Singgah Sejenak, Mengenal Palembang Lebih Dekat dari Museum Sultan Mahmud Badaruddin II
Tribun-video March 22, 2026 01:11 AM

TRIBUN-VIDEO — Di tengah riuhnya klakson kendaraan yang memburu waktu berbuka di kawasan Benteng Kuto Besak (BKB), ada sebuah gedung putih yang tampak "anteng" menatap Sungai Musi.

Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II bukan sekadar bangunan kolonial yang instagrammable.

Bagi anak muda Palembang, ia adalah mesin waktu yang menyimpan jawaban tentang siapa mereka sebenarnya.

Cukup dengan tiket hanya Rp 5.000 untuk umum dan Rp 2.000 bagi pelajar—siapa pun bisa masuk ke labirin sejarah yang "deep".

Di sini, masa lalu bukan hanya soal menghafal tahun, tapi soal merasakan getaran emosi yang tertinggal di tiap sudutnya.

Begitu melangkah ke halaman, kita disambut oleh deretan meriam besi yang berjajar gagah.

Meski kini mereka "diam", moncong-moncong hitam itu tetap nanar menatap sungai, seolah masih setia berjaga meski perang telah lama usai.

Meriam-meriam ini adalah saksi bisu perjuangan rakyat Palembang melawan pendudukan kolonial yang sempat meruntuhkan Keraton Kuto Kecil di titik ini pada 1823.

Bagi Anda pemudik atau wisatawan yang ingin menelusuri akar sejarah Kota Palembang tanpa harus berkeliling jauh, Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II adalah destinasi yang tepat.

Cukup melangkahkan kaki ke bangunan bersejarah di tepian Sungai Musi ini, anda bisa langsung menyaksikan perjalanan panjang Bumi Sriwijaya, mulai dari era kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara hingga masa Kesultanan Palembang Darussalam yang heroik.

Pemandu wisata Museum SMB II, Heri, menjelaskan lantai satu museum ini memang dikhususkan untuk membawa pengunjung kembali ke masa keemasan Kedatuan Sriwijaya dan era Kesultanan.

"Di lantai satu, kita bisa melihat peninggalan masa Sriwijaya seperti arca-arca kuno dan prasasti, hingga sejarah Kesultanan. Ini cara paling mudah bagi generasi muda untuk tahu wajah asli Palembang sebelum masuk pengaruh luar," ujar Heri kepada Tribunnews, Selasa (17/3/2026).

Bukan sekadar menyimpan benda kuno, bangunan museum ini sendiri adalah sebuah monumen sejarah.

Heri mengungkapkan fakta unik gedung bergaya kolonial yang kini berusia 203 tahun tersebut berdiri di atas reruntuhan Keraton Kuto Kecil.

"Sebelum gedung ini dibangun pada 1823, di sini berdiri Keraton Kuto Kecil. Namun, Belanda menghancurkannya setelah Sultan Mahmud Badaruddin II diasingkan ke Ternate pada 1821," jelas Heri yang sudah lima tahun menjadi pemandu di sana.

Sebagai bukti pertahanan keraton di masa lalu, pengunjung bisa melihat deretan meriam besi asli peninggalan masa Kesultanan yang berjajar gagah di halaman depan. Meriam-meriam ini menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Palembang melawan pendudukan kolonial.

Selain arca dan meriam, museum ini juga menyimpan artefak kebudayaan di lantai dua, mulai dari siklus hidup masyarakat Palembang hingga alat tenun tradisional.

Lokasinya yang sangat strategis, dekat dengan Benteng Kuto Besak (BKB), menjadikannya tempat favorit untuk wisata edukasi.

Saksikan LIPUTAN KHUSUS selengkapnya hanya di YouTube Tribunnews!

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.