Oleh Ketua Fraksi Gerindra DPRD Manado Ferdinand Dumais
KOTA Manado patut berbangga menyandang julukan sebagai Kota Toleransi.
Secara konsisten, Setara Institute menempatkan Manado dalam jajaran enam besar kota paling toleran di Indonesia.
Hal ini bukan tanpa alasan; modal dasarnya adalah "DNA" masyarakat Manado yang inklusif, sejuk, dan damai sebuah fondasi utama bagi stabilitas politik dan ekonomi daerah.
Sejak tahun 2026, Manado telah menjadi barometer kerukunan nasional. Prestasi ini diperkuat dengan raihan peringkat ketiga kategori Kinerja Terbaik Pemerintah Kota dalam Harmoni Award tahun 2025.
Bukti nyata dari harmoni ini dapat disaksikan di Kampung Arab (Kelurahan Istiqlal) melalui Tradisi Iwad.
Tradisi berkunjung dari rumah ke rumah untuk mendoakan keselamatan bersama ini telah menjadi role model silaturahmi di Indonesia.
Sikap toleran masyarakat ini sejalan dengan pemikiran filsuf Maroko, Mohamad Abid Al-Jabiri, dalam mahakaryanya Naqd Al-Aql al-Arabi (Kritik Nalar Arab).
Ia menawarkan tiga pendekatan epistemologi Islam: Bayani (ijtihad berbasis teks), Irfani (pengetahuan intuitif), dan Burhani (penalaran/penelitian).
Memaknai Kembali Fitrah
Landasan berpikir di atas membawa kita pada konsep Fitrah. Fitrah adalah entitas dan sintesis dari kesatuan berpikir, merasa, dan bertindak sesuai suara Sang Pencipta yang bersemayam dalam diri manusia.
Sejatinya, Fitrah adalah potensi bawaan yang suci murni, di mana setiap insan dibekali nurani dan kekuatan moral untuk membedakan yang benar dan salah:
Al-Hanif: Karakter lurus, jujur, dan memiliki empati tinggi.
Kebenaran Absolut: Menyadari Allah sebagai Dzat Kebenaran yang hakiki.
Proses Dinamis: Fitrah tidak bersifat statis, melainkan sebuah persemaian yang terus berproses.
Jalan Pulang: Fitrah adalah pintu transisi dari pengaruh negatif dunia menuju entitas kesucian.
Maka, Ramadan adalah "jalan pulang" menuju rumah suci melalui tobat dan penanggalan manusia lama yang penuh dosa, demi kembali ke kehidupan suci selayaknya di Firdaus.
Sebuah Harapan Global
Menutup refleksi ini, saat saudara-saudari Muslim mengakhiri masa Ramadan dan menyambut kemenangan Idulfitri 1447 H, kita semua masyarakat Manado diajak untuk kembali ke Fitrah masing-masing.
Momen ini menjadi istimewa karena bertepatan dengan umat Kristiani dan Katolik di seluruh dunia yang sedang menjalankan masa Prapaskah.
Kita semua berada di frekuensi yang sama: Frekuensi Fitrah.
Jika kita semua berkomitmen untuk kembali ke kesucian diri, maka kedamaian akan merembet secara global. Dari lokal Sulawesi Utara dan Manado, meluas ke nasional, hingga menyentuh panggung dunia.
Kita berharap, konflik-konflik global seperti ketegangan Iran, Israel, dan Amerika Serikat pun dapat "di-fitrah-kan", sehingga perdamaian dan kesejahteraan bukan lagi sekadar harapan, melainkan sebuah keniscayaan.
Al-Farabi: > "Idulfitri adalah momentum untuk kembali ke Al-Madinah Al-Fadilah (Negara Utama) di dalam diri kita sendiri, di mana kebajikan memimpin setiap tindakan."
Ibnu Sina: > "Setelah sebulan mengasah ketajaman spiritual, biarkan cahaya akal membimbing kita menuju kebenaran yang lebih tinggi."
Kepada saudara-saudariku yang beragama Islam, saya bersama para sahabat mengucapkan:
"Selamat Idulfitri 1447 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin." kata dia. (Art)