TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Agama Nasaruddin Umar bersyukur atas pelaksanaan malam takbiran jelang perayaan Idulfitri 1447 Hijriah yang berlangsung aman, damai, dan penuh ketenangan.
Dia pun mengajak seluruh masyarakat memaknai Idulfitri tidak hanya sebagai momentum ibadah, tetapi juga mempererat hubungan sosial melalui silaturahmi.
“Setelah salat Id, kita lanjutkan dengan silaturahmi. Bagi yang tidak sempat mudik, tetap doakan orang tua dari kejauhan,” kata Nasaruddin di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat (20/3/2026).
Dia juga mengajak seluruh masyarakat mendoakan bangsa Indonesia agar semakin makmur, adil, dan sejahtera, serta dijauhkan dari berbagai bencana.
Selain itu, Nasaruddin bicara bagaimana Ramadan tahun ini yang dinilai istimewa karena berdekatan dengan sejumlah hari besar keagamaan lain, seperti Imlek, Nyepi, hingga Paskah.
“Semoga momentum hari-hari keagamaan ini memberi energi positif untuk membangun bangsa dan memperkuat keluhuran budi pekerti,” ucapnya.
Untuk pelaksanaan Salat Id di Masjid Istiqlal, Menag menyebut akan dihadiri sejumlah tokoh nasional, termasuk Wakil Presiden Gibran Rakabumin Raka serta para pejabat tinggi negara.
Sementara itu, Presiden disebut memiliki agenda berbeda dengan rencana mengunjungi Aceh untuk bertemu masyarakat terdampak bencana.
“Beliau ingin bersama masyarakat terdampak bencana di Aceh. Ini bentuk kepedulian yang patut diapresiasi,” ujar Menag
Sebelumnya, Pemrintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan Hari Raya Idul Fitri atau 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Penetapan ini berbeda dengan Organisasi Kemasyarakatan Islam, Muhammadiyah yang menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat (19/3/2026).
Baca juga: Polri Sampaikan Hasil Pemantauan Malam Takbiran di Jakarta Aman Terkendali
Perihal perbedaan ini pemerintah dan DPR mengimbau masyarakat tetap menjaga kerukunan beragama serta saling toleransi.
“Semoga hal ini dapat menjadi simbol kebersamaan umat Islam di Indonesia yang sekaligus mencerminkan persatuan kita sebagai sesama anak bangsa dalam menyongsong masa depan yang lebih baik,” ujar Menteri Agama Nasaruddin Umar saat konferensi pers penetapan 1 Syawal 1447 H di Kantor Kemenag RI, Jakarta, Kamis malam (193/2026).
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang mengatakan, jika ada sebagian umat Islam yang sudah merayakan Idulfitri esok hari, ia mengimbau untuk saling menghormati.
“Andaikan ada masyarakat yang memahami dan percaya, memutuskan bahwa 1 Syawal di hari esok Jumat, bisa ditoleransi dan ini tidak menjadi perbedaan di antara kita sebagai umat Muslim, dan mari kita menjaga ukhuwah dengan baik,” kata dia.
Adapun pemerintah menetapkan 1 Syawal 1447 H atau Hari Raya Idul Fitri jatuh pada Sabtu, karena didasarkan hasil sidang isbat yang menjadi forum musyawarah dengan menimbang data hisab dan hasil rukyatul hilal atau pengamatan hilal di berbagai wilayah Indonesia.
Nasaruddin menyampaikan, kesimpulan 1 Syawal jatuh pada Sabtu, karena hasil pengamatan hilal di seluruh wilayah Indonesia, disebutkan hilal tidak terlihat dari Sabang hingga Merauke atau tidak memenuhi syarat sesuai kesepakatan Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).
(*)