Pilunya Lebaran Palestina: Al-Aqsa Diblokir, Warga Gaza Bikin Kue di Tenda
Hironimus Rama March 20, 2026 07:35 PM

Laporan Joanita Ary

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, YERUSALEM – Perayaan Hari Raya Idulfitri tahun ini membawa dua kisah kontras nan memilukan dari bumi Palestina.

Di saat umat Muslim di berbagai belahan dunia merayakan hari kemenangan dengan penuh suka cita, warga Palestina harus berhadapan dengan laras senjata di Yerusalem. 

Mereka bahkan bertahan hidup di balik tenda terpal Jalur Gaza.

Baca juga: Jet Tempur Siluman F-35 AS Rontok Ditembak Iran, AS Panik Minta Dana Perang Rp3.397 Triliun?

Al-Aqsa Diblokir Imbas Eskalasi Israel-Iran

TAk hanya itu, kabar duka pun datang dari kawasan Yerusalem Timur. Otoritas Israel secara sepihak melarang pelaksanaan salat Idulfitri di kompleks Masjid Al-Aqsa.

Kebijakan pembatasan ini diberlakukan dengan dalih keamanan, menyusul memanasnya eskalasi militer antara Israel dan Iran beberapa waktu terakhir.

Larangan total di hari kemenangan ini memicu reaksi keras. Bagi umat Muslim, ini adalah tindakan yang sangat melukai hak beribadah di salah satu situs paling suci.

Sebagai bentuk perlawanan simbolik, sejumlah kelompok masyarakat Palestina menyerukan warga untuk tetap datang dan menggelar salat sedekat mungkin dengan tembok Kota Tua Yerusalem.

Situasi di lapangan dilaporkan sangat tegang. Pada hari-hari sebelumnya selama Ramadhan, aparat kepolisian Israel tanpa ragu membubarkan jemaah menggunakan pentungan, granat suara, hingga gas air mata.

Perlawanan Sunyi di Gaza: Aroma Kue Lebaran dari Balik Tenda

Bergeser ke Jalur Gaza yang luluh lantak, suasana haru menyelimuti kamp-kamp pengungsian di Khan Younis pada Kamis (19/3/2026).

Di tengah keterbatasan akses air bersih, ancaman kelaparan, dan hilangnya tempat tinggal, warga Palestina menolak menyerah pada keputusasaan.

Memanfaatkan sisa bantuan kemanusiaan berupa tepung dan minyak, para perempuan dan anak-anak tampak duduk bersama membuat kue kering khas Lebaran.

Tanpa dapur yang layak, adonan dicampur dan dipanggang menggunakan peralatan dan api seadanya.

Aktivitas sederhana ini menjelma menjadi perlawanan sunyi. Membakar kue Lebaran bukan sekadar tradisi kuliner, melainkan simbol ketahanan dan upaya mempertahankan kewarasan demi menjaga mental anak-anak yang telah lama hidup dalam bayang-bayang trauma darurat perang.

“Kami tidak punya banyak, tapi setidaknya mereka bisa merasakan sedikit kebahagiaan,” ujar lirih seorang ibu pengungsi, merangkum kepedihan sekaligus kekuatan warga Gaza.

Momen Idulfitri di Palestina tahun ini dimaknai lebih dari sekadar perayaan spiritual.

Di balik kue-kue sederhana yang dipanggang di atas api kecil, tersimpan doa dan harapan besar bahwa suatu hari nanti, Idulfitri dapat kembali dirayakan di rumah yang utuh, dalam suasana damai, tanpa ketakutan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.