TRIBUNJABAR.ID - Beberapa waktu lalu, kasus seorang anggota linmas dibacok residivis di Sumedang, viral di media sosial.
Diketahui anggota linmas tersebut dibacok pelaku diduga kesalahpahaman.
Berdasarkan informasi dari kepolisian, kronologi insiden itu bermula ketika dua hari sebelum terjadi pembacokan, pelaku memalak korban sejumlah uang saat sedang melakukan pengaturan lalu lintas.
Pelaku bernama Agus merupakan residivis yang merasa lahan parkirnya diambil alih.
Padahal, anggota linmas itu berada di kawasan itu untuk membantu masyarakat menyeberang.
Baca juga: Muncul di Lebaran 2026, Ridwan Kamil Maafkan dan Doakan Pembuat Konten Hoaks
Namun, niat tulus tersebut berbuah petaka pada suatu hari saat ia sedang menjalankan tugas piket desa.
Agus mendatangi anggota linmas itu dan melontarkan tuduhan palsu telah melakukan pungutan liar (pungli) parkir.
Kesalahpahaman ini dipertegas oleh keterangan Bu Jamilah, ibu pelaku, yang menyatakan bahwa anggota linmas itu murni membantu warga dan tidak pernah meminta uang parkir.
Ketegangan memuncak ketika Agus atau pelaku menarik paksa anggota linmas tersebut.
Karena mencoba membela diri dengan mendorong pelaku, pria tersebut justru mencabut senjata tajam dan menyerang Pak Deni secara membabi buta.
"Waktu itu saya refleks melawan karena ditarik-tarik," ujar Pak Deni saat menceritakan kembali peristiwa tersebut.
Akibat serangan tersebut, korban menderita luka bacok serius di bagian kepala yang memerlukan 19 jahitan.
Kasus ini menarik perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi berkesempatan menghubungi anggota linmas yang menjadi korban itu melalui sambungan video call, dikutip dari tayangan Youtube-nya, Minggu (22/3/2026).
Saat itulah diketahui sosok anggota linmas tersebut yang berdedikasi.
Diketahui anggota linmas yang menjadi korban pembacokan oleh residivis di Sumedang itu bernama Deni Nugraha.
Ia merupakan seorang anggota Perlindungan Masyarakat (Linmas) di Desa Sayang, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang.
Di balik perannya menjadi anggota linmas, ia menyimpan kisah dedikasi yang luar biasa.
Meski hanya menerima honor sebesar Rp100.000 per bulan dari pihak desa, semangatnya untuk melayani masyarakat tidak pernah luntur.
Deni telah mengabdi selama tiga tahun sebagai Linmas.
Ia merupakan seorang duda yang menghidupi dirinya dan anak-anaknya.
Selain menjadi anggota linmas, ia juga bekerja sebagai petugas keamanan di Perumahan Ikopin.
Baca juga: Teguran Keras Dedi Mulyadi ke Pramusaji saat Bagi-bagi Santunan di Gedung Pakuan
Di sela-sela waktu senggangnya, ia kerap terlihat di jalanan bukan untuk mencari keuntungan pribadi, melainkan membantu warga menyeberang jalan, terutama di titik-titik kemacetan.
Kisah Deni Nugraha anggota linmas ini menjadi cerminan nyata mengenai risiko tinggi yang dihadapi petugas di lapangan, meski dengan apresiasi finansial yang sangat minim.
Di akhir dialognya dengan Dedi Mulyadi, sebagai bentuk apresiasi Deni menerima bantuan sebesar Rp3 juta dari Gubernur Jawa Barat tersebut.
Uang tersebut diberikan Dedi Mulyadi sebagai pengganti biaya pengobatan.
Deni juga mendapatkan pesan dari Dedi Mulyadi untuk tetap semangat menjalankan tugasnya sebagai penjaga lingkungan.
Meski baru saja mengalami trauma fisik dan mental, sosok Linmas ini diingatkan untuk tetap teguh pada integritasnya dan tidak tergiur melakukan pungli di jalanan—sebuah prinsip yang selama ini memang selalu ia pegang teguh.