Konflik di Timur Tengah, Eropa Jadi Tempat Pelarian Wisatawan Dunia?
GH News March 21, 2026 07:08 AM
Jakarta -

Penyerangan Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran berdampak kepada sektor pariwisata. Dengan alasan keamanan, banyak wisatawan mulai mengalihkan destinasi ke negara-negara di Eropa.

Dalam catatan World Travel & Tourism Council (WTTC), konflik itu membuat sekitar 550 juta euro pengeluaran wisatawan internasional terhenti di Timur Tengah. Padahal, sebelumnya kawasan Timur Tengah menjadi salah satu pusat pertumbuhan pariwisata global, baik sebagai destinasi liburan maupun hub transit internasional.

Menurut WTTC, Timur Tengah menyumbang sekitar 5% dari total kedatangan wisatawan internasional dunia dan sekitar 14% dari lalu lintas transit global. Artinya, gangguan sekecil apa pun di kawasan ini dapat memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap arus perjalanan internasional secara keseluruhan.

Di tengah meningkatnya ketidakpastian akibat konflik, persepsi keamanan menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan wisatawan. Eropa, yang selama ini dikenal memiliki stabilitas politik, infrastruktur pariwisata yang matang, serta konektivitas yang baik, kembali menjadi pilihan utama bagi banyak pelancong.

"Secara historis, Eropa dipandang sebagai destinasi yang stabil dan dapat diandalkan di tengah ketidakpastian global, dan ada tanda-tanda awal bahwa persepsi ini masih bertahan," ujar Eduardo Santander, CEO European Travel Commission, dilansir Sabtu (21/3/2026).

Menurutnya, salah satu keunggulan kompetitif Eropa adalah faktor keamanan. "Karena itu, di masa-masa yang tidak pasti, reputasi ini semakin memperkuat posisi Eropa sebagai pilihan perjalanan yang terpercaya bagi wisatawan internasional," dia menambahkan.

Santander menilai kawasan Mediterania, seperti Spanyol, Italia, dan Yunani, diperkirakan menjadi penerima manfaat terbesar. Selain memang memiliki beragam destinasi wisata alam dan budaya, wilayah itu juga relatif mudah diakses dari berbagai negara utama pengirim wisatawan di Eropa maupun luar Eropa.

Perubahan arah arus wisata itu juga berpotensi memperkuat tren perjalanan intra-Eropa. Artinya, wisatawan memilih destinasi yang lebih dekat untuk mengurangi risiko, biaya, dan ketidakpastian perjalanan jarak jauh, serta andai penerbangan semakin mahal akibat konflik itu.

"Selain itu, kita mungkin akan melihat lebih banyak warga Eropa memilih berlibur lebih dekat ke rumah daripada melakukan perjalanan jarak jauh, terutama jika rute penerbangan menjadi lebih panjang atau mahal," dia menambahkan.

Presiden Spanish Tourism Board, Juan Molas berpendapat serupa. Dia mengatakan jika berlanjut, kondisi itu tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga membantu pemerataan musim pariwisata di berbagai destinasi Eropa.

Namun, Molas tak hanya melihat potensi melainkan konsekuensi yang harus dihadapi. Apalagi, saat ini sejumlah kota di Eropa risau dengan overtourism.

"Upaya yang lebih kuat dalam hal pengaturan musim, distribusi wilayah, regulasi arus wisata, serta tata kelola publik-swasta sangat diperlukan dengan kondisi itu," ujar dia.

Syanti Mustika
Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.