TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tak lama setelah gema takbir dan pelaksanaan Salat Idulfitri di Kota Semarang, arus manusia mengalir menuju satu titik: kompleks Makam Bergota.
Dari berbagai penjuru kota, warga berdatangan membawa satu tujuan yang sama, menyambung doa untuk mereka yang telah tiada.
Sejak pagi hari, langkah-langkah peziarah mulai memenuhi area pemakaman terbesar di Kota Semarang itu.
Baca juga: Tokoh Lintas Agama Sambangi MAJT Usai Salat Id, Uskup Agung: Momen Indah Pererat Persaudaraan
Jalan protokol di sekitarnya pun berubah menjadi padat merayap. Kendaraan mengular, sementara petugas gabungan terlihat bersiaga, memastikan arus tetap terkendali di tengah lonjakan pengunjung.
Di dalam area makam, suasana terasa berbeda. Riuh kendaraan di luar seolah teredam oleh lantunan doa dan bacaan tahlil yang menggema di antara deretan nisan.
Keluarga-keluarga duduk berkelompok, sebagian menaburkan bunga, sebagian lagi membersihkan pusara dari rumput liar dan dedaunan kering.
Ada yang larut dalam doa, ada pula yang terdiam cukup lama, seakan berbincang dalam diam dengan kenangan.
Bagi banyak warga, ziarah kubur usai Salat Id bukan sekadar kebiasaan, melainkan tradisi yang sarat makna.
Momen ini menjadi ruang untuk mengingat, mendoakan, sekaligus mempererat ikatan keluarga lintas generasi.
“Setiap habis Salat Id langsung ke sini. Sudah jadi tradisi keluarga untuk mendoakan orang tua dan saudara yang sudah meninggal,” ujar Siti Aminah (45), salah satu peziarah yang datang bersama keluarganya, Sabtu (21/3/2026).
Tak hanya peziarah, warga sekitar juga turut ambil bagian dalam menjaga kelancaran aktivitas.
Mereka sigap membantu mengatur arus keluar-masuk kendaraan, terutama di jalur menuju kompleks makam yang relatif sempit.
“Hajat besar setiap Idulfitri, jadi kami ikut membantu,” kata Yatno, warga sekitar Makam Bergota.
Meski jumlah pengunjung membludak, suasana tetap terjaga kondusif. Para peziarah bergantian memasuki area makam dengan tertib, menjaga ketenangan dan kekhusyukan selama prosesi berlangsung.
Lonjakan peziarah saat Lebaran sejatinya menjadi fenomena tahunan. Namun, pada 2026 ini, jumlahnya terasa lebih besar.
Tingginya mobilitas masyarakat selama musim mudik disebut menjadi salah satu faktor meningkatnya jumlah warga yang kembali ke kampung halaman dan menyempatkan diri berziarah. (bud)
Baca juga: Salat Idulfitri di Lawang Sewu, Eni Lepas Rindu Setelah 30 Tahun Merantau