Kapal Induk AS Menjauh dari Iran, Sempat Dilaporkan Terbakar 
Ansari Hasyim March 22, 2026 01:03 AM

SERAMBINEWS.COM - Kapal induk Amerika Serikat USS Gerald R. Ford yang sebelumnya sempat dilaporkan terbakar bergerak menjauh dari kawasan Iran, memicu pertanyaan apakah hal ini mencerminkan persoalan yang lebih luas dalam militer AS.

Kapal perang tersebut sebelumnya mendukung operasi Amerika melawan Iran di Laut Merah.

Namun, laporan media AS pekan ini menyebutkan bahwa kapal itu akan menuju Yunani untuk perbaikan setelah kebakaran selama 30 jam pada Kamis lalu menghancurkan lebih dari 600 tempat tidur awak kapal.

Insiden itu menambah daftar masalah, setelah sebelumnya pada Januari dilaporkan terjadi gangguan sistem pipa di kapal bernilai US$13 miliar tersebut, yang menyebabkan toilet tidak berfungsi.

Angkatan Laut AS menyatakan kebakaran bermula dari fasilitas laundry kapal, dan penyebabnya masih dalam penyelidikan.

Salah satu skenario yang diperiksa adalah kemungkinan kebakaran sengaja dipicu oleh awak untuk mengakhiri penugasan panjang mereka.

Baca juga: Trump Sebut NATO “Pengecut” karena tak Mau Ikut Perang Lawan Iran

Sejumlah analis di Beijing menilai, apa pun penyebabnya, insiden tersebut berakar dari penggunaan kekuatan militer AS secara berlebihan di seluruh dunia, yang memicu kelelahan sistemik dan krisis internal.

“Jika ini kecelakaan, berarti ada kelonggaran disiplin dan manajemen yang buruk. Jika ini sabotase, itu mencerminkan rendahnya moral dan penolakan personel untuk terus dikirim ke garis depan,” ujar Yue Gang, pensiunan kolonel Tentara Pembebasan Rakyat China.

Ia menambahkan bahwa Angkatan Laut AS saat ini kewalahan dengan penugasan global yang panjang, membuat personel kelelahan secara fisik dan mental, sehingga meningkatkan risiko kesalahan maupun ketidakpuasan.

Yue juga menyinggung insiden lain pada Mei tahun lalu yang melibatkan kapal induk USS Harry S. Truman, ketika jet tempur F/A-18F Super Hornet jatuh ke Laut Merah akibat kegagalan pendaratan. Investigasi menemukan bahwa tingginya tempo operasi dan kekurangan personel terlatih menjadi faktor penyebab.

Penugasan panjang USS Gerald R. Ford—yang telah berlayar hampir sembilan bulan—juga disorot media pemerintah China.

Laporan menyebut misi kapal ini kerap diperpanjang dalam beberapa tahun terakhir. Penugasan saat ini dimulai sejak 24 Juni 2025, lebih lama dibanding misi 2022–2023 yang berlangsung 261 hari.

Pengamat militer Zhang Xuefeng mengatakan bahwa penugasan dengan frekuensi tinggi dan durasi panjang dapat menyebabkan kelelahan personel serta mengurangi waktu perawatan kapal.

Menurutnya, hal itu akan mempercepat keausan kapal dan berpotensi menimbulkan masalah yang lebih besar.

“Jika Angkatan Laut AS menormalisasi model penugasan jangka panjang dengan frekuensi tinggi seperti ini, masalah serius tidak bisa dihindari,” katanya.

Analis militer Wei Dongxu menyoroti bahwa masalah terbaru pada USS Gerald R. Ford justru terjadi di area berteknologi rendah seperti ruang laundry dan toilet—ironis bagi kapal induk nuklir tercanggih di dunia.

Hampir satu dekade sejak dioperasikan, kapal ini masih menghadapi berbagai kendala operasional pada sistem utama seperti katapel elektromagnetik, lift senjata canggih, dan radar dual-band.

Zhang menilai masalah tersebut berkaitan erat dengan melemahnya basis industri pertahanan Amerika, khususnya di sektor galangan kapal.

“Industri pembuatan kapal sipil AS tertinggal jauh dari dunia,” ujarnya.

Pemerintah AS kini berupaya menghidupkan kembali industri galangan kapal, termasuk dengan menggandeng sekutu seperti Jepang, Korea Selatan, dan Finlandia, guna memperkuat kekuatan lautnya dan memperkecil kesenjangan dengan China.

Namun, menurut Zhang, sejumlah teknologi baru pada kapal kelas Ford dinilai terlalu ambisius dan belum matang, mencerminkan kesenjangan antara ambisi besar Amerika dan menurunnya kemampuan industri beratnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.