Laporan Wartawan Tribunpalu.com, Ismet
TRIBUNPALU.COM - Masyarakat Kepulauan Togean terus melestarikan tradisi turun-temurun berupa Montunu Lamang atau bakar nasi bambu yang menjadi bagian penting dalam perayaan hari besar keagamaan.
Hususnya masyarakat suku Bobongko.
Tradisi Montunu Lamang biasanya dilaksanakan dua kali dalam setahun, yakni pada Hari Raya Idul fitri dan Idul adha.
Kegiatan ini telah menjadi kebiasaan yang melekat kuat dalam kehidupan masyarakat setempat.
Montunu Lamang merupakan cara memasak beras ketan putih menggunakan bambu muda sebagai wadah.
Prosesnya dimulai dengan melapisi bagian dalam bambu menggunakan daun pisang, kemudian diisi beras ketan putih yang telah dipersiapkan.
Selanjutnya, bambu-bambu tersebut disusun di atas kayu panjang yang di sebut sebagai bararan atau kayu penyangga di pasang melintang.
Baca juga: Manajemen Liga Inggris Unggah Ucapan Idulfitri Berlatar Masjid Raya Baitul Khairaat Palu
Lalu di bakar menggunakan kayu bakar.
Proses pembakaran ini memerlukan waktu cukup lama, bahkan hingga berjam-jam, sampai ketan di dalamnya matang sempurna.
Selain sebagai hidangan khas, Montunu Lamang juga sarat makna kebersamaan dan gotong royong.
Proses pembuatannya yang memakan waktu panjang biasanya dilakukan secara bersama-sama oleh warga, sehingga menjadi momen mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Hingga kini, tradisi Montunu Lamang tetap dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya leluhur yang kaya akan nilai kebersamaan dan kearifan lokal.(*)