini, kondisi emas pun nanmpaknya menunjukkan tren penurunan. 

Jika hal ini terjadi, sebaiknya menahan diri untuk menjual emas. 

Sembari menanti tren kenaikan kembali terjadi. 

Sementara untuk yang hendak membeli emas, tentunya melakukan pertimbangan panjang. 

Walapun harga emas, kini kembali tak baikt- saja:⁠  

  • ⁠Harga emas Antam hari ini 0.5 gram: Rp 1.521.500
  • ⁠⁠Harga emas Antam hari ini 1 gram: Rp 2.943.000
  •  ⁠Harga emas Antam hari ini 2 gram: Rp 5.826.000
  • ⁠  ⁠⁠Harga emas Antam hari ini 3 gram: Rp 8.714.000
  • ⁠  ⁠Harga emas Antam hari ini 5 gram: Rp 14.490.000
  • Harga emas Antam hari ini 10 gram: Rp 28.925.000
  • ⁠Harga emas Antam hari ini 25 gram: Rp 72.187.000
  • ⁠  ⁠Harga emas Antam hari ini 50 gram: Rp 144.295.000
  • Harga emas Antam hari ini 100 gram: Rp 288.512.000
  • ⁠  ⁠⁠Harga emas Antam hari ini 250 gram: Rp 721.015.000⁠  ⁠Harga emas Antam hari ini 500 gram: Rp 1.441.820.000
  • ⁠⁠Harga emas Antam hari ini 1000 gram: Rp 2.883.600.000

Pandangan Michael Hsueh, Kepala Divisi Riset Metals di Deutsche Bank soal Investasi Emas

Kalangan investor profesional tentu mengenal prinsip ini, ”Belilah ketika meriam berdentum!" Dengan kata lain, ketika ada perang dan masa-masa krisis yang penuh ketidak pastian, orang-orang sebaiknya berinvestasi.

Mereka yang ingin mengamankan uangnya sering berinvestasi dalam emas, meskipun emas tidak murah di masa penuh krisis. Ketika pandemi atau perang, emas begitu diminati. Harga emas pun melonjak, seperti yang terjadi di beberapa minggu pertama tahun ini.

Jika harga emas terus naik, kekayaan yang diinvestasikan tidak hanya terlindungi bahkan bertambah. Apakah saat ini waktu yang baik untuk mencari untung?

Emas sebenarnya bukanlah investasi spekulatif, melainkan produk keamanan. Hal ini tercermin dari perkembangan harga emas beberapa bulan terakhir, yang terus mencapai puncak baru di waktu singkat sejalan dengan ketegangan politik dunia. Namun menurut portal perbandingan Gold.de, "Harga tertinggi emas sepanjang masa" tercatat pada 28 Januari 2026 sebesar 5.417,60 dolar AS per troy ons (sekitar Rp90 juta).

Meskipun ketidakpastian pasar meningkat setelah pecahnya perang AS-Israel melawan Iran, harga emas tidak naik lebih jauh. Satu minggu setelah perang dimulai pada 28 Februari, harga emas tercatat 5.327,42 dolar AS (Rp 89.7 juta) dan kini cukup stabil di antara 5.000 hingga 5.200 dolar AS (Rp 84.2 hingga Rp 87.6 juta).

Meriam berdentum tetapi harga emas tidak melonjak

Bagi Michael Hsueh, Kepala Divisi Riset Metals di Deutsche Bank, hal ini tidak mengejutkan. Harga emas memang biasanya lebih tinggi ketika terjadi krisis, tetapi "ada perbedaan yang lebih besar antara masing-masing kasus daripada perkiraan rata-rata.” Ia mengatakan kepada DW bahwa Deutsche Bank mengalami hal serupa tahun lalu setelah serangan Israel terhadap Iran.

Pengamatan ini juga dikemukakan Carsten Fritsch, analis komoditas di Commerzbank, terkait konflik saat ini, "Harga emas tidak bisa memanfaatkan ketidakpastian perang Iran," katanya kepada DW. "Sebaliknya, harganya bahkan lebih rendah dibanding sebelum perang dimulai."

Ada dua alasan utama untuk fenomena ini. Pertama, emas diperdagangkan dalam dolar AS. Dengan menguatnya dolar, emas menjadi lebih mahal bagi pembeli dari mata uang lain. Mereka pun membeli lebih sedikit, sehingga harga cenderung turun.

Kedua, kenaikan harga minyak mendorong harga-harga naik. Dengan inflasi yang lebih tinggi, Federal Reserve AS cenderung tidak menurunkan suku bunga. Ekspektasi investor bahwa suku bunga akan tetap tinggi membuat emas kurang menarik, karena emas tidak memberi bunga, sementara investasi lainnya bisa.

Menurut Fritsch, baik penguatan dolar AS maupun kenaikan tajam harga minyak berdampak negatif terhadap harga emas.

Pasar sedang 'menenangkan diri' setelah sempat 'memanas'

Wolfgang Wrzesniok-Roßbach, CEO Fragold GmbH menyarankan investor individu dan institusi, untuk tidak terkejut dengan harga emas yang stabil saat ini. Ia melihat pasar sedang ‘menenangkan diri' dari "Kenaikan harga emas dan logam mulia lainnya pada kuartal terakhir dan pada bulan Januari yang tidak didorong data fundamental (lebih pada spekulasi), sehingga harga menjadi terlalu tinggi."

Faktanya, kenaikan harga yang tajam tersebut menyebabkan "Permintaan perhiasan, yang penting bagi pasar emas, pada kuartal keempat mencapai level terendah dalam 15 tahun terakhir. Bahkan bank sentral menahan diri untuk membeli karena harga yang tinggi (di kuartal keempat dengan harga tinggi bank sentral membeli 230 ton). Ini menjadi permintaan terendah kedua sejak lima tahun terakhir pada kuartal keempat."

Kenaikan pasar emas, menurutnya, didorong oleh pembelian investor dan spekulan yang sebelumnya bertaruh harga turun. Mereka kini harus membeli emas pada harga tinggi untuk membatasi kerugian. Kesimpulannya: "Penurunan tajam pada 30 Januari memperlihatkan betapa harga pasar sebelumnya begitu berlebihan."

Carsten Fritsch, analis Commerzbank sependapat, "Kenaikan harga pada Januari berlebihan dan tidak dapat dijelaskan oleh faktor biasa. Rasa serakah dan takut melewatkan kenaikannya harga juga berperan."

Tidak hanya emas yang bersinar

Tidak hanya emas yang diminati saat ini. Perak juga begitu diminati dengan harga mahal. Namun, Wrzesniok-Roßbach tidak melihat ‘gelembung' harga perak, "Harga perak naik secara fundamental (karena kebutuhan industri) dan menurut saya kita harus menerima harga normal baru untuk perak bukan sekadar lonjakan spekulatif."

Frank Schallenberger, pakar komoditas di Landesbank Baden-Württemberg, melihat sebaliknya. Permintaan perak diperkirakan menurun: "Dalam beberapa bulan mendatang, perlambatan di industri surya, ekonomi dunia yang lemah, dan permintaan perhiasan yang menurun akan berdampak pada harga perak."

Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Dalam membuat prediksi, Frank Schallenberger menggambarkan pasar perak secara beragam, "Apakah pasar perak pada 2026 akan mengalami defisit pasokan selama enam tahun berturut-turut - hal ini masih diragukan. Jika penjualan ETF perak berlanjut, pasar perak bisa mengalami surplus."

Wrzesniok-Roßbach justru melihat harga perak cenderung naik, didukung dengan "Elektrifikasi dunia, terutama perkembangan teknologi panel surya." Baginya tidak mengejutkan jika harga perak dalam waktu dekat tetap di atas 100 dolar per ounce (Rp 1.6 juta per ons atau 54 ribu per gram).

Untuk harga emas, Frank Schallenberger menyarankan pembeli untuk berhati-hati, "Permintaan perhiasan yang lemah dan bank sentral yang ‘menahan diri' untuk menambah cadangan emas kemungkinan akan membatasi kenaikan emas dalam beberapa bulan mendatang. Politik AS yang penuh ketidakpastian kemungkinan terus ‘memberi kejutan baru' untuk pasar keuangan, ” seraya menambahkan, "Emas seharusnya tetap diminati sebagai investasi yang aman."

"Jika perang berakhir," kata Carsten Fritsch dari Commerzbank memprediksi masa depan, "Dolar AS dan harga minyak kemungkinan akan turun, ini berarti positif untuk harga emas dan perak."

Namun apakah harga akan naik kembali, menurut Fritsch akan bergantung pada "seberapa besar kenaikan harga minyak mempengaruhi inflasi dan bagaimana bank sentral menanggapinya.”

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Yuniman Farid

(Kontan.co.id) (TribunnewsSultra.com/Desi Triana)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.