TERUNGKAP! Ini Penyebab Ogoh-ogoh Tainsiat Denpasar Batal Diarak ke Catur Muka
Aloisius H Manggol March 20, 2026 05:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Ogoh-ogoh Gajah 1948 karya Sekaa Teruna (ST) Yowana Saka Bhuawana Banjar Tainsiat batal diarak ke Catur Muka Denpasar pada Rabu 18 Maret 2026. 

Ketika dikonfirmasi Tribun Bali, Putu Alvin Pratama Putra selaku Ketua 1 ST Yowana Saka Bhuawana menuturkan mulanya hal tersebut disebabkan karena salah satu rangka ogoh-ogoh gajah patah. 

“Karena dari rangkanya patah jadi keputusan terakhir setelah diperbaiki di lapangan Akhirnya tidak bisa lagi untuk jalan. Jadi ya sudah kita putusin balik mundur saja, daripada nanti kenapa-kenapa lagi di Catur Muka dan jam operasionalnya sudah lewat,” jelasnya pada, Jumat 20 Maret 2026. 

Baca juga: Warga Datangi Banjar Tainsiat Saat Ngembak Geni  Buntut Ogoh-ogoh Batal Diarak ke Catur Muka

Sebetulnya ogoh-ogoh Banjar Tainsiat sudah dikeluarkan dari Banjar pada pukul 18.00 wita. Lalu dilanjutkan dengan mempersiapkan pengarakan dan mulanya diprediksi pukul 20.00 wita, ogoh-ogoh gajah dapat diarak menuju Catur Muka. 

“Saat ogoh-ogohnya di luar (banjar) langsung ambruk. Ya gimana diluar prediksi banget tuh pokoknya sudah plan dari sebelum-sebelumnya kita keluar jam 18.00, berangkat jam 20.00,” katanya. 

Baca juga: 10 Rumah Rusak Diterjang Angin Puting Beliung Saat Hari Raya Nyepi, Kerugian Belasan Juta Rupiah

Lebih lanjutnya, ia menuturkan setelah ogoh-ogoh berhasil diperbaiki pada pukul 00.00 wita, kembali ogoh-ogoh mengalami masalah hingga pukul 01.00 dini hari saat itu juga para anggota ST mengambil keputusan bersama yang akhirnya ogoh-ogoh gajah kembali dibawa ke Banjar Tainsiat. 

 


“Awalnya memang mau diarak sampai Catur Muka. Setelah melihat kejadian itu jadi kita memutuskan kesepakatan bersama bilang ya sudah tarik mundur saja. Daripada makin kecewa kan nanti tidak ada yang dapat mrlihat gerakannya (ogoh-ogoh),” imbuhnya. 

 


Selain itu, ogoh-ogoh Tainsiat batal menuju Catur Muka juga disebabkan mengacu pada Peratuan Daerah (Perda) Kota Denpasar Nomor 9 Tahun 2024 tentang Pelestarian ogoh-ogoh, yakni pawai ogoh-ogoh saat Pangerupukan diberikan batas waktu hingga pukul 24.00 Wita. 

 


“Ya itu juga kan ada di Perda makanya kita lihat juga katanya sih jam 00.00 malam Sudah tidak ada pengarakan (ogoh-ogoh) ke sana jadinya kita juga melihat dari itu oh yaudah, sudah jam 00.00 lewat,” paparnya. 

 


Alvin tak menampik pastinya ada rasa kecewa pada semua pemuda ST Yowana Saka Bhuawana sebab ogoh-ogoh mereka tak sampai di Catur Muka. 

 


“Pasti ada rasa kecewa di semua. Ya sudah  daripada tidak maksimal juga kan jadinya kita balik (ke Banjar),” terangnya. 

 


Proses pengerjaan ogoh-ogoh Banjar Tainsiat sudah dimulai sejak Bulan September 2025. Perintilan mesin robotic untuk ogoh-ogoh gajah Tahun 2026 ini cukup banyak dan sebelumnya juga banyak ditemukan trouble pada mesin. Meskipun batal sampai di Catur Muka, masyarakat masih antusias datangi Banjar Tainsiat pada saat Ngembak Geni, Jumat 20 Maret 2026 dan ini setidaknya dapat tetap menumbuhkan optimis ST Yowana Saka Bhuawana. 

 


“Kalau dari saya pribadi saya bangga sih juga dalam artian bangga masih banyak yang support kita dari jauh-jauh dari desa lain luar Denpasar masih bisa datang hadir ke banjar. Pas masukin ogoh-ogoh pun sampai jam 04.30 pagi masih ada orang datang ke sini untuk melihat,” ujarnya. 

 


Alvin mewakili ST Yowana Saka Bhuawana menyampaikan permohonan maaf khususnya untuk masyarakat yang menantikan ogoh-ogoh Banjar Tainsiat diarak ke Catur Muka. 

 


“Saya sampaikan, saya minta maaf mungkin tahun ini sangat mengecewakan lagi untuk masyarakat dan belum bisa menampilkan. Apa yang kita lakukan yang terbaik kita sudah semaksimal mungkin melakukan yang terbaik minta maaf untuk masyarakat Bali,” pungkasnya. 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.