SERAMBINEWS.COM – Pimpinan LPD Al Bahjah, Buya Yahya, mengingatkan umat Islam agar tidak sekadar merayakan Idul Fitri, tetapi juga menghidupkan sunnah-sunnah yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.
Dalam ceramah yang dikutip dari kanal YouTube Al Bahjah pada Sabtu (21/3/2026), Buya Yahya menjelaskan sejumlah amalan sunnah yang sering dianggap sepele, padahal memiliki makna penting dalam syariat.
Berikut sunnah Idul Fitri menurut Buya Yahya:
Buya Yahya menegaskan bahwa mandi sebelum berangkat salat Id merupakan sunnah yang kuat.
“Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, beliau mandi di hari raya sebelum menuju musala,” jelasnya.
Ia juga mengutip pendapat Imam Nawawi yang menyebut tidak ada perbedaan pendapat ulama tentang anjuran mandi di hari raya.
Baca juga: Tata Cara Shalat Idul Fitri di Rumah, Lengkap Niat &Doa Iftitah untuk yang Berhalangan ke Masjid
Dalam ceramahnya, Buya Yahya menyinggung kebiasaan para sahabat yang tampil rapi saat hari raya.
“Berhias itu sunnah. Masa sudah mandi tapi tidak berdandan?” ujarnya.
Ia mencontohkan kisah Umar bin Khattab yang pernah menawarkan pakaian bagus kepada Nabi untuk dikenakan saat Idul Fitri, meski akhirnya ditolak karena berbahan sutra.
Ini menjadi penekanan penting dari Buya Yahya.
“Disunahkan makan dulu sebelum berangkat. Jangan seperti orang masih puasa,” tegasnya.
Ia menjelaskan, Nabi Muhammad SAW bahkan makan kurma terlebih dahulu sebelum salat Id, sebagaimana riwayat dari Anas bin Malik.
Baca juga: 7 Sunnah Idul Fitri yang Sering Terlupakan, Ustaz Adi Hidayat: Jangan Sampai Terlewat!
Buya Yahya menyebutkan bahwa Nabi biasa makan kurma dalam jumlah ganjil, seperti 1, 3, atau 5 butir.
Hal ini menjadi bagian dari sunnah yang mudah diamalkan.
Mengutip penjelasan Ibnu Hajar al-Asqalani, Buya Yahya menjelaskan alasan di balik sunnah ini.
“Supaya tidak ada yang menyangka masih harus puasa sampai salat Id. Karena puasa di hari raya itu haram,” ungkapnya.
Buya Yahya juga mengingatkan sunnah yang sering dilupakan, yakni mengambil jalan berbeda saat pergi dan pulang dari salat Id.
“Supaya syiar Islam tersebar dan lebih banyak tempat yang menjadi saksi,” katanya, merujuk riwayat dari Jabir bin Abdullah.
Ia menambahkan, berjalan kaki menuju tempat salat lebih dianjurkan jika memungkinkan.
“Kalau bisa jalan kaki, itu sunnah. Tapi naik kendaraan tidak masalah,” jelasnya, merujuk riwayat Ali bin Abi Thalib.
Jika salat Id dilakukan di masjid, Buya Yahya menyarankan jamaah untuk melaksanakan tahiyatul masjid terlebih dahulu.
Namun, ia menegaskan imam tidak perlu melakukannya dan langsung memimpin salat.
Menurut Buya Yahya, berbeda dengan salat Jumat, khutbah Id tidak wajib diikuti.
“Nabi memberi pilihan, boleh duduk dengar khutbah, boleh juga pulang. Tapi mendengarkan itu lebih utama,” ujarnya.
Buya Yahya kembali menegaskan bahwa Idul Fitri adalah hari berbuka.
“Puasa di hari raya itu haram, maka dari pagi sudah ditunjukkan dengan makan,” katanya.
Melalui penjelasan ini, Buya Yahya mengajak umat Islam untuk menghidupkan sunnah-sunnah Idul Fitri, bukan sekadar merayakannya secara budaya.
“Yang penting bukan hanya ramai, tapi sesuai tuntunan Nabi,” pungkasnya. (Serambinews.com/Firdha)