POSBELITUNG.CO--Sebuah unggahan di media sosial Threads mendadak ramai diperbincangkan setelah menyoroti kisah seorang perantau yang disebut memilih tidak menginap di rumah orang tuanya sendiri saat pulang kampung.
Cerita ini menyita perhatian karena alasan yang diungkap dinilai menyentuh sisi emosional hubungan anak dan keluarga.
Dalam unggahan tersebut, perantau itu dikisahkan enggan tinggal di rumah orang tuanya karena kondisi rumah yang masih sederhana dan berlantai tanah.
Cerita ini pertama kali dibagikan oleh akun @viavia2224, yang mengaku prihatin terhadap sikap tersebut.
Baginya, tindakan itu bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan sesuatu yang bisa melukai hati keluarga.
“Jangan sampai kita kayak gini ya. Caranya itu menyakiti perasaan saudara dan kedua orang tua kita,” tulis akun tersebut dikutip TribunTrends Sabtu, 21 Maret 2026.
Sindiran Pedas untuk yang “Lupa Asal”
Tak berhenti di situ, unggahan tersebut juga menyentil fenomena yang kerap terjadi: ketika seseorang merasa telah “berhasil” di perantauan, namun justru mulai menjaga jarak dari kehidupan lamanya.
Nada tulisan berubah menjadi lebih tajam, seolah mengajak pembaca untuk bercermin.
“Ada pula orang pulang dari perantauan tidak mau menginap di rumah orang tuanya atau saudaranya gara-gara rumahnya terbuat dari lantai tanah. Ada uangmu rupanya ya? Kenapa rumahnya tidak kau perbaiki?”
Kalimat ini menjadi pukulan telak bukan hanya untuk sosok yang diceritakan, tetapi juga bagi siapa saja yang mungkin pernah memiliki pola pikir serupa.
Menurut akun itu, keputusan untuk tidak menginap di rumah orang tua bukan sekadar persoalan kenyamanan pribadi, melainkan bisa melukai perasaan keluarga, terutama ayah dan ibu yang telah membesarkan anaknya sejak kecil.
Unggahan itu juga menyentil fenomena sebagian orang yang dinilai berubah setelah merantau dan merasa berhasil.
Ketika sudah memiliki penghasilan atau kehidupan yang lebih mapan, ada yang justru menjaga jarak dari keluarga dan rumah asalnya.
Akun tersebut bahkan melontarkan sindiran keras dengan mempertanyakan mengapa rumah orang tua tidak diperbaiki jika memang sang anak telah memiliki kemampuan secara finansial.
Pesan itu dianggap sebagai kritik tajam bagi siapa pun yang mungkin pernah merasa malu dengan kondisi keluarga sendiri.
Tak butuh waktu lama, unggahan itu langsung dibanjiri komentar warganet.
Banyak yang menyayangkan sikap sang perantau dan menilai bahwa keberhasilan seharusnya tidak membuat seseorang melupakan asal-usulnya.
Sejumlah netizen mengingatkan bahwa rumah orang tua bukan hanya soal bentuk fisik atau kemewahan bangunan.
Lebih dari itu, rumah adalah tempat penuh kenangan, kasih sayang, serta titik awal perjalanan hidup seseorang.
Kisah viral ini pun menjadi refleksi bagi banyak orang tentang arti pulang kampung dan pentingnya menjaga hati orang tua.
Di tengah cerita sukses para perantau, unggahan tersebut mengingatkan bahwa kesuksesan seharusnya menjadi jalan untuk membahagiakan keluarga, bukan justru menjauh dari mereka.
Pada akhirnya, cerita ini tidak hanya berbicara tentang satu orang perantau, tetapi juga menjadi pengingat bahwa setinggi apa pun seseorang melangkah, rumah dan keluarga tetap menjadi tempat kembali yang tak tergantikan.
(TribunTrends/Jonisetiawan)