TRIBUNNEWS.COM - Menjelang bergulirnya Badminton Asia Championships (BAC) 2026 pada 7-12 April mendatang di Ningbo, China, turnamen kasta tertinggi di Benua Asia ini menyisakan memori pilu bagi kontingen Indonesia.
Edisi 2025 lalu, sebuah catatan minor dibukukan oleh utusan Indonesia setelah konsistensi raih minimal 1 gelar di BAC dalam tiga tahun terakhir sejak 2022 hingga 2024.
Jika menilik ke belakang, edisi 2025 adalah anomali yang pahit. Indonesia seolah kehilangan taringnya di Asia.
Padahal, sejak turnamen kontinental ini bergulir kembali pasca-pandemi (2022-2024), tradisi naik podium tertinggi selalu terjaga.
Mulai dari kejutan Pramudya/Yeremia (2022), dominasi Anthony Ginting (2023), hingga keberhasilan Jonatan Christie (2024).
Namun, rentetan gelar tersebut terputus total pada 2025 tanpa ada satu pun wakil Indonesia yang mampu menyegel titel juara.
Statistik minor tahun lalu seolah membangkitkan trauma masa lalu. Publik tentu ingat periode 2015 hingga 2019.
Di mana Indonesia mengalami paceklik gelar yang panjang setelah era Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir pada 2015.
Bahkan nama-nama legendaris seperti Ahsan/Hendra, Marcus/Kevin, hingga duet Fajar/Rian pun tercatat belum pernah mencicipi rasanya berdiri di podium tertinggi BAC.
Baca juga: 10 Debutan dalam Skuad Indonesia di Kejuaraan Bulu Tangkis Asia 2026, Ubed hingga Raymond/Joaquin
Pada edisi 2025, asa Indonesia sebenarnya sempat membubung, namun rontok di tengah jalan.
Capaian terbaik hanya mampu dipersembahkan oleh Leo Carnando/Bagas Maulana yang meraih medali perunggu setelah terhenti di babak semifinal.
Sama halnya dengan, ganda campuran muda Jafar Hidayatullah/Felisha Pasaribu juga tampil mengejutkan hingga empat besar, namun harus puas dengan perunggu.
Sektor tunggal yang biasanya menjadi lumbung harapan justru tampil antiklimaks. Alwi Farhan harus angkat koper di babak 16 besar, sementara sang juara bertahan Jonatan Christie dijegal di babak perempat final.
Di sektor putri, Gregoria Mariska tersisih prematur di 16 besar. Kemudian Putri Kusuma Wardani yang tengah dalam performa menanjak kala itu, langsung bertemu jagoan China, Wang Zhi Yi, di babak pertama.
Meski bertarung habis-habisan hingga rubber game, Dewi Fortuna belum berpihak padanya.
Di nomor ganda, Fajar Alfian/Rian Ardianto dan Sabar Karyaman/Reza Pahlevi yang datang sebagai unggulan justru gagal memenuhi ekspektasi.
Sabar/Reza kandas di babak 32 besar, sedangkan Fajar/Rian dihantam rival abadi mereka, Aaron Chia/Soh Wooi Yik (Malaysia) yang akhirnya keluar sebagai kampiun.
Sementara itu, di ganda putri, hanya Febriana Dwipuji/Amallia Pratiwi yang sanggup merangkak hingga perempat final sebelum akhirnya tumbang.
Hasil minor ini wajib dibalas oleh utusan Merah-Putih di BAC 2026 demi menyalakan kembali tradisi gelar di turnamen kontinental benua Asia.
(Tribunnews.com/Niken)