Cerita Remaja Masjid Kampung Bojong Gedang Garut, Jaga Tradisi Pengelolaan Zakat Fitrah
Dedy Herdiana March 21, 2026 05:35 AM

 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Garut, Sidqi Al Ghifari 

TRIBUNPRIANGAN.COM, GARUT - Di dalam ruangan madrasah samping masjid sekelompok muda-mudi duduk bersila di lantai, tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Dengan alat timbang seadanya, mereka menakar beras lalu memasukkannya ke dalam kantong-kantong plastik hitam yang tersusun rapi di sudut ruangan.

Kesibukan di malam takbir menjelang Hari Raya Idul Fitri itu merupakan sebuah amanah, yakni pengelolaan zakat fitrah.

Di sudut lain, seorang pemuda dan beberapa warga tampak ikut membantu, seolah menegaskan bahwa ini bukan sekadar tanggung jawab, melainkan sebuah tradisi kebersamaan.

Mereka tergabung dalam Ikatan Remaja Masjid (IREMA) Masjid Jami Al Maghfiroh di Kampung Bojong Gedang, Desa Maripari, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Baca juga: Hujan Deras Disertai Angin Kencang Guyur Jalur Bandung-Garut, Ada Pohon Tumbang di Cicalengka

Sejak dibentuk sekitar 30 tahun lalu, para pemuda di kampung tersebut berkomitmen menghidupkan masjid melalui berbagai kegiatan positif.

Dari yang awalnya berpusat di Masjid Al Umar, kini aktivitas Irema melibatkan tiga masjid, yakni Al Umar, Assalam, dan Jami’e Al Magfirah yang menjadi pusat kegiatan saat ini.

Pembina Irema Bojong Gedang, Evan H Al Buchori, mengatakan bahwa keberadaan remaja masjid bukan hanya untuk mengurus kegiatan ibadah semata, tetapi juga menjadi wadah pembentukan karakter generasi muda.

"Dari dulu sampai sekarang, anak-anak muda di sini diajarkan untuk bertanggung jawab, mulai dari mengelola zakat fitrah, qurban, sampai kegiatan seperti kuliah subuh. Ini sudah jadi tradisi yang dijaga bersama," ujarnya kepada Tribun di sela-sela pembagian zakat fitrah, Jumat (20/3/2026).

Ia menuturkan, nilai-nilai yang ditanamkan oleh generasi terdahulu terus diwariskan secara turun-temurun. 

Setiap tahunnya, wajah-wajah baru hadir menggantikan generasi sebelumnya, namun semangat untuk memakmurkan masjid tetap terjaga.

Kepercayaan masyarakat terhadap Irema pun semakin kuat. Organisasi ini tidak hanya berperan dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari kultur sosial yang hidup di tengah warga.

"Setiap dari mereka belajar tentang tanggung jawab, kebersamaan, dan kepedulian, kelak akan jadi bekal untuk menghadapi hidup di masa depan," ungkapnya.

Di sudut lain, kelompok pendata amil zakat diperiksa satu per satu, dipantau oleh senior mereka sendiri untuk memastikan tak ada warga yang terlewat.

Data dicocokkan dengan teliti, nama demi nama disebut, seolah menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka itu ada hak yang harus sampai kepada yang berhak.

Bagi mereka, ini bukan sekadar pendataan, melainkan bentuk tanggung jawab moral yang diwariskan dari generasi sebelumnya, agar zakat yang dititipkan benar-benar tersalurkan dengan adil dan tepat sasaran.

Evan menjelaskan, bahwa setiap generasi ini terus dijaga, ketika mereka beranjak dewasa, generasi lain kembali muncul menggantikan. 

Dalam setiap kegiatan, selalu ada anak-anak kecil yang ikut sibuk, memperhatikan, meniru, dan perlahan belajar dari apa yang mereka lihat.

Dari situlah estafet itu dimulai. Tanpa banyak diajarkan secara formal, mereka tumbuh bersama suasana kebersamaan dan tanggung jawab. 

"Kelak, anak-anak itu akan berdiri di posisi yang sama, memikul amanah yang pernah diemban para seniornya, menjaga tradisi agar tetap hidup dan tak terputus oleh waktu," tandasnya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.