Perajin Ketupat di Bandung Sealalu Ramai Pesanan Jelang Lebaran Tapi Minim Regenerasi
Kemal Setia Permana March 21, 2026 03:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Anyaman janur itu masih bergerak di tangan Nia Kurniati. Satu per satu ketupat terbentuk, ditumpuk di sudut rumahnya di kawasan yang dikenal sebagai blok ketupat di Bandung. 

Pesanan memang terus berdatangan jelang Lebaran tahun ini. 

Bagi wanita berusia empat puluh lima tahun, membuat ketupat bukan sekadar pekerjaan musiman. Ini adalah tradisi panjang yang diwariskan turun-temurun dari orangtuanya. 

“Sudah tradisi dari dulu, dari orang tua,” ujar Nia saat ditemui di kawasan Caringin, Kota Bandung, Jumat (20/3/2026). 

Nia mengaku kehidupanya sudah akrab dengan anyaman janur sejak kecil.

Ia belajar membuat anyaman ketupat dari orangtuanya saat kelas 4 SD di usia 8 tahun dan sudah turut membantu berjualan.

Kini, lebih dari 40 tahun berlalu, tradisi itu masih ia jalani setiap tahun.

Baca juga: Zakat Fitrah & ZIS Jawa Barat 2026 Tembus Rp1,1 Triliun, Naik 12 Persen Dibanding Tahun Lalu

Menjelang Lebaran, aktivitas di rumahnya meningkat tajam. Dalam empat hari sebelum hari raya, Nia dan keluarganya mulai memproduksi ketupat dalam jumlah besar.

Puncak pembelian terjadi mendekati hari raya. 

“Tahun ini lumayan, kalau kemarin sempat sepi,” ujarnya.

Dalam satu musim, ia bisa membuat hingga puluhan ribu ketupat. 

Pesanan yang datang berasal dari berbagai penjuru Bandung Raya, meski sebagian besar masih dari pelanggan sekitar.

Namun, di balik semua itu, ada kegelisahan dibenak Nia yaitu soal regenerasi.

Di rumah produksi sederhana itu, Nia dibantu sekitar empat orang yang semuanya anggota keluarga. Namun tidak ada anak muda yang ikut terlibat. Padahal, dulu ia sudah belajar sejak usia belia.

“Anak-anak sekarang mah beda,” katanya. 

Baca juga: Evaluasi Mudik Jabar 2026, Gubernur Dedi Mulyadi Ungkap Pemicu Kepadatan di Ruas Tol

Anak sulungnya yang kini berusia 25 tahun pun belum tertarik melanjutkan usaha ini, lantaran sibuk bekerja. Nia melihat tidak ada keinginan generasi muda saat ini untuk belajar meneruskan tradisi membuat ketupat. 

Hal serupa dirasakan Wawan (48). 

Tidak semua orang bisa atau mau belajar keterampilan tersebut.

 “Sekarang ada yang bisa, ada yang enggak bisa. Ada sebagian anak-anak kecil, terutama perempuan itu bisa. Kalau yang laki-laki susah. Enggak tahu juga anak zaman sekarang," katanya. 

Menurut Wawan, dulu ia hanya melihat kemampuan kedua orangtuanya dalam membuat kulit ketupat langsung tertarik. 

Keahliannya tersebut mengantarkan pintu rezeki bagi Wawan. Dalam kesehariannya, ia tetap membuat dan menjual ketupat. 

Bahkan di luar musim Lebaran, ia tetap memproduksi ketupat untuk kebutuhan harian. 

Saat mendekati hari raya, produksinya bisa mencapai 1.000 ketupat per hari. Sebelum menjajakan kulit ketupat, dia lebih dahulu mengerjakan milik orang lain. 

“Jadi ngeburuh (bekerja) dulu sama orang. Baru mendekati Lebaran, kita jual sendiri," kata Wawan. 

Dari hasil bekerja, Wawan mendapatkan hasil upah sebesar Rp100 ribu. 

Di blok tersebut, tidak ada komunitas atau kelompok perajin resmi. Semua berjalan secara mandiri, dari rumah ke rumah. 

Bahan baku janur didatangkan bersama-sama dari Tasikmalaya, lalu dibagi antarwarga.

Penjualan pun masih sederhana. Sebagian pelanggan datang langsung, sebagian lainnya memesan lewat WhatsApp. 

Belum ada yang benar-benar memanfaatkan media sosial atau platform digital untuk memperluas pasar.

Meski begitu, cangkang ketupat-ketupat itu tetap habis terjual setiap Lebaran. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.