TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Malam Pengerupukan di jantung Kota Denpasar bukan sekadar hiburan melihat pengarakan Ogoh-ogoh rutin bagi IGA Surya (43).
Warga Ibukota Pulau Bali yang akrab disapa Gek Surya ini memilih merayakan momen tersebut dengan cara yang reflektif.
Ia berjalan kaki bersama anak-anaknya hingga ke area Lapangan Puputan Badung demi menyaksikan langsung puncak kreativitas pemuda Bali.
Baca juga: Masuk Kalender Event, Pengerupukan Festival Buleleng Tahun Depan Digelar di Titik Nol Kota
Baginya, setiap tahun adalah petualangan baru, ia sengaja berpindah-pindah lokasi menonton agar anak-anaknya bisa merasakan suasana yang berbeda di setiap sudut kota.
"Iya, hampir tiap tahun selalu menyempatkan nonton bareng anak-anak. Tapi spotnya tidak selalu sama, kadang pindah-pindah biar suasananya beda," kata Gek Surya saat dijumpai Tribun Bali, pada Jumat 20 Maret 2026
Baca juga: Jembrana Diterjang Puting Beliung Saat Nyepi, 10 Rumah Rusak
Tahun ini menjadi momen yang cukup spesial karena ia menempuh jarak yang lumayan jauh dengan berjalan kaki dari kawasan Jalan Teuku Umar hingga mencapai area Lapangan Puputan.
Kehadiran anak-anak di tengah keramaian pawai bukan tanpa alasan. Dirinya menegaskan bahwa mengajak buah hati menonton Ogoh-ogoh adalah strategi edukasi budaya yang efektif sejak dini.
Ia ingin anak-anaknya tidak hanya melihat Ogoh-ogoh sebagai patung atau boneka raksasa yang menyeramkan atau unik, melainkan memahami esensi di baliknya.
"Awalnya mungkin terlihat seperti hiburan, tapi sebenarnya lebih ke edukasi juga. Ini cara yang cukup efektif untuk mengenalkan mereka ke tradisi Bali, terutama tentang makna di balik Ogoh-ogoh," jelasnya.
Meski ia mengakui bahwa pemahaman anak-anaknya belum mendalam, namun benih-benih pengertian mulai tumbuh.
"Biasanya mereka tahu kalau Ogoh-ogoh itu melambangkan hal-hal buruk, walaupun maknanya masih perlu dijelaskan pelan-pelan sesuai usia mereka," ujar dia.
Sudut pandang menarik muncul ketika Surya bicara soal makna personal dari simbolisme Ogoh-ogoh.
Jika boneka raksasa tersebut adalah personifikasi dari sifat buruk manusia yang harus dimusnahkan, Gek Surya memiliki satu musuh internal yang ingin ia ikut bakar tahun ini.
"Kalau secara pribadi, mungkin rasa overthinking dan gampang khawatir. Kadang itu bikin capek sendiri, jadi rasanya pengen 'dilepas' bareng momen Ogoh-ogoh ini," akunya jujur.
Proses pralina atau pembakaran Ogoh-ogoh yang seringkali membuat penonton haru, justru memberikan pelajaran hidup yang mendalam baginya.
Melihat karya seni yang dikerjakan berbulan-bulan dengan penuh keringat namun harus musnah dalam sekejap, memberikan rasa kagum sekaligus haru yang bercampur.
Pribadinya percaya ada filosofi merelakan yang sangat kuat dalam tradisi ini.
"Justru di situ kerasa banget filosofinya bahwa tidak semua yang kita buat atau miliki harus dipertahankan selamanya. Ada momen untuk merelakan dan melepaskan untuk bisa mencapai sesuatu yang lebih baik," tuturnya.
Selain urusan batin dan budaya, Ia juga menyoroti dampak nyata kehadiran pawai ini terhadap ekonomi kerakyatan.
Sepanjang perjalanannya menuju kawasan Puputan, ia menyaksikan bagaimana UMKM lokal dan pedagang asongan mendapatkan berkah tahunan dari kerumunan warga.
"Area pawai jadi ramai banget, pedagang makanan, minuman, sampai mainan anak ikut kebagian rezeki. Jadi bukan cuma acara budaya, tapi juga punya dampak ekonomi buat masyarakat sekitar," katanya.
Dirinya mengaku terkesan dengan energi kebersamaan yang dirasakan di Kota Denpasar, semangat dan detail kreativitas para pemuda dalam menggarap Ogoh-ogoh yang semakin tahun semakin rumit adalah hal yang paling berkesan.
"Kadang sampai nggak nyangka bisa sedetail itu," pungkasnya. (*)