Masjid Al Aqsa Ditutup Saat Idul Fitri 2026, Pertama Sejak 1967, Picu Kecaman Dunia
Heriani AM March 21, 2026 02:19 PM

 

TRIBUNKALTIM.CO - Untuk pertama kalinya sejak 1967, Masjid Al-Aqsa ditutup pada momen Idul Fitri 2026. 

Penutupan situs suci yang berada di Yerusalem ini memicu perhatian dunia karena dinilai sebagai peristiwa langka sekaligus sensitif di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.

Kebijakan penutupan dilakukan oleh otoritas Israel dengan alasan keamanan, menyusul konflik yang melibatkan Israel dan Iran.

Dampaknya, ratusan jamaah Muslim terpaksa melaksanakan salat Id di luar kawasan Kota Tua karena akses menuju kompleks masjid diblokade.

Baca juga: Warga Gaza Salat Id di Tengah Reruntuhan, Israel Perketat Pembatasan

Mengutip The Guardian, ratusan jamaah terpaksa melaksanakan salat di jalan-jalan luar Kota Tua karena polisi Israel membarikade pintu masuk ke lokasi tersebut.

Israel menutup masjid Al-Aqsa sejak perang AS-Israel melawan Iran, pada 28 Februari 2026, dengan alasan kekhawatiran keamanan.

Para pejabat menyebut, langkah tersebut sebagai tindakan keamanan yang berkaitan dengan meningkatnya konfrontasi dengan Iran.

Namun, warga Palestina menilai langkah tersebut sebagai bagian dari strategi Israel yang lebih luas untuk memanfaatkan ketegangan keamanan guna memperketat pembatasan dan memperkuat kendali atas kompleks Masjid Al-Aqsa, yang dikenal sebagai Al-Haram Al-Sharif bagi umat Muslim. 

Kompleks ini juga mencakup tempat suci Islam Kubah Batu yang dibangun pada abad ke-7. 

Bagi umat Yahudi, tempat itu dikenal sebagai Bukit Bait Suci, lokasi Bait Suci Pertama dan Kedua yang berasal dari abad ke-10 SM dan dihancurkan oleh bangsa Romawi pada tahun 70 M.

“Hari Paling Menyedihkan bagi Jamaah Musim di Yerusalem”“Hari ini adalah hari paling menyedihkan bagi para jamaah Muslim di Yerusalem,” kata Hazen Bulbul, seorang warga Yerusalem berusia 48 tahun yang telah merayakan akhir Ramadan di Masjid Al-Aqsa sejak kecil, kepada The Guardian. 

“Yang saya khawatirkan adalah ini akan menjadi preseden berbahaya. Mungkin ini pertama kalinya, tetapi mungkin bukan yang terakhir. Campur tangan Israel di kota suci ini telah meningkat sejak 7 Oktober 2023,” katanya, merujuk pada serangan Hamas terhadap Israel dan perang Gaza yang menyusul kemudian.

Baca juga: Kilang Minyak Haifa Diguncang Rudal Iran, Pasokan Listrik Israel Utara Sempat Lumpuh

Dalam beberapa bulan terakhir, terjadi peningkatan tajam dalam penangkapan jamaah dan staf keagamaan Palestina di Kota Tua, bersamaan dengan penyerbuan berulang kali ke kompleks tersebut oleh pemukim Israel.

Polisi juga menahan beberapa individu di dalam kompleks masjid, termasuk saat waktu salat, serta membatasi akses bagi banyak warga Palestina yang ingin masuk.

Kota Tua, yang biasanya ramai oleh warga Palestina menjelang Idul Fitri, sebagian besar tampak sepi pada hari Jumat.

Jalanan terlihat sangat sunyi. 

Keheningan itu terpecah pada siang hari oleh ledakan besar yang menggema di seluruh Yerusalem. 

Menurut IDF, sebuah rudal Iran berhasil dicegat, dan pecahannya jatuh sehingga menyebabkan kerusakan di area parkir di Kawasan Yahudi, sekitar 400 meter dari kompleks Masjid Al-Aqsa di Bukit Bait Suci. 

Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

Di dalam dan sekitar Kota Tua, para pemilik toko Palestina dilarang membuka sebagian besar usaha mereka; hanya apotek dan toko bahan makanan pokok yang diizinkan beroperasi. 

Para pedagang mengatakan bahwa kebijakan tersebut telah membuat mereka mengalami kesulitan ekonomi yang serius.

Sekitar pukul 06.00 pagi, pasukan Israel memblokir jamaah yang hendak memasuki Kota Tua melalui Gerbang Herodes, dan menggunakan benda yang diduga granat kejut untuk membubarkan kerumunan.

Setidaknya tujuh warga Palestina ditahan.

Sheikh Ekrima Sabri, penceramah Al-Aqsa dan mantan mufti besar Yerusalem, mengeluarkan fatwa yang mendesak umat Muslim untuk melaksanakan salat Id di lokasi terdekat dengan masjid. 

Dengan kehadiran pasukan keamanan yang ketat di lorong-lorong Kota Tua, serta penggeledahan dan konfrontasi antara pasukan Israel dan penduduk, banyak pihak khawatir ketegangan akibat penutupan masjid pada hari terakhir Ramadan dapat meningkat menjadi bentrokan dengan polisi.

Baca juga: Dianggap Diskriminasi terhadap Palestina, FIFA Sanksi Israel: Denda Rp3,214 Miliar

Menuai Kecaman

Penutupan tersebut, menuai kecaman dari Liga Arab, yang menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.

Liga Arab memperingatkan bahwa tindakan ini berisiko merusak kebebasan beribadah serta memicu ketegangan di seluruh kawasan.

Organisasi Kerja Sama Islam, Liga Arab, dan Komisi Uni Afrika juga menyatakan kecaman keras terhadap penutupan Masjid Al-Aqsa bagi jamaah Muslim, terutama selama bulan suci Ramadan.

Dalam pernyataan bersama, mereka menyatakan bahwa penutupan tersebut merupakan pelanggaran berat terhadap status quo historis dan hukum di situs-situs suci Islam dan Kristen di Yerusalem yang diduduki, serangan terhadap hak-hak keagamaan dan warisan umat Islam, provokasi terhadap perasaan umat Muslim di seluruh dunia, serta pelanggaran terhadap kebebasan beribadah dan kesucian tempat-tempat suci.

“Israel, sebagai kekuatan pendudukan,bertanggung jawab penuh atas konsekuensi dari tindakan ilegal dan provokatif ini,” bunyi pernyataan tersebut.

Pernyataan tersebut, juga menambahkan bahwa kelanjutan tindakan tersebut menandakan peningkatan kekerasan dan ketegangan serta mengancam perdamaian dan keamanan regional maupun internasional.

Khalil Assali, direktur unit media di kantor presiden Universitas Al-Quds, menyebut penutupan masjid itu sebagai bencana bagi warga Palestina.

Ia menambahkan, “Ketika tentara Israel melihat pemuda Palestina mencoba salat di titik terdekat dengan Masjid Al-Aqsa, mereka mengejar dan mengusir mereka, bahkan saat mereka sedang melaksanakan salat.” (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.