Tahan Sedih di Malam Takbiran, Rapi Tetap Sibuk Bersihkan Sampah di Jalan, Diupah Rp 80 Ribu Sehari
Ani Susanti March 21, 2026 02:14 PM

TRIBUNJATIM.COM - Ada banyak orang yang tetap bekerja meskipun gema takbir sudah berkumandang.

Rapi adalah satu di antaranya.

Saat ribuan orang di Jambi dengan iring-iringan mobil hias padati jalanan di malam penyambutan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, Rapi dan teman-temannya sibuk membersihkan sampah.

Pada Jumat (20/3/2026) malam, tawa lepas dan suara takbir yang lantang hingga letusan kembang api membawa semua orang larut dalam kegembiraan.

Iring-iringan mobil hias mengitari jalan utama hingga lorong-lorong di Tanah Pih Pusako Betuah itu.

Baca juga: 24 Tahun Jadi Penyapu Makam, Mariyah Kini Berjuang Lunasi Utang Rp 57 Juta setelah Suami Tiada

Malam semakin larut, keramaian mulai bertumpu di beberapa titik, ada yang bergerak ke arah Telanaipura, ada yang bergerak ke arah kawasan Tugu Keris, Kota Baru, dan titik keramaian lainnya.

Lorong-lorong kecil mulai sepi, namun nyaring takbir sesekali terdengar akibat gema yang dibawa angin.

Di saat itulah Rapi dan tiga orang temannya sibuk bekerja ditemani sayup-sayup suara takbir, di sebuah lorong gelap, bau yang tidak sedap dari sampah yang tertumpuk padat.

Rapi sudah berusia 49 tahun, dia merupakan petugas kebersihan di Kota Jambi.

Di malam yang semakin larut menuju dini hari itu, Rapi dengan sepatu bot, topi dan sarung tangan sibuk bekerja, memindahkan tumpukan sampah dari tempat pembuangan sementara ke dalam truk. 

Ingin Berkumpul Bersama Keluarga

Mereka berempat berbagi tugas, dua orang memegang garpu, mengisi sampah ke dalam keranjang rotan.

Setiap kali keranjang rotan terisi sampah, Rapi bergegas mengangkat dan melemparkannya ke dalam truk, yang disambut oleh satu orang temannya yang bertugas di dalam truk.

Malam itu tidak ada suara dari mereka berempat, semua fokus dengan tugasnya, hanya terdengar gemersik plastik sampah yang diurai dari tumpukan, serta suara langkah dari sepatu bot yang dihentakkan ke aspal saat Rapi mengangkat keranjang sampah ke truk.

Keheningan ini membuat suara takbir terdengar nyaring, mengiringi Rapi dan temannya mengorek tumpukan sampah dengan aroma menyengat.

Jika ditanya, hati kecil Rapi ingin sekali berada di rumah atau keluar bersama tiga anak dan istrinya untuk menyaksikan kemeriahan malam takbir di malam itu.

Namun baginya bekerja adalah keharusan, jika tidak, maka tidak akan ada uang yang dia bawa pulang untuk kebutuhan hidupnya.

Rapi memilih menanam kesedihan dan kerinduan itu sedalam mungkin di hatinya, terlebih saat dia menyaksikan orang-orang bepergian menyaksikan kemeriahan malam takbir itu.

"Kalau dibilang iri, rindu pas lihat orang, ya pastilah gak bisa dipungkiri, tetapi kan tidak ada pilihan, ya harus bekerja untuk keluarga," kata Rapi, sembari mengangkat keranjang rotan penuh sampah di tangannya, Jumat (21/3/2026), melansir dari Kompas.com.

Dia menyadari bahwa rangkaian Hari Raya Idul Fitri adalah momen untuk berkumpul bersama keluarga. Tetapi hal itu tidak selalu bisa dia lakukan.

"Mudah-mudahan bisa Shalat Id sama keluarga, tetapi kadang malam takbir ataupun Hari Raya nian, kita gak bisa kumpul karena harus kerja," katanya. Volume sampah kata Rapi justru meningkat drastis ketika bulan puasa tiba. Sehingga, dia tetap harus bekerja.

Sudah selayaknya Rapi dan ratusan teman seprofesinya mendapat perhatian lebih dari pemerintah.

Sulit membayangkan betapa cepatnya tumpukan sampah merusak keindahan dan menjadi sumber penyakit di Kota Jambi jika para petugas kebersihan berhenti bekerja meski hanya satu hari.

Namun mereka masih diupah di bawah kata layak, tidak ada jaminan kesehatan, apalagi keselamatan kerja.

"Kami upahnya harian, sehari Rp80 ribu. Wah, gak ada, gak ada BPJS Kesehatan, gak ada BPJS Ketenagakerjaan," kata Rapi.

Berharap Digaji Setara

Rapi berharap, gajinya setara dengan UMP atau UMK, setidaknya mendekati.

"Kami berharap naik lah, ya ini juga bukan untuk saya, tetapi pekerja berikutnya," tambahnya.

Bagi Rapi, uang koin pecahan 1 rupiah merupakan nilai yang sangat berarti.

Rapi kerap kali mengumpulkan uang koin yang dia temukan dari tumpukan-tumpukan sampah yang dia angkut.

Saat tak sengaja menemukan uang koin itu, dia ambil dan dia masukkan ke saku celananya.

Tak jarang temannya yang lain ikut memberi uang koin yang tak bertuan kepada Rapi.

"Ya dikumpulin aja, pasti kepake, tetapi gak yang niat-niat kali, kalau ada ambil dikumpulin gitu," jelasnya.

Beruntung, istri dan anak Rapi tak pernah mengeluh atas profesi yang dia jalani, meski kadang dia berangkat kerja saat keluarganya masih tertidur.

"Kalau keluar itu sekitar jam 04.00 atau 05.00 WIB, terus balik jam 10.00 WIB, lanjut lagi sore, ya begitu," katanya.

Namun semua itu dijalani dengan ikhlas oleh Rapi, dia masih bersyukur masih bisa mendengar gema takbir di tahun ke tahun, meski belum bisa memeriahkannya langsung. (Aryo Tondang)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.