TRIBUN-MEDAN.com - Presiden Prancis, Emmanuel Macron menyatakan penghentian sementara operasi militer di Timur Tengah dalam perayaan Idulfitri.
Seruan tersebut disampaikan dalam forum pertemuan para pemimpin Uni Eropa yang berlangsung di Brussels.
Dalam pernyataannya, Macron menekankan pentingnya momentum hari raya keagamaan sebagai ruang jeda bagi konflik yang terus berlangsung.
Ia mengajak semua pihak untuk menahan diri dan menghentikan operasi militer, setidaknya dalam beberapa hari, guna membuka peluang bagi dimulainya kembali proses negosiasi.
Menurut Macron, suasana Idul Fitri yang identik dengan rekonsiliasi dan kedamaian seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai titik awal meredakan ketegangan.
Baca juga: KEBERADAANNYA Disorot, Ternyata Gus Yaqut Sudah Jadi Tahanan Rumah, Sempat Disinggung Istri Noel
Baca juga: CURHAT Pilu Jamilah Lihat Anaknya Ditusuk Residivis di Pinggir Jalan, Warga Cuma Nonton dan Videoin
Ia menyebut, penghentian sementara pertempuran dapat menjadi langkah awal untuk membangun kepercayaan di antara pihak-pihak yang bertikai.
Lebih jauh, Pemerintah Perancis juga mendorong diberlakukannya moratorium terhadap serangan yang menyasar warga sipil serta infrastruktur penting.
Langkah ini dinilai krusial untuk mengurangi dampak kemanusiaan yang semakin meluas akibat konflik berkepanjangan di kawasan tersebut.
Macron menegaskan bahwa Perancis secara konsisten mendukung upaya kembali ke meja perundingan.
Ia menyerukan pentingnya dialog sebagai satu-satunya jalan keluar yang berkelanjutan, sekaligus mengingatkan perlunya de-eskalasi guna mencegah konflik semakin meluas.
Di sisi lain, Macron juga menyoroti agar perhatian dunia tidak teralihkan dari krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza.
Ia menilai, situasi di wilayah tersebut membutuhkan respons internasional yang lebih serius, terutama dalam memastikan akses bantuan kemanusiaan bagi warga sipil yang terdampak.
Seruan ini menambah deretan upaya diplomatik yang terus didorong oleh negara-negara Eropa dalam meredakan konflik di Timur Tengah.
Namun, hingga kini, tantangan di lapangan masih besar, seiring kompleksitas kepentingan politik dan keamanan yang melibatkan banyak pihak.
(*/tribun-medan.com)