Lamang Bakujuik, Hidangan Khas Batipuh Tanah Datar yang Hadir saat Lebaran
afrizal March 21, 2026 09:27 AM

TRIBUNPADANG.COM, TANAH DATAR – Momen Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran menjadi perayaan yang dinantikan masyarakat setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa. 

Di balik perayaan tersebut, terdapat beragam tradisi unik yang masih dilestarikan, salah satunya pembuatan lamang bakujuik di Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Lamang bakujuik merupakan hidangan khas yang menjadi varian dari lemang. 

Secara umum, lemang adalah makanan berbahan dasar beras ketan yang dimasak dalam bambu dan disajikan bersama pelengkap seperti kelapa parut, gula merah, tape, serta berbagai kondimen lainnya. 

Baca juga: Kuliner yang Sayang Dilewatkan saat Liburan Lebaran di Bukittinggi

Tidak Bisa Didapatkan Tiap Hari

Lamang bakujuik memiliki sentuhan lokal yang membuatnya berbeda dan istimewa.

Kuliner ini hanya hadir pada momen tertentu, yakni saat Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha. 

Karena tidak tersedia setiap hari, lamang bakujuik menjadi hidangan yang sangat spesial dan dinantikan oleh masyarakat Batipuh.

Secara bahasa, istilah “bakujuik” berasal dari kata dasar “kujuik” dalam bahasa Minangkabau yang berarti kerut atau mengerut. 

Hal ini sesuai dengan bentuk lamang yang tampak mengkerut akibat isiannya yang dipadatkan. 

Selain itu, ukurannya juga lebih kecil dibandingkan lemang pada umumnya.

Lamang Bakujuik Batipuh
MAKANAN KHAS LEBARAN - Lamang bakujuik khas Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, terbungkus daun pisang dan diikat tali plastik, Jumat (20/3/2026). Kuliner tradisional berbahan dasar beras ketan ini hanya hadir pada momen Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha serta menjadi simbol kebersamaan masyarakat setempat.

Cara Buat Berbeda dari Lemang Biasa

Salah seorang warga Batipuah Baruh, Uni Lis, menjelaskan bahwa lamang bakujuik memiliki ciri khas pada proses pembuatannya. 

Berbeda dengan lemang biasa yang dibakar, lamang bakujuik dimasak dengan cara direbus menggunakan santan.

Baca juga: Sate Itu Bonus, Hidangan Utama Adalah Suasana Pantai Padang

“Beras ketan yang sudah direndam lama dimasukkan ke dalam daun pisang yang telah dibentuk bulat menggunakan kayu atau bambu kecil, dengan bagian ujung dalam cetakan sudah diikat terlebih dahulu agar tidak tumpah,” jelasnya.

Ia melanjutkan, setelah beras ketan dimasukkan, bahan tersebut disiram santan hingga padat, kemudian bagian luar juga diikat menggunakan tali plastik sebelum dikeluarkan dari cetakan.

“Setelah dikeluarkan, bagian tengah kembali diikat agar adonan lebih padat, lalu direbus menggunakan santan hingga matang. Kalau lemang biasa pembuatannya dengan cara dibakar atau panggang," tambahnya.

Setelah proses memasak selesai, ketan akan menjadi lebih padat, gurih, serta memiliki tekstur yang lebih lembut dibandingkan lemang biasa. 

Tak Disantap Sendiri

Dalam penyajiannya, lamang bakujuik umumnya disantap bersama pisang, tape, atau campuran kelapa parut dan gula merah.

Menurut Lis, lamang bakujuik tidak hanya dikenal karena rasanya, tetapi juga karena menjadi bagian penting dari tradisi dan kebudayaan masyarakat Batipuh yang diwariskan secara turun-temurun.

Meskipun secara umum cara pembuatannya tidak jauh berbeda dengan lemang, terdapat beberapa tahapan yang menjadi ciri khas dalam pembuatan lamang bakujuik.

santap dan disajikan di piring bersama tape ketan.
MAKANAN KHAS LEBARAN - Lamang bakujuik khas Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, siap santap dan disajikan di piring bersama tape ketan. Kuliner tradisional berbahan dasar beras ketan ini hanya hadir pada momen Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha serta menjadi simbol kebersamaan masyarakat setempat.

Bagaimana Cara Membuatnya?

Pertama, persiapan cetakan dan daun pisang yang digunakan harus dipilih dengan hati-hati, yakni yang memiliki rongga besar dan cukup kuat untuk menahan ketan.

Daun yang dipilih pun merupakan bagian dekat ke pohon atau pangkal daun karena memiliki tekstur lebih kuat. 

Sementara itu lemang biasa lebih banyak menggunakan bagian ujung daun pisang atau yang lebih lunak.

Daun pisang disiapkan untuk membungkus ketan sekaligus memberikan aroma khas. 

Daun pisang segar dipotong dan dibersihkan sebelum digunakan.

Kedua, proses memasak ketan. Ketan yang telah direndam selama beberapa jam dimasukkan ke dalam cetakan yang telah dilapisi daun pisang. 

Ketan kemudian dimasak hingga matang sempurna, baik dengan cara dikukus atau direbus sehingga menyerap aroma daun pisang.

Ketiga, pembungkusan menggunakan daun pisang dan tali rapia. Setelah dimasukkan ke dalam cetakan, ketan dibungkus rapat dan diikat menggunakan tali rapia untuk menjaga bentuk dan kepadatannya selama proses pemasakan.

Keempat, proses pengukusan. Ketan yang telah dibungkus dikukus atau direbus selama beberapa jam hingga matang sempurna dan memiliki tekstur padat. 

Ciri khas lamang bakujuik terletak pada teksturnya yang lebih padat dan tidak terlalu lembek, sehingga memberikan sensasi kenyal yang berbeda dari lemang biasa.

Terakhir, penyajian. Setelah matang, lamang bakujuik dipotong-potong dan disajikan bersama pelengkap seperti tape, pisang, atau kelapa parut yang telah disangrai dengan tambahan gula merah, sehingga menghasilkan perpaduan rasa manis dan gurih.

Uni Lis juga mengatajan bahwa lamang bakujuik memiliki sejumlah keistimewaan yang membuatnya selalu dicari saat Lebaran dan Idul Adha. 

Selain karena hanya tersedia pada momen tertentu, proses pembuatannya yang masih tradisional menjadi nilai lebih yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat Batipuh.

"Lamang memang sudah selalu menjadi tradisi saat lebaran dari dulunya. Tapi lamang bakujuik memang dibuat lebih istimewa karena hanya hadir saat lebaran, memang itu ciri khasnya dari dulu disini, mungkin karena variasi cara membuat dan bentuknya menjadi lamang kujuik menjadi istimewa," katanya.

Di sisi lain, tradisi pembuatan lamang bakujuik juga menjadi simbol kebersamaan. 

Masyarakat Batipuh biasanya saling berbagi hidangan ini dengan keluarga, tetangga, dan kerabat saat Lebaran, sehingga mempererat tali persaudaraan.

Lamang bakujuik tidak sekadar makanan, melainkan bagian dari warisan budaya Minangkabau yang perlu dilestarikan. 

Tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga kearifan lokal sekaligus merayakan kebersamaan dalam momen-momen spesial.

Bagi masyarakat yang belum pernah mencicipinya, Batipuh menjadi tempat yang tepat untuk menikmati lamang bakujuik saat Lebaran atau Idul Adha. 

Kehadirannya yang terbatas menjadikan hidangan ini semakin istimewa.

Dengan bahan sederhana seperti beras ketan, daun pisang serta melalui proses pembuatan yang penuh ketelitian dan kebersamaan, lamang bakujuik menjadi simbol kekayaan budaya dan cita rasa khas Minangkabau.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.