Negara-Negara Ini Paling Terdampak Perang Iran, Ancaman Krisis Energi Global Kian Nyata
SERAMBINEWS.COM- Perang yang berkepanjangan di Iran berpotensi memicu krisis energi global yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah, tetapi juga menyebar ke berbagai negara besar hingga ekonomi yang lebih rapuh.
Lonjakan harga minyak dan gas serta terganggunya jalur distribusi menjadi faktor utama yang memperburuk situasi.
Jerman misalnya, sangat bergantung pada sektor industri dan manufaktur.
Baca juga: AS Putar Haluan! Sanksi Minyak Iran Dilonggarkan, Harga Energi Dunia Terancam Tak Stabil?
Kenaikan harga energi membuat biaya produksi meningkat, sementara permintaan global berisiko menurun.
Kondisi ini bisa memperlambat pemulihan ekonomi Jerman yang baru saja menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Situasi serupa juga dialami Italia, yang memiliki sektor manufaktur besar dan ketergantungan tinggi pada minyak serta gas.
Sementara itu, Britania Raya menghadapi tekanan karena pembangkit listriknya banyak bergantung pada gas.
Lonjakan harga gas otomatis mendorong kenaikan tarif listrik, yang berimbas pada inflasi dan biaya hidup masyarakat.
Baca juga: Trump Ngotot Perang Berlanjut, AS–Israel Gempur Iran, Selat Hormuz Jadi Taruhan Global
Di Asia, Jepang menjadi salah satu negara paling rentan.
Sekitar 95 persen kebutuhan minyaknya berasal dari Timur Tengah, dan sebagian besar melewati Selat Hormuz.
Gangguan di jalur ini akan langsung berdampak pada pasokan energi Jepang, memperparah inflasi yang sudah tinggi akibat pelemahan nilai tukar yen.
Negara berkembang seperti India juga menghadapi tekanan besar.
Dengan ketergantungan impor minyak mencapai sekitar 90 persen, lonjakan harga energi memukul sektor rumah tangga dan usaha kecil.
Bahkan, di beberapa wilayah, terjadi pengurangan penggunaan gas untuk memasak karena harganya melonjak.
Baca juga: Pertahanan Teluk Jebol, AS Kebut Kirim Sistem Anti-Drone dan Radar Canggih Hadapi Serangan Iran
Sementara itu, Turki menghadapi tantangan ganda. Selain tekanan ekonomi akibat inflasi dan nilai mata uang yang melemah, negara ini juga berisiko menerima gelombang pengungsi dari konflik di perbatasannya dengan Iran.
Di kawasan Teluk, negara-negara seperti Kuwait, Qatar, dan Bahrain juga terdampak.
Meski kaya energi, mereka tetap bergantung pada jalur ekspor melalui Selat Hormuz.
Jika jalur ini terganggu, pendapatan negara bisa menurun drastis.
Selain itu, sejumlah negara dengan kondisi ekonomi rapuh menghadapi risiko lebih besar.
Baca juga: IRGC: Iran Masih Produksi Rudal, Siap Lanjutkan Serangan
Sri Lanka, Pakistan, dan Mesir sudah mengambil langkah darurat seperti pembatasan bahan bakar, penutupan sekolah, hingga penghematan anggaran.
Khusus Mesir, penurunan pendapatan dari Terusan Suez dan sektor pariwisata semakin memperparah tekanan ekonomi.
Secara keseluruhan, perang Iran tidak hanya berdampak pada kawasan konflik, tetapi juga mengguncang stabilitas ekonomi global.
Negara-negara dengan ketergantungan tinggi pada impor energi dan jalur distribusi seperti Selat Hormuz menjadi yang paling rentan menghadapi krisis berkepanjangan ini.
(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)
Baca juga: Trump Tegaskan Tidak Akan Kirim Pasukan Darat ke Timur Tengah Meski Konflik dengan Iran Memanas