TRIBUNMANADO.CO.ID - Pagi itu, seusai Salat Ied, di momen Fitri yang suci, suasana di Kolongan, Minahasa Utara, terasa berbeda.
Udara sejuk berpadu dengan hangatnya kebersamaan yang mulai terjalin sejak langkah pertama.
Para anggota keluarga besar Moha memasuki rumah open house keluarga Moha–Djumangin.
Satu per satu saudara, saudari, ponakan, anak-anak hingga cucu datang dan saling bersalaman.
Senyum merekah.
Pelukan hangat pun tak terelakkan.
Di hari kemenangan ini, jarak dan perbedaan seolah luruh.
Semuanya tergantikan oleh rasa rindu yang terbayarkan dalam kebersamaan.
Di ruang tamu dan halaman rumah, tawa mulai terdengar.
Anak-anak berlarian, para orang tua berbincang santai.
Sementara yang lain larut dalam cerita lama yang kembali dihidupkan.
Momen ini bukan sekadar pertemuan.
Tetapi menjadi ruang untuk saling memaafkan dan mempererat tali silaturahmi.
“Ini bentuk sukacita dan kasih sayang Allah bagi kami, kebersamaan yang kiranya akan terus harmonis dalam bingkai perbedaan,” ungkap Soeprapti Djumangin dengan mata berbinar.
Tanpa sekat, semua berbaur.
Perbedaan yang ada justru menjadi warna yang memperkaya kebersamaan.
Di tengah suasana penuh kehangatan itu, makna Idul Fitri terasa begitu nyata tentang kembali, memaafkan, dan menguatkan ikatan keluarga.
Hari itu, keluarga besar Moha tidak hanya merayakan Idul Fitri.
Mereka merayakan kebersamaan.
Merawat kasih sayang, dan meneguhkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk terus menjaga harmoni dalam keluarga.
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini