Catatan dari Pesisir Sabu Raijua, Bagian dari Seri “9 Luka NTT: Luka Ekologis
Oleh: John Mozes Hendrik Wadu Neru
Pendeta GMIT di Sabu Timur
e-Mail. johnmhwaduneru@gmail.com
POS-KUPANG.COM - Di pesisir Sabu Raijua, pagi selalu datang dengan cara yang hampir tidak berubah.
Perahu kecil bergerak perlahan meninggalkan pantai, jaring ditebar dengan harapan yang sama seperti kemarin dan laut terbentang luas seolah tidak pernah menyimpan kegelisahan apa pun.
Bagi banyak orang, laut bukan sekadar bentangan air, melainkan ruang hidup yang memberi makan, menopang keluarga dan menjaga keberlanjutan hari esok.
Namun di balik ketenangan yang tampak itu, ada sesuatu yang pelan pelan bergeser, sesuatu yang tidak langsung terlihat oleh mata, tetapi mulai terasa dalam hasil tangkapan yang tidak lagi pasti dan dalam perubahan kecil yang terus berulang.
Data tentang kondisi terumbu karang di perairan Sabu Raijua memperlihatkan kenyataan yang tidak bisa diabaikan.
Baca juga: Opini: Adven dan Pertobatan Ekologis
Tutupan karang hidup berada pada kisaran 16 persen hingga 58,72 persen dengan rata rata sekitar 35,90 persen, sebuah kondisi yang menempatkan ekosistem ini dalam rentang yang belum runtuh tetapi juga jauh dari sehat (Yuniar et al., 2023).
Komposisi dasar laut masih didominasi oleh karang, disusul batuan dan lamun, namun kualitasnya di sejumlah wilayah mulai menurun secara perlahan (Yayasan Konservasi Alam Nusantara, 2023).
Pada saat yang sama, lamun yang justru berfungsi menopang kehidupan laut sering dipersepsikan sebagai pengganggu dalam aktivitas budidaya rumput laut, sehingga keberadaannya tidak selalu dihargai sebagaimana mestinya (YKAN, 2023).
Sementara itu, budidaya rumput laut yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi masyarakat pesisir mulai menghadapi tekanan akibat perubahan suhu laut, melemahnya arus dan meningkatnya penyakit, yang semuanya menandakan bahwa keseimbangan ekologis sedang terganggu.
Di daratan, abrasi terus mengikis garis pantai dan dalam beberapa kasus diperparah oleh aktivitas penambangan pasir yang masih berlangsung (SGP Indonesia, 2025).
Semua perubahan ini tidak datang sebagai peristiwa besar yang mengejutkan, melainkan sebagai rangkaian perubahan kecil yang terjadi terus menerus hingga akhirnya menjadi bagian dari kehidupan sehari hari.
Laut masih memberi, tetapi tidak lagi dengan kelapangan yang sama seperti sebelumnya dan justru karena ia belum benar benar berhenti memberi, kita sering kali tidak menyadari bahwa ia sedang menanggung beban yang semakin berat.
Dari titik ini, pertanyaan tidak lagi cukup diarahkan pada apa yang terjadi pada laut, tetapi harus mulai diarahkan pada bagaimana manusia membaca dan merespons perubahan itu.
Jika ditelusuri lebih dalam, persoalan pesisir Sabu Raijua tidak berhenti pada kerusakan ekologis, melainkan menyentuh cara manusia memandang ciptaan itu sendiri.
Laut yang semula dipahami sebagai ruang kehidupan bersama perlahan berubah menjadi ruang produksi yang dinilai berdasarkan hasil yang bisa diperoleh darinya, sehingga keberadaannya diukur bukan dari keberlanjutan yang dijaga, tetapi dari produktivitas yang dihasilkan.
Dalam cara pandang seperti ini, segala sesuatu yang tidak secara langsung mendukung produksi cenderung dianggap sebagai hambatan, termasuk ekosistem seperti lamun yang sebenarnya berperan penting dalam menjaga keseimbangan laut.
Namun perubahan cara pandang ini tidak bisa dilepaskan dari realitas sosial ekonomi yang dihadapi masyarakat pesisir.
Ketergantungan pada laut sebagai sumber penghidupan membuat pilihan menjadi terbatas, sehingga banyak keputusan yang diambil bukan karena ideal, melainkan karena diperlukan untuk bertahan hidup.
Seperti yang diingatkan oleh Amartya Sen, keterbatasan pilihan sering kali memaksa manusia untuk mengambil keputusan yang dalam jangka panjang justru merugikan dirinya sendiri dan dalam konteks pesisir Sabu Raijua, hal ini terlihat dalam praktik praktik yang secara perlahan melemahkan daya dukung ekosistem.
Di sisi lain, kebijakan publik yang seharusnya menjadi penyeimbang belum sepenuhnya mampu menjawab kompleksitas persoalan.
Berbagai program konservasi, rehabilitasi mangrove dan upaya perlindungan ekosistem memang telah dilakukan, tetapi sering kali berjalan tanpa integrasi yang kuat, sehingga di satu sisi ada upaya menjaga, sementara di sisi lain praktik yang merusak masih terus berlangsung.
Pengawasan yang lemah, koordinasi yang terbatas dan pendekatan yang parsial membuat kebijakan seolah berjalan dalam dua arah yang berbeda, satu mengajak untuk merawat, yang lain secara tidak langsung membiarkan kerusakan tetap terjadi.
Sebagaimana diingatkan oleh Karl Polanyi, ketika aktivitas ekonomi dilepaskan dari nilai sosial dan moral, maka relasi manusia dengan alam akan cenderung bergerak ke arah eksploitasi dan apa yang terjadi di pesisir Sabu Raijua menunjukkan gejala tersebut secara nyata.
Dari keseluruhan gambaran ini, tampak bahwa pesisir Sabu Raijua tidak berada dalam kondisi yang sepenuhnya rusak, tetapi juga tidak bisa disebut sehat.
Ia berada dalam suatu kondisi yang dapat digambarkan sebagai sistem yang masih berfungsi, tetapi dalam tekanan yang terus meningkat, di mana laut masih memberi, tetapi dengan biaya ekologis yang semakin mahal, sementara masyarakat tetap bergantung pada laut dengan tingkat ketidakpastian yang semakin tinggi.
Dalam situasi seperti ini, manusia berada dalam posisi yang tidak mudah, karena di satu sisi ia membutuhkan laut untuk bertahan hidup, tetapi di sisi lain cara hidupnya sendiri dapat mempercepat penurunan kualitas laut tersebut.
Upaya menjaga sebenarnya tidak pernah benar benar absen. Penyu dilindungi di beberapa lokasi penting peneluran, mangrove ditanam untuk menahan abrasi dan berbagai program dijalankan untuk memperbaiki kondisi pesisir.
Namun sering kali upaya ini terasa seperti bagian bagian yang berdiri sendiri, tidak terhubung dalam satu kerangka besar yang mampu menjawab akar persoalan.
Kita melihat upaya penyelamatan di satu sisi, tetapi pada saat yang sama membiarkan faktor faktor yang merusak tetap berlangsung, sehingga hasilnya tidak pernah benar benar tuntas.
Dalam konteks ini, gereja sebagai institusi yang hidup di tengah masyarakat pesisir juga tidak bisa dilepaskan dari refleksi kritis.
Gereja berbicara tentang syukur atas ciptaan, tentang tanggung jawab manusia terhadap alam dan tentang kehidupan yang berkelanjutan, tetapi suara ini belum selalu diterjemahkan ke dalam praktik yang konkret dan transformatif.
Gereja sering kali berhenti pada ajakan moral yang umum, tanpa masuk lebih dalam ke dalam realitas ekonomi, kebijakan dan praktik sehari hari yang justru membentuk relasi manusia dengan alam.
Seperti yang diingatkan oleh Paulo Freire, tanpa kesadaran kritis yang mendorong tindakan, perubahan tidak akan pernah benar benar terjadi dan dalam hal ini gereja berisiko menjadi bagian dari sistem yang mempertahankan keadaan, bukan mengubahnya.
Jika dilihat lebih luas, apa yang terjadi di pesisir Sabu Raijua sebenarnya bukan peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari rangkaian persoalan ekologis yang lebih besar di Nusa Tenggara Timur, yang mencakup krisis air, degradasi tanah, kemiskinan struktural dan berbagai tekanan lingkungan lainnya.
Pesisir ini hanyalah satu wajah dari luka yang lebih luas, yang tidak bisa dipahami secara terpisah.
Pada akhirnya, pembacaan atas realitas ini membawa kita pada pertanyaan yang lebih dalam, yaitu bagaimana iman dipraktikkan dalam relasi dengan ciptaan.
Kitab Kejadian menyatakan bahwa manusia ditempatkan di taman untuk mengusahakan dan memelihara, sebuah panggilan yang mengandung keseimbangan antara bekerja dan menjaga.
Namun dalam praktik kehidupan sehari hari, keseimbangan ini sering kali tidak terjaga, sehingga manusia lebih kuat dalam mengusahakan daripada memelihara, lebih aktif mengambil daripada menjaga keberlanjutan.
Akibatnya, laut tetap disebut sebagai berkat dalam doa, tetapi dalam praktiknya diperlakukan sebagai objek yang bisa terus dimanfaatkan.
Di sinilah krisis ekoteologi menjadi nyata, bukan sebagai konsep abstrak, tetapi sebagai realitas yang hadir dalam kehidupan sehari hari.
Sebagaimana ditegaskan oleh Pope Francis, krisis ekologi pada dasarnya adalah krisis relasi, ketika manusia kehilangan cara untuk melihat ciptaan sebagai rumah bersama yang harus dijaga.
Pesisir Sabu Raijua memperlihatkan krisis ini dengan sangat jelas, tetapi juga sekaligus membuka ruang untuk refleksi yang lebih jujur.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah laut sedang rusak, tetapi apakah cara kita memandang dan memperlakukan laut masih sejalan dengan iman yang kita akui.
Jika tidak, maka perubahan tidak cukup dimulai dari luar, tetapi harus dimulai dari dalam, dari cara berpikir, cara memilih dan cara hidup yang lebih utuh.
Karena jika tidak, suatu hari nanti kita mungkin masih berdiri di tepi laut, masih berdoa dengan kata kata yang sama, tetapi dengan laut yang tidak lagi mampu menjawab harapan yang kita gantungkan padanya.
Dan pada saat itu, yang kita hadapi bukan hanya krisis ekologis, tetapi cermin dari relasi yang telah lama retak tanpa pernah sungguh diperbaiki. (*)
Daftar Rujukan