TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Heboh di media sosial oknum di Kota Pontianak melakukan praktik Bahan Bakar Minyak (BBM) oplosan di tengah maraknya antrean panjang di sejumlah SPBU.
Kapolresta Pontianak, Kombes Pol Endang Tri Purwanto mengaku telah menerima informasi tersebut.
"Informasi tersebut langsung kami tindak lanjuti. Kami telah membentuk Satgas BBM untuk melakukan penegakan hukum terhadap para pelaku yang memanfaatkan situasi ini, baik penimbunan maupun oplosan yang merugikan masyarakat," ujarnya saat ditemui usai meninjau SPBU Ahmad Yani Pontianak pada Jumat 20 Maret 2026 dini hari WIB.
Kombes Pol Endang meminta masyarakat tidak ragu melaporkan jika menemukan praktik serupa.
Ia mengatakan pihaknya telah bergerak ke lapangan untuk memberikan tindakan tegas ke pelaku.
Selain itu, Polresta Pontianak juga meningkatkan pengamanan di SPBU guna mengantisipasi potensi gangguan keamanan selama antrean berlangsung.
"Setiap Polsek menangani beberapa SPBU dan kami bekerja sama untuk menjaga situasi tetap kondusif, sehingga tidak terjadi konflik seperti saling serobot antrean yang bisa berujung tindak pidana," jelasnya.
• Pertamina Kalbar Maksimalkan Penyuplaian BBM Imbas Panic Buying, SAM: Antrean SPBU Segera Terurai
Ia menambahkan, kehadiran aparat kepolisian di lokasi SPBU juga diharapkan dapat meminimalisir praktik pembelian menggunakan jeriken secara tidak wajar.
"Setidaknya dengan adanya petugas, pelaku akan berpikir ulang. Namun jika tetap nekat, tentu akan kami lakukan penegakan hukum," tegasnya.
Pengawasan tersebut dilakukan hingga dini hari, dengan personel Polresta dan Polsek tetap bersiaga di lapangan demi memastikan keamanan dan kenyamanan masyarakat.
Polresta Pontianak pun mengimbau masyarakat untuk tetap tertib dan bersabar, sembari berharap kondisi antrean BBM ini dapat segera teratasi.
Masyarakat juga diingatkan agar tidak panik hingga mudah tertipu oleh oknum yang menawarkan BBM yang diduga oplosan di luar jalur resmi.
BBM oplosan adalah bahan bakar yang dicampur dengan zat lain sehingga kualitasnya menurun dan tidak sesuai standar Pertamina.
1. Aroma tidak normal
BBM asli (Pertalite, Pertamax, Solar) punya bau khas.
Oplosan biasanya berbau menyengat, mirip minyak tanah atau terlalu tajam.
2. Warna berbeda
Pertalite biasanya hijau muda, Pertamax biru keunguan.
Oplosan sering tampak lebih keruh atau warnanya tidak konsisten.
3. Kualitas pembakaran buruk
Mesin terasa lebih cepat panas.
Tarikan kendaraan tidak stabil, tenaga berkurang.
4. Meninggalkan residu
Oplosan sering meninggalkan kerak di busi atau injektor.
Knalpot mengeluarkan asap lebih pekat.
5. Harga terlalu murah
Dijual di luar SPBU resmi dengan harga miring.
Sering ditawarkan dalam jeriken atau botol eceran.
6. Campuran cairan lain
Ada pelaku yang mencampur dengan minyak tanah, solar, atau bahkan air.
7. Mudah menguap atau cepat berkurang volumenya
Karena kandungan tidak murni, BBM oplosan lebih cepat menguap.
• BREAKING NEWS - Ormas Kalbar Datangi Pertamina Patra Niaga, Minta Antrean BBM Hilang dalam 3 Hari
-Kerusakan mesin permanen (busi, injektor, piston).
-Konsumsi BBM boros karena pembakaran tidak sempurna.
-Bahaya keselamatan: mesin bisa mati mendadak saat berkendara.
-Kerugian finansial: biaya perbaikan kendaraan jauh lebih besar dibanding selisih harga BBM.
-Isi BBM hanya di SPBU resmi Pertamina.
-Waspada penjual eceran dengan harga miring.
-Perhatikan bau dan warna BBM sebelum digunakan.
-Laporkan ke polisi atau Pertamina jika menemukan dugaan oplosan.