Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin I Aceh Utara
SERAMBINEWS.COM,LHOKSUKON – Wakil Ketua Fraksi Karya Independen Amanat Sejahtera (KIAS) DPRK Aceh Utara yang juga Ketua DPD PAN Aceh Utara, Fakhrurrazi SIP, meminta Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah untuk segera mempercepat rehabilitasi lahan persawahan masyarakat yang terdampak banjir.
Hal ini dinilai penting agar para petani dapat kembali beraktivitas dan memiliki sumber penghidupan setelah masa rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) pascabencana berakhir.
Ia menegaskan, langkah tersebut perlu dipikirkan sejak dini agar tidak menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.
Terlebih, saat ini sebagian korban banjir sudah mulai menempati hunian tetap (huntap), sementara sebagian lainnya masih tinggal di hunian sementara (huntara).
“Kondisi ini tentu membutuhkan perhatian serius, karena masyarakat yang sudah kembali ke tempat tinggalnya memerlukan pekerjaan untuk keberlangsungan hidup,” ujar Fakhrurrazi kepada Serambinews.com, Sabtu (21/3/2026).
Menurutnya, proses rehabilitasi lahan sawah yang tertutup lumpur tidak dapat dilakukan secara instan dan membutuhkan waktu yang cukup lama.
Oleh karena itu, jika tidak segera dimulai, para petani akan kesulitan melanjutkan kehidupan mereka akibat kehilangan mata pencaharian.
“Untuk merehabilitasi sawah yang terendam lumpur membutuhkan waktu lama. Kalau tidak dimulai sekarang, bagaimana mereka bisa melanjutkan hidup tanpa penghasilan yang pasti,” katanya.
Selain itu, ia juga berharap pemerintah segera menuntaskan pembangunan hunian sementara dan hunian tetap bagi warga terdampak banjir.
Pasalnya, masih terdapat sejumlah korban yang hingga kini masih berada di pengungsian.
“Pemerintah juga kita harapkan segera menuntaskan pembangunan huntara dan huntap, karena masih ada korban banjir yang masih mengungsi,” tambahnya.
Baca juga: Berkunjung ke Aceh Tamiang, Presiden Prabowo Sebut Pemulihan Pascabanjir Hampir 100 Persen
Berdasarkan data yang diperoleh Serambinews.com, dari Dinas Pertanian dan Pangan Aceh Utara, sektor pertanian khususnya lahan persawahan—mengalami dampak serius akibat banjir yang melanda sejumlah wilayah pada akhir November 2025.
Selain menyebabkan gagal panen, banjir juga merusak banyak areal persawahan sehingga tidak dapat difungsikan kembali sebelum dilakukan perbaikan.
Tercatat sebanyak 11.929 hektare tanaman padi mengalami puso akibat banjir tersebut.
Akibatnya, para petani di Aceh Utara diperkirakan mengalami kerugian hingga lebih dari Rp 600 miliar, belum termasuk kerusakan fisik lahan sawah.
Secara keseluruhan, luas baku sawah di Aceh Utara mencapai 39.762 hektare, dengan sekitar 18.316 hektare atau 46 persen di antaranya terdampak banjir.
Dari total lahan yang terdampak, tingkat kerusakan terbagi menjadi tiga kategori, yakni rusak berat 4.679 hektare, rusak sedang: 6.447 hektare dan rusak ringan: 7.189 hektare
Kerusakan tersebut tersebar di berbagai kecamatan, terutama di kawasan pesisir dan daerah aliran sungai yang rentan tergenang saat curah hujan tinggi.
Dengan kondisi tersebut, percepatan rehabilitasi lahan pertanian dinilai menjadi langkah krusial untuk memulihkan ekonomi masyarakat, khususnya petani yang terdampak langsung oleh bencana banjir.(*)