Tawaran kompensasi dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebesar Rp600 ribu justru ditolak oleh sebagian warga.
Penolakan itu bukan tanpa alasan.
Para penyapu koin mengaku penghasilan mereka selama musim mudik bisa jauh lebih besar dibandingkan kompensasi yang ditawarkan pemerintah.
Penghasilan Harian Lebih Tinggi
Dalam dialog yang berlangsung di Desa Karanganyar, Kecamatan Pusakajaya, Kabupaten Subang, salah satu warga bernama Warto mengungkapkan bahwa dalam sehari mereka bisa meraup hingga Rp150 ribu atau lebih.
“Ini sudah tradisi, Pak. Dikasih Rp50 ribu sehari, kami di sini bisa dapat Rp150 ribu lebih,” ujarnya.
Dengan perhitungan tersebut, dalam sepekan musim mudik, penghasilan penyapu koin bisa melampaui Rp1 juta, jauh di atas kompensasi Rp600 ribu yang ditawarkan.
Dianggap Tradisi Tahunan
Selain faktor ekonomi, aktivitas menyapu koin juga dianggap sebagai tradisi tahunan yang sudah berlangsung puluhan tahun di kawasan Jembatan Sewoharjo.
Warga menyebut momen mudik sebagai “lahan rezeki” yang hanya datang setahun sekali. Karena itu, meski berisiko dan dilarang, banyak yang tetap memilih turun ke jalan.
“Ini momen setahun sekali, lahan rezeki buat kami,” kata Warto.
Upaya Penertiban Terus Dilakukan
Sebelumnya, Dedi Mulyadi menawarkan kompensasi Rp50 ribu per hari selama masa mudik dengan syarat warga menghentikan aktivitas berbahaya tersebut.
Langkah ini diambil untuk mengurangi risiko kecelakaan dan kemacetan di jalur Pantura yang padat pemudik.
Namun di lapangan, setelah kunjungan gubernur, para penyapu koin tetap kembali beraktivitas.
#viral #viraldimediasosial #viralvideo #dedimulyadi #kangdedimulyadi #penyapukoin #mudik #idulfitri #mudik