Menurutnya, kepedulian seperti ini mencerminkan wajah kemanusiaan dalam dunia politik yang sering kali dipandang jauh
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Masrizal | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Kepedulian Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dari Partai Golkar, Khalid terhadap anak yatim dan piatu mendapat respon positif.
Seperti diketahui, Khalid memberi semua gaji pokoknya untuk anak yatim dan piatu yang tersebar di daerah pemilihannya yakni dapil 2, Pidie dan Pidie Jaya.
Pada tahun ini, total ada 1.000 anak yatim dan piatu yang disantuni Khalid, sepanjang bulan Ramadhan 1447 Hijriah dengan lokasi berbeda-beda.
Penyerahan santunan diiringi dengan acara buka puasa bersama masyarakat dan anak yatim.
Aksi mulia ini sudah berjalan selama dua tahun atau sejak dilantik sebagai anggota DPRA dari Partai Golkar periode 2024-2029.
Pemerhati sosial dan kebijakan publik Aceh, Drs M Isa Alima, menyampaikan apresiasi dan penghargaan atas niat baik tersebut.
Baca juga: Anggota DPR RI TA Khalid Bantu Perlengkapan Sekolah untuk Siswa Terdampak Banjir di Langkahan
Menurutnya, kepedulian seperti ini mencerminkan wajah kemanusiaan dalam dunia politik yang sering kali dipandang jauh dari sentuhan empati.
"Aksi kemanusiaan ini bukanlah sekadar kegiatan seremonial. Langkah ini menjadi simbol bahwa keberpihakan kepada masyarakat kecil tidak hanya dapat diwujudkan melalui kebijakan, tetapi juga melalui tindakan nyata yang menyentuh langsung kehidupan mereka," katanya.
Isa Alima menilai bahwa langkah Khalid dapat menjadi teladan bagi anggota legislatif lainnya di seluruh daerah pemilihan di Aceh.
Ia berharap gerakan sosial yang berorientasi pada kepedulian terhadap anak-anak yatim dapat terus berkembang dan menjadi budaya kolektif di kalangan para pemangku kebijakan.
“Anak-anak yatim adalah bagian dari amanah sosial yang harus dijaga bersama. Bantuan seperti ini bukan hanya meringankan beban ekonomi, tetapi juga memberi mereka harapan untuk menatap masa depan dengan lebih percaya diri,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa kepedulian yang berkelanjutan dapat menjadi jembatan bagi anak-anak yatim untuk meraih cita-cita mereka.
Dengan dukungan moral dan material yang konsisten, generasi yang hari ini hidup dalam keterbatasan berpotensi tumbuh menjadi sumber kekuatan baru bagi pembangunan Aceh di masa mendatang.
Dalam perspektif sosial, santunan yang diberikan bukan semata bantuan sesaat. Ia adalah benih yang ditanam dalam tanah harapan agar suatu hari nanti, anak-anak yang hari ini menerima uluran tangan dapat berdiri tegak sebagai generasi yang memberi kembali kepada masyarakat.
"Ramadhan selalu mengajarkan bahwa keindahan hidup tidak terletak pada apa yang dimiliki, tetapi pada apa yang mampu dibagikan."
"Di tengah dinamika sosial dan tantangan ekonomi, langkah-langkah kecil penuh ketulusan seperti ini menjadi penanda bahwa kepemimpinan sejati tumbuh dari kepekaan hati dan kesediaan untuk hadir di saat masyarakat membutuhkan," tambahnya.
Isa berharap, semangat kepedulian ini tidak berhenti sebagai kisah satu tokoh, melainkan menjadi gerakan bersama.
Sebab masa depan anak-anak yatim bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi panggilan nurani seluruh masyarakat untuk memastikan bahwa mereka tetap memiliki ruang bermimpi, belajar, dan mencapai cita-cita yang selama ini mungkin terasa jauh.(*)